Menunggu Restu SBY Pengganti Anas Urbaningrum

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Atmosfer politik Partai Demokrat terus beubah, dan cenderung memanas. Ditargetkan, dalam waktu kurang dari satu bulan, sebelum 9 April, partai ini akan memiliki ketua umum.

Menariknya bukan melalui mekanisme penunjukan pelaksana tugas, melainkan pemilihan ketua umum defenitif melalui kongres luar biasa.

Isu beredar, Ketua Majelis Tinggi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan menunjuk calon, dan forum tinggal mengamini, terpilih aklamasi.

Skenario persetujuan aklamasi untuk menghindari bola liar, pemilihan langsung dengan pemungutan suara atau voting yang tidak terkendali, yakni kemenangan Anas Urbaingrum pada kongres Demokrat di Bandung, Mei 2010.

Demikian disampaikan Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat Jero Wacik, dan Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bathoegana Siregar kepada TRIBUNnews.com, Minggu kemarin (10/3/2013).

"Yah, kita lihat polanya. Kita akan melihat pola yang terbaik bagi demokrasi kita," kata Jero Wacik.

Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat SBY memanggil Jero Wacik ke kediamannya di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Sabtu lalu. SBY meminta Jero mempersiapkan KLB sebelum 9 April 2013, batas waktu penyerahan daftar caleg sementara (DCS) DPR RI diserahkan ke KPU.

Namun kapan dan di mana KLB digelar, Jero tidak menjelaskan. "Pokoknya KLB sebelum 9 April," kata dia.

Orang kepercayaan SBY ini mengatakan pilihan akhirnya jatuh dengan menggelar KLB Demokrat untuk memperoleh ketua umum yang baru, bukan dengan menunjuk pelaksana tugas (Plt) ketua umum. "Ini sesuai AD/ART-nya (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) partai Demokrat," kata Wacik.

Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bhatoegana menegaskan pemilihan ketua umum Demokrat melalui cara aklamasi sangat tepat dilakukan dalam KLB. "Aklamasi bukan masalah karena bagian dari demokrasi. Pak SBY terpilih sebagai ketua Dewan Pembina Partai Demokrat dua kali ketika Kongres di Bali dan Bandung. Hasilnya bagus," kata Sutan.

Menurut dia pemilihan ketua umum Demokrat melalui cara yang terlalu liberal seperti voting terbuka bisa berdampak kurang bagus terhadap partai. "Ekses politiknya tinggi seperti money politics yang tinggi," kata salah satu pendiri Partai Demokrat ini.

Menurutnya pemilihan ketua umum Demokrat melalui aklamasi tidak melanggar AD/ART dan bisa dibahas dalam Tata Tertib Kongres Demokrat. Dia menyebut dalam Kongres ketika hendak memilih ketua umum yang baru akan dibahas pula kriteria calon ketua umum Demokrat. "Misalnya calon harus dari kader partai, bukan orang luar," kata Sutan.

Setelah itu, mungkin akan terjaring 2-3 calon ketua umum dalam KLB. Kemudian diteliti oleh Majelis Tinggi siapa yang paling berkompeten untuk melanjutkan kepemimpinan partai. "Mereka yang mencalonkan dipanggil dan dibicarakan dalam forum dan muncul kompromi siapa yang bisa satu orang paling kompeten memimpin partai," kata Sutan.

Dengan cara itu, Sutan mengatakan pemilihan ketua umum Demokrat dalam KLB tidak liar dan tertib. "Nanti Komisi Pengawas Demokrat akan melihat cara yang terbaik sebab pengalaman Kongres sebelum-sebelumnya sangat liar," kata Sutan.

Mantan Wakil Ketua Direktur Eksekutif Partai Demokrat, M Rahmad, mengatakan mekanisme pemilihan ketua umum Demokrat ditentukan peserta kongres yang hadir. "Pemilihan melalui cara aklamasi sesuatu yang halal dilakukan," kata loyalis Anas ini kemarin.

Menurut dia tepat keputusan Majelis Tinggi melaksanakan KLB Demokrat memilih ketua umum defenitif sebab dalam AD/ART partai ketua umum hanya bisa diganti melalui kongres atau kongres luar biasa (KLB). "Namun loyalis Anas tentu akan segera menyusun strategi pemenangan," kata Rahmad.

Seperti diketahui, setelah SBY yang menjabat Presiden sejak 2004, mengambil alih kendali Partai Demokrat dari tangan Anas, 8 Februai lalu. Anas menyatakan mundur sebagai Ketua Umum setelah ditetapkan oleh KPK menjadi tersangka kasus korupsi Proyek Hambalang. Qodir/Ferdinand

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.