Menunggu di Gerbang Istana Yogya Demi Salat Idulfitri Bersama Jokowi

Merdeka.com - Merdeka.com - Warga diizinkan mengikuti Salat Idulfitri 1443 Hijriah bersama Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana di halaman Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta, Senin (2/5). Namun jumlahnya terbatas.

Warga menunggu cukup lama di depan gerbang Istana Kepresidenan di Yogyakarta untuk mengikuti Salat Id. Sebagian dari mereka akhirnya diizinkan bergabung dengan Presiden Jokowi dalam Salat Idulfitri di kawasan pusat Kota Yogyakarta itu.

Dilaporkan Antara dari depan gerbang Gedung Agung Yogyakarta, Presiden Jokowi melaksanakan Salat Idulfitri 1443 Hijriah di halaman Istana Kepresidenan Yogyakarta yang dimulai sekitar pukul 06.30 WIB.

Tampak di saf paling depan Presiden Joko Widodo mengenakan kemeja putih dengan sarung lengkap dan berpeci berwarna hitam.

Bertindak sebagai imam dan khatib, Kepala Kantor Wilayah Kemenag DIY Masmin Afif dengan tema khotbah bertema "Solidaritas Sosial di masa Pandemi".

Antusias Warga

Ditemui seusai Salat Id, seorang warga Jombor, Kabupaten Sleman, DIY, Kusmargono (54), mengaku sengaja mencari informasi lokasi pelaksanaan Salat Id bersama Presiden Jokowi.

Dia mengaku telah menunggu pelaksanaan Salat Id di depan gerbang Gedung Agung sejak pukul 05.30 WIB.

"Alhamdulillah bisa Shalat Id bareng Pak Presiden. Meski saya warga biasa ternyata bisa masuk dengan peraturan tidak terlalu ketat," ujar dia.

Seorang warga Janti, Kabupaten Bantul, Suparman (38), mengaku lega diperbolehkan Shalat Id bersama Presiden Jokowi karena sejak lama mengidolakan mantan Wali Kota Surakarta itu.

Menurut dia, informasi pelaksanaan Salat Id bersama Presiden didapatkan dari rekannya yang bekerja di Istana Kepresidenan Yogyakarta.

"Senang sekali karena dari dulu mengidolakan Pak Jokowi," ujarnya.

Kepala Kanwil Kemenag DIY Masmin Afif mengaku dihubungi pihak Protokol Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta untuk menjadi imam dan khatib Salat Idulfitri 1443 Hijriah beberapa hari sebelum Presiden Joko Widodo tiba di Yogyakarta pada Sabtu (30/4).

Tema khotbah "Solidaritas Sosial di masa Pandemi" ia pilih menyesuaikan dengan konteks Idul Fitri tahun ini yang masih dirayakan dalam suasana pandemi COVID-19.

Dia mengatakan Ramadan yang sudah dilalui umat Islam selama 30 hari merupakan sarana mengamalkan dan mengaktualisasikan nilai-nilai kehidupan, meliputi pengendalian hawa nafsu serta solidaritas sosial.

"Menjadi orang-orang yang bertakwa adalah bermanfaat untuk keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Dan orang-orang yang bertakwa adalah orang yang bisa memberikan kontribusi positif terhadap suasana di sekitar kita," ujar dia. [noe]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel