Menularkan motivasi dari sudut kompleks Stadion Jatidiri

"Pak, apa itu Paragames?" tanya seorang siswi kepada gurunya terdengar cukup jelas di salah sudut tribun penonton gelanggang renang Stadion Jatidiri Semarang, di suatu pagi.

Pertanyaan itu langsung dijawab spontan oleh sang guru, Yoga Giri RS dari Sekolah Dasar Negeri Jomblang 03 Semarang bahwa Paragames adalah ajang olahraga untuk orang difabel.

"Apa itu difabel, Pak?" sahut siswi lain ingin tahu. Yoga menjawab bahwa difabel adalah orang yang berkebutuhan khusus, seperti penyandang tunanetra, tunarungu, dan sebagainya.

Siswa-siswa itu berasal dari sekolah tempat Yoga mengajar, yang diajak ke Stadion Jatidiri untuk mendukung atlet Indonesia yang sedang berlaga pada ASEAN Para Games 2022.

Selain di Solo Raya, perlombaan ASEAN Para Games 2022 juga digelar di Kota Semarang, tepatnya di Stadion Jatidiri, khusus untuk cabang olahraga para-renang.

Itulah sebabnya, gelanggang renang Stadion Jatidiri lebih dari sepekan ini riuh ramai. Ada perhelatan olahraga terbesar se-Asia Tenggara bagi atlet-atlet penyandang difabel.

Baca juga: Ahmad Azwari dapat dukungan spesial dari anak istri di para-renang

Deretan bangku penonton di arena olahraga itu pun dipenuhi siswa berseragam putih merah yang berasal dari berbagai SD di Kota Atlas.

Tak hanya SDN Jomblang 03, beberapa sekolah lain, seperti SDN Lamper Lor, SDN Wonodri, SDN Tinjomoyo 01, SDN Ngesrep 02, dan SDN Peterongan Semarang juga hadir.

Sudah sejak hari pertama perlombaan para-renang dimulai, Senin (1/8) lalu, siswa SD datang silih berganti. Namun, suasana di tribun penonton kian hari semakin meriah dengan tambahan pasukan suporter yang datang membawa alat tetabuhan.

"Yo Ayo... Indonesia harus menang," sorak penonton yang menggema dari tribun penonton berpadu dengan irama tetabuhan khas suporter sepak bola, tak terkecuali bocah-bocah itu.


Motivasi

Di sudut lain tribun penonton, M Rasyid dari SD Tinjomoyo 01 Semarang tampak menyimak pertandingan, sembari terkadang bercakap dengan kawan dan gurunya.

Sesekali pertanyaan juga mencuat dari siswa saat perlombaan tengah berlangsung. Sang guru pun sabar menjawab dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Guru olahraga SDN Tinjomoyo 01 Semarang Rifqi Najmuddin Najib menyampaikan bahwa sekolah memang mendapatkan arahan untuk mengajak siswa menonton pertandingan ASEAN Para Games 2022.

"Karena kebetulan ada yang di Semarang, kami diminta mengajak anak-anak menonton. Ada 12 siswa kami ajak dari kelas V dan VI," kata Rifqi.

Mereka datang tak sekadar mendukung kontingen, tetapi kehadiran siswa-siswa SD juga untuk diharapkan belajar mengenai nilai-nilai kehidupan yang bisa diambil dari gelaran ASEAN Para Games 2022.

Baca juga: Bayu Putra raih emas para-renang di laga debut internasionalnya

Ada banyak nilai yang bisa dipetik dari pergelaran olahraga akbar itu, seperti kesetaraan, simpati, semangat, dan termasuk rasa syukur atas anugerah yang diberikan oleh Tuhan.

"Anak-anak kami ajak untuk bersyukur dan memahami bahwa semua ciptaan Allah SWT mempunyai keunggulan masing-masing," kata Rifqi.

Terbukti, para atlet ASEAN Para Games 2022 dengan berbagai kondisi disabilitas ternyata bisa menekuni beragam cabang olahraga, termasuk renang yang belum tentu semua orang bisa.

Bagus Putra, guru olahraga SDN Srondol Wetan 05 Semarang juga mengingatkan anak didiknya untuk belajar mengenai rasa syukur melalui ajang ASEAN Para Games 2022 yang mereka tonton langsung.

Ada 15 siswa yang semuanya duduk di kelas V yang diboyongnya di stadion kebanggaan masyarakat Kota Semarang itu untuk menyaksikan talenta hebat olahraga Indonesia berlaga.

<em>Siswa-siswi SD memberikan dukungan kepada atlet yang berlaga di ajang ASEAN Para Games 2022 yang berlangsung di Stadion Jatidiri, Semarang, Senin (1/8/2022). (ANTARA/Zuhdiar Laeis)</em>
Siswa-siswi SD memberikan dukungan kepada atlet yang berlaga di ajang ASEAN Para Games 2022 yang berlangsung di Stadion Jatidiri, Semarang, Senin (1/8/2022). (ANTARA/Zuhdiar Laeis)

Pupuk semangat

Masih kata Bagus, ajang tersebut juga bisa memupuk prestasi para siswa, sebab para atlet yang notabene difabel ternyata bisa mencatatkan prestasi yang membanggakan bagi negara.

Ada pula atlet penyandang tunadaksa dengan kondisi tidak memiliki tangan dan hanya memiliki kedua kaki, tetapi ternyata bisa berenang dengan sangat lincah.

"Saya katakan, 'Bapak saja belum tentu bisa berenang seperti mereka'. Mereka ini atlet-atlet yang hebat," pesan Bagus kepada siswa-siswanya.

Sebut saja Jendi Pangabean, atlet penyandang tunadaksa yang kehilangan salah satu kakinya akibat kecelakaan, namun paralimpian andalan Indonesia itu mampu menyapu bersih lima medali emas sekaligus di ajang ASEAN Para Games 2022.

Bahkan, Jendi sudah malang melintang di berbagai kejuaraan olahraga tingkat dunia, termasuk Paralimpiade Rio 2016 dan Paralimpiade Tokyo 2020.

Baca juga: Jendi Pangabean sapu bersih lima medali emas para-renang

Sebenarnya masih banyak lagi deretan nama atlet andalan Indonesia di ASEAN Para Games 2022 yang memiliki segudang prestasi, sekaligus menyabet medali di ajang tersebut, seperti Syuci Indriani, Aris Wibawa, atau Zaki Zulkarnain.

Soal semangat, Rifqi menimpali bagaimana pentingnya meneladani semangat juang yang dimiliki para atlet difabel pada ajang olahraga internasional itu.

"Melalui ajang ini, kita lihat bagaimana semangat hidup. Semangat juang mereka untuk berprestasi," ujar Rifqi.

Bagaimanapun juga, pendidikan bisa didapatkan melalui sarana apa saja dan di mana saja. Pendidikan bukan hanya berlangsung di ruang kelas tertutup, tetapi dalam kehidupan langsung.

Upaya mengajak para pelajar, terutama siswa SD untuk menonton APG 2022 adalah salah satu langkah efektif untuk menanamkan banyak nilai luhur kepada generasi muda sejak dini.

Baca juga: Zaki Zulkarnain gondol emas para-renang meski sempat terkendala cuaca

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel