Menunda Pernikahan karena Pandemi, Sedih tapi Ini Keputusan Terbaik

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: Giacinta Putri

Tanggal 9 Juli 2021, haria itu sudah diperkirakan menjadi hari baik kami setelah satu tahun berpacaran. Aku tidak pernah berespektasi proses akan secepat itu. Di dalam pikiranku selalu kutanamkan hal-hal positif untuk terjadi sesuai kehendak-Nya.

Tak kusangka persiapan yang cukup matang di tengah pandemi dan juga lonjakan kasus covid-19 harus memundurkan segalanya. Banyak firasat yang datang jika tetap diadakan hari itu tak baik adanya. Teman baik yang positif covid-19, MUA yang positif covid-19, area gereja yang lockdown dan bahkan keluarga dari kedua belah pihak yang tidak mendukung pernikahan kami.

Betapa sakitnya ketika salah satu teman di tempat kerja mengucapkan penikahan kami batal. Sangat sensitif sekali dengan kata batal dan ditunda, karena di saat orang membicarakan ini banyak yang harus kami korbankan. Kami hancur dan terluka, tapi kami berpikir semua demi kebaikan keluarga kedua belah pihak. Toh, pernikahan di Indonesia bukan seputar kedua pengantin melainkan menyatukan keluaga kedua belah pihak. Tidak mudah menerima itu di situasi yang demikian.

Pernikahan yang Ditunda

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/lookstudio
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/lookstudio

Sebagai perempuan dari suku Jawa, mereka punya andil dalam mewujudkan pernikahan. Orang tuaku bukan orang Jawa yang harus mengikuti adat istiadat. Kami menikah tanpa adat dan hanya mengadakan syukuran di restoran saja setelah pemberkatan dilakukan.

Tidak ada yg mencolok dari pernikahan kami dengan tamu teman terdekat dan juga keluarga menaati seluruh protokol yang berlaku. Idealisme dalam diri mengenai pernikahan harus kubuang dan aku harus menuruti perkataan keluarga demi menjaga kesehatan keluarga kami.

Situasi ini adalah sulit, tapi mendewasakan kami, memberi kami kesempatan untuk mengenal satu sama lain lebih lama. Menantikan jodoh yang seiman, seamin, dan sefrekuensi bukanlah hal yang mudah bagiku. Di sini aku menjadi lebih kuat bertahan dan lebih yakin sama-sama berjalan. Situasi ini bukan kita yang menginginkan melainkan Tuhan ingin kami sama-sama bersabar menunggu waktu Tuhan. Karena waktu Tuhan itu tidak cepat dan tidak lambat, tapi tepat.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel