Menyiapkan Pernikahan dengan Pesta Adat Batak, Semesta pun Turut Berbahagia

·Bacaan 15 menit

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: Gloria Fharida Angelia

"Will you marry me?” Satu kalimat yang telah mengubah kehidupanku. Masih teringat jelas saat seorang pria dengan posisi kaki yang berlutut dan kedua tangan memegang sebuah kotak berisi cincin berhasil membuat perasaan wanita di hadapannya sungguh bergejolak.

Aku tidak menyangka akan dilamar di tahun kelima kami berpacaran. Perasaan haru, senang, cemas, takut, semua bercampur menjadi satu. Karena yang ada di dalam pikiranku adalah ketika seseorang sudah dilamar, makin dekatlah dia dengan pintu pernikahan.

Sudah siapkah aku menikah? Hidup dalam satu atap bersama laki-laki yang memang pilihanku sendiri. Memanjatkan sebuah doa dalam hati agar Sang Pencipta memberikan keyakinan hingga terucaplah dari bibir ini, “Yes, I will,” dengan nada yang bergetar. Aku memeluknya sambil menangis. Pria yang kini telah resmi menjadi suamiku.

Pertemuan Dua Keluarga

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/KhrystynaShynkaruk
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/KhrystynaShynkaruk

Satu bulan berlalu setelah diri ini dilamar secara pribadi, tibalah waktu di mana pihak keluarga inti kekasih datang ke rumah dengan niatan untuk membicarakan rencana pernikahan. Kami berasal dari suku yang sama dan sudah mengetahui bagaimana alur pesta adat dalam pernikahan nantinya.

Pertama dirundingkan dahulu pesta akan diurus di pihak siapa. Oh ya dalam pernikahan adat Batak, keluarga calon mempelai pria dan calon mempelai wanita harus menentukan pesta akan diserahkan ke pihak laki-laki atau perempuan.

Seperti halnya aku, karena kedua orangtua sepakat pesta di pihak perempuan, maka nominal sinamot atau biasa disebut mahar yang diberikan akan lebih besar dibanding ketika pesta dibuat dari pihak laki-laki dan pihak keluarga mempelai pria harus menerima bagaimanapun pesta dibuat nantinya.

Saat sudah tercapai kesepakatan barulah dibicarakan hal lain seperti rencana tanggal pernikahan, gedung pernikahan, dan alur prosesi pesta adat nantinya. Aku ingat saat itu menjawab ingin menikah di tanggal cantik, tanggal 18 Agustus 2018.

Tercetus pertanyaan dari pihak keluarga kekasih, “Jika di tanggal itu sudah ada yang booked di gedung yang kalian pilih, tanggal berapa yang akan jadi opsi lain?” Aku dengan yakin menjawab, “Ya sudah seminggu setelah tanggal delapan belas aja, yang penting menikah di bulan Agustus."

Persiapan Awal

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/shanti108
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/shanti108

Aku tidak tahu harus memulai dari mana, untunglah ada sosok kakak perempuan yang memberikan masukan. Persiapan pernikahan dimulai dari menelepon satu-persatu gedung yang sudah masuk dalam daftar keinginan bapak untuk memastikan apakah di tanggal yang aku pilih masih kosong.

Tak sedikit calon pengantin yang berasal dari suku Batak melakukan booked gedung pernikahan satu tahun sebelum tanggal pernikahan mereka. Setelah itu pikiranku langsung tertuju untuk mencari MUA (Make Up Artist) dari instagram.

Sepuluh nama MUA sudah masuk dalam list. Kemudian aku perkecil lagi menjadi lima setelah mencari referensi dari orang-orang yang pernah menggunakan jasa mereka, selanjutnya tiga, sampai akhirnya terpilih satu MUA yang pas dengan kriteriaku. Penting untuk mencari MUA terbaik asal sesuaikan dengan budget yang dimiliki ya.

Beralih ke pemusik. Sejujurnya aku tidak paham tentang vendor pemusik Batak yang biasa ada di pesta pernikahan. Mencari informasi lewat keluarga, dunia maya, dan bertanya pada teman-teman yang sudah menikah lebih dulu, ada satu nama pemusik yang cukup terkenal di kalangan pesta pernikahan adat Batak.

Sayang sekali saat aku hubungi rupanya mereka sudah memiliki jadwal untuk mengisi acara pernikahan lain. Tidak putus asa, aku mencari lagi referensi pemusik dan dapatlah satu nama grup. Setelah aku booked, aku informasikan kepada kedua orangtua dan pasanganku juga. Bapakku tidak terlalu peduli vendor pemusik mana yang terpenting adalah musik yang dibawa harus dengan aliran gondang Batak.

Makanan Bisa Jadi Sumber Komentar

Saat datang ke acara resepsi pernikahan dan mencicipi makanan yang disajikan, tak jarang aku mencari tau catering apa yang dipakai. Pernah suatu hari aku dan pasangan datang menghadiri pesta pernikahan seorang teman dan kami benar-benar menikmati hidangan yang disajikan. Rasanya sangat menggugah selera.

Aku bergumam dalam hati, jika tiba waktu untuk menikah, mungkin catering ini bisa dijadikan salah satu referensi. Entah mengapa aku merasa makanan bisa menjadi salah satu sumber dari komentar seseorang atas pesta yang didatangi. Jika dirasa enak, dari mulut ke mulut akan terdengar juga dan sebaliknya.

Bukan hanya rasa tapi juga jumlah porsi makanan yang disediakan. Seperti aku yang memiliki prinsip jangan sampai terjadi jumlah tamu yang diundang banyak namun makanan yang disajikan kurang. Mungkin orang tidak langsung membicarakan di depanmu tapi bisa jadi mereka akan mengungkit di lain waktu.

Kembali ke rencana pernikahanku, ibu menolak menggunakan catering yang aku referensikan karena dia sudah memilih catering teman gerejanya dan kebetulan satu rekanan dengan gedung pernikahanku. Apa boleh buat, aku hanya mengiyakan sambil berharap tidak akan ada masalah dengan catering pilihan ibu. Sedih tapi ya sudalah. Ibu... tapi mauku bukan itu.

Salah satu vendor yang aku anggap sangat penting. Bukan berarti vendor lain tidak. Tapi vendor ini seperti menguasai separuh dari isi kepalaku. Ya dia adalah vendor dokumentasi. Aku pernah membaca sebuah quotes seseorang.

“Manusia bisa menua, tempat bisa berubah, kita bisa melupakan. Karena itulah kamera digunakan, untuk merekam hal-hal yang tidak dapat diingat manusia dengan sempurna.”

Aku bukan orang yang paham benar tentang fotografi tapi aku memiliki keinginan untuk menggunakan jasa vendor dokumentasi yang sudah lama kuincar bahkan dari sebelum mempersiapkan pernikahan ini.

Banyak hal yang dipertimbangkan terutama dari kualitas layanan yang diberikan. Juga hasil foto dan video yang terlihat estetik dari segi pengambilan gambar. Kalian tahu jika nasi sudah menjadi bubur? Itulah yang aku alami.

Ibuku sudah menentukan vendor dokumentasi tanpa menanyakan pendapatku terlebih dahulu. Dia memilih memakai vendor dari salah satu temannya. Beralasan tidak enak karena sudah berjanji akan menggunakan jasa mereka mau tidak mau aku harus menerima. Menerima dengan hati yang sangat berat lebih tepatnya.

Terjadi adu argumen dan sempat ‘ku katakan jika momen dokumentasi ini sangat penting bagiku karena setiap gambar yang diambil atau direkam tidak akan pernah bisa diulang lagi. Namun apa daya, nasi yang telah menjadi bubur hanya bisa dinikmati jika ditambahkan ayam, kacang, kecap, dan sambal, bukan? Berharap pilihan ibuku tidak akan salah walaupun tidak dapat dipungkiri ada rasa kecewa kala itu.

Demi Badan Proporsional

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/sonjachnyj
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/sonjachnyj

Perasaan yang menggelitik saat mengingat masa persiapanku dulu. Kalau kalian pernah membaca kalimat pria dan wanita bak raja dan ratu sehari di hari pernikahannya, mungkin hal itu benar.

Setiap mata tamu yang datang akan langsung tertuju pada sepasang pengantin. Kemudian disadari atau tidak, mereka akan memberikan penilaian atas apa yang dilihat.

Suatu hari aku pernah menggerutu di depan cermin. Melihat wanita dengan bobot tubuh yang jauh dari kata proporsional. Berpikir apakah wanita ini akan terlihat cantik mengenakan kebaya di hari pernikahannya? Oh Tuhan aku merasa insecure saat itu.

Kuharap masih ada waktu untuk berusaha. Cara yang aku lakukan waktu itu adalah mengatur pola makan, jam tidur yang cukup, dan mendaftarkan diri di tempat fitness demi menaikkan berat badanku.

Satu hal yang aku pahami sekarang, terkadang ada hal-hal yang memaksamu untuk berubah bukan untuk orang lain namun demi kepuasan dirimu sendiri. Persiapan pernikahanku dalam hal pakaian juga sudah mulai berjalan.

Bahan kebaya yang dibeli langsung diserahkan ke tukang jahit dan tinggal menunggu waktu untuk fitting. Tukang jahit ini juga referensi dari beberapa temanku dan untungnya tidak ada penolakan dari keluarga intiku untuk menggunakan jasanya. Dia hanya memintaku untuk percaya bahwa pakaian yang akan aku kenakan akan dijahit dengan penuh cinta.

Sesuatu yang Bermanfaat

Sore itu saat duduk menikmati segelas teh hangat, bergetar handphoneku tanda sebuah pesan masuk. Aku tersenyum saat membaca isinya. Kakakku mengirimkan beberapa foto contoh souvenir pernikahan.

Tak disangka, dia juga berjanji akan membayar souvenir pernikahanku. Dia bilang anggap saja itu kado pertama darinya. Awalnya aku menolak karena merasa tidak enak, namun dia memintaku untuk mengiyakan saja permintaannya.

Aku mulai menimbang-nimbang souvenir apa yang sekiranya tidak terlalu mahal tapi bisa berguna untuk mereka yang menerimanya. Pilihanku jatuh pada sebuah pouch dengan pilihan warna coklat dan hitam.

Setelah survey beberapa tempat ditemani calon suamiku, akhirnya kami menemukan satu lokasi pembuatan souvenir dengan kualitas yang bagus tapi harga masih terjangkau. Dihadiahi pembelian souvenir oleh kakakku, mungkin ini salah satu cara Sang Pencipta mengobati kesedihanku atas sesuatu yang pernah aku pilih namun mendapat penolakan dari orang terdekat.

Air Mata yang Menetes di Balik Layar Komputer

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Summerloveee
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Summerloveee

Seseorang yang aku ceritakan bahwa aku akan menikah selain dari keluarga inti adalah sahabatku sedari duduk di bangku perkuliahan. Di balik wajahnya yang tersenyum, terlihat sinar mata berkaca-kaca ketika aku mengatakan akan menikah dengan laki-laki yang namanya selalu teriring dalam doa.

Secara khusus aku memintanya untuk menjadi pandongani/pendamping pihak perempuan di hari pernikahan nanti. Dia mengiyakan tanpa berpikir panjang untuk membantu semua hal yang berkaitan dengan hari bahagiaku.

Malam sehabis pulang dari kantor kami berdua mengantre untuk naik Transjakarta menuju Senen dan transit hingga sampai ke tempat percetakan undangan di daerah Kemayoran. Rasanya tubuh sangat lelah setelah bekerja seharian, namun masih harus bolak-balik datang ke tempat ini demi memenuhi keinginan seseorang. Seorang pria yang menjadi cinta pertamaku saat terlahir ke dunia ini.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22:00 ketika tiba di rumah. Satu contoh undangan ‘ku berikan pada bapakku. Tidak disangka respon yang aku dapat di luar dugaan. Bapakku marah.

Dia menganggap aku tidak mengikuti keinginannya. Padahal di hari sebelumnya aku sudah menunjukkan desain seperti yang dia mau dan menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami jika belum final, maka segala sesuatunya masih bisa direvisi lagi. Detik itu aku hanya bisa meneteskan air mata di depan layar komputer sampai tak sadar bahwa ada Ibu yang memelukku dari belakang.

Tetiba jemari tangan ini mengetik sebuah pesan yang ditunjukkan untuk bapaktuaku. Bapaktua adalah sebutan abang dari bapak dalam bahasa Batak. “Bapaktua, kenapa ya bapak marah banget sama aku hanya karena undangan? Padahal ini masih contoh dan bisa direvisi lagi. Kenapa bapak ngga coba dengar alasanku dulu?”

Dan balasan bapaktua seketika membuat hatiku sedikit tenang. “Kamu sabar ya nak, kamu tahu sifat bapakmu seperti apa. Yakin dan percayalah dia mau buat yang terbaik untuk hari pernikahanmu. Mungkin cara menyampaikannya saja yang kurang tepat."

Aku tidak pernah menyangka dalam hal sekecil desain undangan saja bisa membuat air mata berlinang, mungkin aku terlalu membawa ke dalam perasaan kata-kata bapak saat marah tadi. Sempat berpikir mengapa untuk undangan harus dibuat dengan desain mewah dan bentuk hardcover sedangkan orang yang menerima belum tentu akan menyimpannya dalam waktu lama. Tapi aku ikuti kemauan bapak. Mungkin beliau ingin membagikan undangan pernikahan putrinya dengan perasaan bangga.

Simbol Pengikat Pernikahan

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/tawanlubfah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/tawanlubfah

Satu tahun sebelum kekasihku melamar, dia sebenarnya sudah mengajak untuk menabung di satu rekening. Aku menolak dengan alasan belum waktunya kami menabung bersama. Kegigihannya meyakinkan aku bahwa yang penting menabung saja dulu terlepas dari tanggal menikahnya kapan, dia ingin membuktikan bahwa komitmennya serius.

Aku terpaksa mengiyakan permintaannya. Tidak disangka, sedikit demi sedikit bertambah nominal di rekening bersama kami. Dulu terlintas di pikiranku untuk menikah hanya dengan pemberkatan dan resepsi kecil-kecilan saja. Karena yang terpenting adalah kehidupan yang akan kami jalani selepas diikat sebagai pasangan suami istri. Namun mustahil untuk melangsungkan pernikahan tanpa pesta adat, apalagi pihak keluarga kekasih sangat kuat dalam berbudaya.

Memohon pada Sang Pencipta untuk mencukupkan apa yang jadi kerinduan kami. Masih terbayang ketika aku iseng bertanya mengenai cincin nikah kami akan dibeli menggunakan uang tabungan bersama atau dari uang dia sendiri. Dan dia menyanggupi membeli sepasang cincin dengan uang pribadinya tanpa mengurangi uang tabungan kami bersama. Sedikit rasa bahagia, lebih besar rasa haruku.

Kemudian kami datang langsung ke toko perhiasan referensi kakak dan abang iparku. Calon suamiku memberikan kebebasan untuk memilih model cincin pernikahan kami. Pilihanku jatuh pada cincin model belah rotan yang di dalamnya terukir namaku pada cincin kekasihku dan namanya pada cincinku.

Foto Prewedding

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/bluefinpim
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/bluefinpim

Waktu berjalan dengan cepatnya, tak terasa dua bulan sebelum hari pernikahanku. Dengan pertimbangan mengirit biaya pernikahan, kami memutuskan untuk foto prewedding memakai jasa teman baikku semasa kuliah yang kebetulan memiliki hobi fotografi.

Nuansa foto outdoor menjadi pilihan yang tepat. Tidak disangka jam 8 pagi sebagai waktu janjian di hari Sabtu itu ternyata mundur karena dia menelepon dan mengatakan bahwa pakaian berupa jas yang akan dikenakan sudah dipinjamkan ibunya ke saudara sepupunya. Pikiranku kalut seketika. Aku menangis di samping sahabatku.

Sempat berniat membatalkan rencana foto kami. Tiba-tiba ibuku masuk ke dalam kamar dan menanyakan apa yang terjadi. Aku menceritakan kronologinya secara singkat. Ibu memberikan nasihat untuk lebih sabar dan tidak langsung cepat emosi.

Sebagai alternatifnya, beliau mengambil jas dari lemari dan tak disangka jas itulah yang jadinya dikenakan calon suamiku saat pengambilan foto prewed kami. Jas warna abu-abu milik adik laki-lakiku. Untunglah ukuran tubuh mereka hampir mirip.

Sekarang tiap aku melihat frame berisi foto kami yang tergantung di dinding, seperti ada perasaan lucu mengingat momen persiapannya. Selesai urusan foto prewed, aku mencari tempat cetak foto yang kualitasnya bagus namun harganya tidak terlalu mahal. Berburu info dari teman-teman dan sosial media, aku sarankan kekasih untuk datang ke suatu tempat percetakan foto sehabis dia selesai bekerja. Dia mengiyakan permintaanku.

Ada masa saat aku merasa lelah mengurus semua hal yang berhubungan dengan pernikahanku. Mungkin karena tenaga terkuras emosiku menjadi tidak stabil.

Hari itu, saat dimana aku bertanya pada kekasih apakah dia sudah mendatangi tempat percetakan foto dan dia menjawab belum, aku langsung terdiam. Sampai beberapa hari aku tidak merespon pesan yang dikirimnya dan tidak mengangkat teleponnya.

Aku hanya membagi keluh kesah kepada sahabatku seorang. Terucap dengan lirih, “Padahal cuma minta tolong ke tempat cetak foto tapi gitu aja nggak bisa. Dia nggak tau capeknya gue mikirin ini semua buat pernikahan kami." Perasaan menyesal hadir seketika dia meminta maaf karena tidak langsung mendatangi tempat percetakan foto sebab waktunya bersamaan dengan deadline pekerjaan. Ah, lagi-lagi ada saja kerikil dalam persiapan ini.

Technical Meeting tanpa Kehadiran Bapak

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Dmitry+Sheremeta
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Dmitry+Sheremeta

Tiba waktunya untuk technical meeting, tepat tiga hari sebelum hari pernikahanku. Kami semua berkumpul kecuali satu orang. Ya dia adalah bapakku. Dia merasa tidak perlu hadir karena menganggap ibuku, bapaktuaku / abang bapakku dan istri dari bapaktuaku sudah cukup menjadi perwakilan dari pihak perempuan.

Perasaan sedih itu datang lagi menghampiri. Sesekali aku berpikir kenapa bapak seakan menuntut pesta pernikahanku semua harus seperti keinginannya tapi sekalipun tidak pernah bapak mau turun tangan langsung untuk berbicara minimal dengan vendor yang dia inginkan. Semua harus aku tangani sendiri.

Memang ini pernikahanku tapi ada kalanya aku ingin melihat bapakku juga ikut terjun langsung ke lapangan supaya dia tau bahwa mencari vendor sesuai keinginannya, menemui vendor itu, bernegosiasi terkait biaya yang akan dikeluarkan, juga membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.

Dan ada lagi yang sempat mengganggu pikiranku, ketika berkumpul dengan semua vendor yang juga dihadiri pasanganku dan kedua orangtuanya, terjadi sedikit perbincangan yang mengarah pada permintaan dari pihak keluarga laki-laki akan suatu hal. Saat itu aku dan pasangan saling bertatapan. Mengapa pasanganku membicarakan keinginan dari ibunya di hari kami technical meeting. Untunglah ada bapaktua yang memberikan solusi atas kekhawatiranku.

Bersyukur Meski Hanya Tidur Malam Satu Jam

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Vershinin89
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Vershinin89

Satu hari menjelang hari pernikahan, dari siang hingga malam kami masih berada dalam gedung untuk mengecek kembali segala sesuatunya.

Saat itu sang kekasih pamit pulang terlebih dahulu. Sedangkan aku? Calon mempelai wanita yang harusnya sudah beristirahat untuk menyambut hari esok nyatanya masih berkeliaran di sekitar gedung.

Waktu sudah menunjukkan pukul 23:00, untungnya datang kakak dan adik perempuanku menemani. Aku memanggil seseorang yang memiliki jasa nail art. Sayangnya dia baru bisa datang pukul 20:00. Bayangkan berapa jam lagi yang dibutuhkan untuk menghias kuku kaki dan tangan kami untuk terlihat cantik di hari bahagiaku esok?

Sampai berdering telepon dan itu panggilan dari bapak yang menyuruh kami untuk segera pulang. Jam menunjukkan pukul 01:00, hari sudah berganti. Mataku hanya terpejam satu jam karena waktu untuk make up artist datang ke rumah adalah pukul 02:00.

Aku percayakan pada tangan yang akan meriasku. Berterimakasihlah kalian, para calon pengantin kepada seseorang yang dianugerahi Tuhan untuk bisa menyulap wajah yang lelah menjadi cantik jelita.

Agustusku

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/MinTeestocker
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/MinTeestocker

Hari pernikahanku telah tiba, tepat di tanggal 25 Agustus 2018 kami melangsungkan pemberkatan pernikahan di sebuah gereja. Berjanji di hadapan Tuhan untuk setia sampai kematian yang memisahkan.

Dari tempat aku berdiri, terlihat jelas bapak dan ibu mengusap air mata. Selesai dari gereja kami bergegas menuju gedung untuk melangsungkan prosesi acara adat. Melihat begitu banyaknya tamu undangan yang hadir dan mengucapkan selamat juga tak sedikit yang memeluk sambil membisikkan kata-kata yang menyentuh.

Semua aku anggap sebagai untaian doa untuk rumah tangga kami. Lalu aku tersadar jika lelah, sedih, galau, dan perasaan campur aduk selama ini sudah “terbayar” saat melihat orang tua kami tersenyum sumringah dan hadir dalam keadaan fisik yang sehat.

Satu hal yang baru aku ketahui di detik akan dilepas oleh bapak untuk diserahkan seutuhnya kepada pasanganku, alasan bapak dan ibu mengharuskan aku mengikuti sebagian besar kemauan mereka bukan semata-mata untuk memuaskan keinginan belaka, tetapi mereka berusaha memberikan yang terbaik selaku orang tua yang akan melepas putrinya dengan versi mereka sendiri. Mungkin caranya saja yang belum aku pahami.

Nyatanya apa yang dipilih orangtuaku memang yang terbaik saat semua sudah dipadupadankan. Khawatirku yang berlebihan membuat pikiran sudah jelek di awal. Lagipula seharusnya aku bersyukur karena jika mendengar cerita bapak yang ingin melangsungkan pernikahan dengan ibuku dulu sesuai impian mereka, mustahil untuk bisa terwujud.

Bagaimana tidak, demi mendapatkan restu dari keluarga ibuku saja, bapak harus berjuang mati-matian, hmm.. jadi yang aku alami selama persiapan ini sebenarnya belum ada apa-apanya. Filosofiku sedari dulu, ketika aku masih bisa merasakan stres itu tandanya aku masih punya kepala bukan? Dan percayalah, setelah tulisan ini dibuat, aku semakin yakin semesta akan turut berbahagia saat kau berhasil melewati banyak rintangan untuk mengukir satu cerita indah yang kelak akan menjadi cerita hangat untuk didengar anak cucumu.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel