Menyikapi Kenaikan Kasus Positif Anak Usia Sekolah di Masa Pembelajaran Tatap Muka

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah telah dari lama menggencarkan satuan pendidikan untuk segera memulai pembelajaran tatap muka (PTM). Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri, pada tahun ajaran baru 2022/2023 dimulai PTM 100 persen di seluruh Indonesia.

Data dihimpun Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 per 9 September 2022, dari rentang Juli hingga Agustus, kasus positif pada anak usia sekolah mengalami peningkatan sebesar 33,81 persen atau sebanyak 22.980 kasus. Angka ini memberikan kontribusi pada penambahan kasus nasional sebesar 15,15 persen.

Hal ini membuat kebutuhan anak didik akan pembelajaran secara tatap muka kemudian berbenturan dengan resiko penularan Covid-19 di satuan pendidikan. Hal ini sebagaimana diungkapkan Ketua Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI Retno Asti Werdhani.

"Sekolah itu memang bisa jadi salah satu sarana penularan. Tetapi satu sisi perlu ada pemenuhan hak anak untuk mendapatkan pengajaran pendidikan yang maksimal di lingkungan yang aman. Termasuk juga pemenuhan hak psikis untuk bertemu teman sebaya," ungkap Asti dalam Talk Show daring di Media Center Satgas Covid-19, Jakarta, Senin (12/9).

Karena itu, data menunjukkan kenaikan kasus positif pada anak usia sekolah di bulan Agustus lalu harus diwaspadai seluruh pihak terkait. Dalam hal ini pihak sekolah, orangtua, dan pemerintah daerah. Terutama di masa PTM ini, sekolah memegang peranan penting bertanggungjawab atas keselamatan murid-muridnya.

"Di sekolah, anak sudah menjadi tanggung jawab guru atau pengurus sekolah untuk memberikan pengawasan dan pembinaan" ujarnya.

Menurut Asti, sekolah perlu membuat sistem pengawasan dan edukasi di masa PTM saat ini. Pengawasan dapat dilakukan dengan melihat apabila terdapat murid ataupun pengurus yang memiliki gejala, maka segera melapor ke puskesmas setempat.

Sedangkan edukasi bagi murid dilakukan melalui poster ataupun pengumuman berkala terkait imbauan protokol kesehatan oleh pihak sekolah. Sebab, protokol kesehatan menjadi kunci kelancaran berlangsungnya PTM.

"Sampai saat ini protokol kesehatan masih menjadi jalan terbaik untuk bisa mengurangi kejadian penyakit infeksi salah satunya Covid-19," ucap Asti.

Dia mengatakan, ada waktu tertentu saat murid abai protokol kesehatan. Yakni ketika jam pergi sekolah, istirahat, dan jam pulang sekolah. Sehingga dia meminta pihak sekolah untuk tetap memberikan peringatan bagi murid agar langsung pulang ke rumah usai kegiatan sekolah berakhir.

"Cara paling aman langsung jemput dan langsung pulang ke rumah. Karena kita enggak tahu anak pulang sekolah ke mana. Terkadang bisa kontak dengan yang di luar sekolah. Bisa menjadi suatu peringatan dari sekolah untuk langsung pulang ke rumah," katanya.

Dia menekankan pentingnya sikap pro aktif dan kepekaan dimiliki orang tua murid. Sehingga apabila disadari terdapat gejala Covid-19 dari sang anak, maka dapat segera melakukan tes swab antigen ataupun PCR. Jika hasil menunjukkan positif, orang tua dapat melapor kepada pihak sekolah untuk ditelusuri rantai penularannya.

"Pentingnya kesadaran bahwa ada gejala seperti batuk, pilek, dan sakit tenggorokan. Tidak ada salahnya kita langsung tes Covid-19 dengan PCR. Memastikan positif atau tidak," tegas Asti.

Pada kesempatan sama, perwakilan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) menjelaskan diberlakukan PTM telah berdasarkan penyesuaian kondisi pandemi di Indonesia. Selain itu, tata cara PTM sudah mempertimbangkan keselamatan, kesehatan, dan evaluasi capaian belajar murid.

"Sudah semua diatur dan tujuan utamanya adalah melindungi warga satuan pendidikan tetap belajar secara aman dan nyaman. Tentu kita ingin menghindari learning loss yang terjadi pada anak didik kita," ujar Plt Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Kemendikbud Ristek Anang Ristanto.

Reporter Magang: Michelle Kurniawan [eko]