Menyembuhkan Luka Hati dengan Kembali Mencintai Diri Sendiri

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Rhey Kanakava

Sejujurnya aku lupa rasanya jatuh cinta, bagaimana rasanya tiba-tiba pipi mengembang tersenyum membaca pesan kecil bernada gombal atau sensasi perut tergelitik seperti banyak penulis novel bilang like butterflies in stomach ketika secara tidak sengaja saling berbagi tatapan. Mustahil rasanya, aku bahkan sangat yakin untuk tidak akan menapaki jejak itu lagi setelah sekian lama aku merasa nyaman dan menikmati kedamaian dengan sendiri. Trauma akan percintaan membuat aku meragukan banyak hal termasuk apakah aku akan memercayai lagi sosok laki-laki atau apakah hubungan selanjutnya ini menjadi salah satu hubungan yang patut diperjuangkan. Setelah aku merasa lelah berjuang demi suatu hubungan yang maha sakral tapi akhirnya berakhir juga dengan perceraian.

Tampaknya aku memang tidak beruntung dalam masalah percintaan. Semakin aku berharap mendapatkan cinta dengan caraku sendiri kok rasanya malah tambah tidak karuan. Kebutuhan mempunyai pasangan sebanding juga dengan perasaan tidak menginginkannya. Kalau saja mendiang Didi Kempot menggelar konsernya lagi, mungkin aku jadi salah satu sobat ambyar yang berjoget ria sambil bernyanyi melepas gundah gulana. Caraku mencari cinta dengan tergesa-gesa tanpa tahu apa arti cinta dan apa tujuan mencintai yang aku inginkan, sepertinya hanya sebagai ajang mendapatkan pengakuan bahwa aku sudah move on dari kisah cinta yang berakhir di Januari.

Kembali Mencintai Diri Sendiri

ilustrasi./copyright By N U S A R A (Shutterstock)
ilustrasi./copyright By N U S A R A (Shutterstock)

Dimulai belajar jujur kepada diri sendiri untuk mengetahui seperti apa cinta yang aku mau, bagaimana aku ingin seseorang yang terkasih memperlakukanku nanti, dan aku tidak mau kembali kehilangan diri karena saking cintanya dengan seseorang yang mengaku mencintaiku namun berbuat sebaliknya. Kalau ingat rasanya pernah jadi budak cinta yang memaklumi segala perlakuan seseorang di masa lalu, ingin rasanya aku kembali dengan mesin waktu.

Menoyor keningku sendiri dan membisikkan kata betapa bodohnya aku menyia-nyiakan kesempatan dicintai dan mencintai dengan layak. Tidak memungkiri dari kejadian itu, aku mendapatkan banyak hikmah untuk memperbaiki diri. Hingga nanti ada saat yang tepat menemukan seseorang yang akan tetap tinggal dan menggenggam erat tanganku meskipun raga ini sepaket dengan kesalahan dan kekurangan yang aku buat. Seseorang yang tepat di saat yang tidak akan terlambat.

Kisah cinta yang sekarang aku jalani adalah contoh kisah klasik someone’s soul searching yang berubah menjadi soul healing. Belajar kembali mencintai diri sendiri setelah banyak hal yang sudah aku korbankan. Berhenti meminta untuk hal-hal yang aku inginkan kemudian mengubah haluan untuk percaya semua pada jalan Allah, Sang Maha Cinta. Kalau sendiri saja aku tidak cukup bisa mencintai diri sendiri, bagaimana aku bisa mencintai orang lain nanti. Because true love stories never have endings, I just need to find where the start is. It might take time, but iIm sure God’s choice is the best among the good choices. Bismillah, I’m ready.

#ElevateWomen