Menyimak Obrolan Indra Sjafri dengan Cak Nun: Sepak Bola Indonesia Perlu Belajar dari Jepang

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Solo - Dunia sepak bola Indonesia selalu menarik untuk dibahas, tidak hanya oleh para pelaku atau pemerhatinya. Bahkan oleh tokoh intelektual muslim, Muhammad Ainun Nadjib (Cak Nun) bersama anak pertamanya, Sabrang Mowo Damar Panuluh atau akan disapa Noe Letto.

Keduanya yang memiliki kanal YouTube Caknun.com, membahas tentang nasionalisme sepak bola Indonesia. Eks pelatih Timnas Indonesia yang saat ini menjabat Direktur Teknik PSSI, Indra Sjafri menjadi bintang tamunya, untuk berbagi cerita maupun silang pendapat tentang arah maupun kebijakan sepak bola Indonesia.

Sejumlah hal genting dibahas dalam video berdurasi sekitar 30 menit. Di antaranya proses panjang sejak dalam menentukan kebijakan oleh pemerintah hingga menjalankannya agar Indonesia benar-benar memiliki sepak bola yang tangguh ke level dunia.

Sebagai contoh, sudah bukan jadi rahasia umum prestasi Timnas Indonesia yang seperti berjalan di tempat selama bertahun-tahun. Sempat menjadi salah satu kekuatan sepak bola Asia Tenggara bahkan Asia, prestasi itu menurun drastis. Bahkan kini tertinggal cukup jauh dari Thailand dan Vietnam.

Indra Sjafri mengatakan, Indonesia tidak ada salahnya meniru cara dan upaya yang dilakukan oleh negara Jepang. Sepak bola Jepang semakin berkembang untuk mengejar para kekuatan tradisi dunia. Mereka menjadi raja di Asia, dan jarang absen tampil di Piala Dunia.

"Jepang dengan kondisi sekarang memang tidak mungkin juara dunia, tapi ada roadmap untuk juara dunia di tahun 2050. Mulai dari hal kecil keluarga untuk siap di tahun 2050 itu. Memperbaiki gizi, atlet-atlet terbaik saling menikah untuk keturunan yang unggul," terang Indra Sjafri saat berbincang dengan Cak Nun dan Noe.

Naturalisasi Sebagai Jalan Pintas

Striker Timnas Indonesia, Beto Goncalves, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Malaysia pada laga Kualifikasi Piala Dunia 2022 di SUGBK, Jakarta, Kamis (5/9). Indonesia kalah 2-3 dari Malaysia. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)
Striker Timnas Indonesia, Beto Goncalves, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Malaysia pada laga Kualifikasi Piala Dunia 2022 di SUGBK, Jakarta, Kamis (5/9). Indonesia kalah 2-3 dari Malaysia. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Pria asal Padang, Sumatera Barat tersebut turut mengungkapkan apa yang sebenarnya sedang dilaksanakan oleh pemerintah dan federasi, untuk meningkatkan kualitas sepak bola Indonesia.

Terutama dengan adanya Inpres Nomor 3 tahun 2019 tentang percepatan pembangunan persepakbolaan nasional, yang dampaknya mulai terlihat, meski masih perlu upaya yang lebih besar.

Adanya inpres tersebut, selayaknya Indonesia harus memberdayakan potensi bibit dalam negeri dan menghentikan program naturalisasi untuk level Timnas. Kemudian seluruh pihak atau stakeholder bisa bersatu membangun sepak bola Indonesia tanpa ada yang saling menjegal.

"Kalau semua elemen sepak bola Indonesia ini bersatu menyumbang ide dan gagasan pasti akan lebih bagus. Tidak ada naturalisasi, tapi justru memaksimalkan potensi yang ada di indonesia," kata Indra Sjafri.

"Perlu belajar dengan Jepang, tidak bisa instan. Contoh tahun 2013 saya punya 30 pemain jangan dipikir itu akan lanjut terus, tapi terus diregenerasi. FIFA juga selalu menekankan pentingnya pembinaan, bukan naturalisasi," bebernya.

Komitmen Semua Pihak

Cak Nun dan Noe berbincang dengan Direktur Teknik PSSI, Indra Sjafri. (Tangkapan layar YouTube Caknun.com)
Cak Nun dan Noe berbincang dengan Direktur Teknik PSSI, Indra Sjafri. (Tangkapan layar YouTube Caknun.com)

Cak Nun turut memberikan gagasannya, bahwa hulu dari persoalan sepak bola juga berasal dari pemerintah melalui Menpora. Ia menyebutkan bahwa perlu semacam simposium seluruh pihak yang bisa berhubungan dengan sepak bola, untuk merumuskan apa saja demi ke arah yang lebih baik.

Indra Sjafri sepakat dengan apa yang disampaikan Cak Nun. Pasalnya, pemerintah melalui Kemenpora menjadi koordinator, yang sebenarnya tidak hanya untuk urusan pesepakbola saja, tapi juga bidang lain.

"Menpora dulu acuannya setiap event, jumlah medali berapa. Tapi kebijakan sekarang mendesain ulang sistem. Kenapa tidak berprestasi berarti ada yang salah. Bisa saja ada 10 Lionel Messi di Indonesia, mungkin tidak hanya di sepak bola, tapi bidang lain," tutur eks pelatih Bali United tersebut.

"Kita ada evaluasi tapi sepenggal-sepenggal atau hanya sebagian. Rasanya seperi tidak saling mendorong, seperti tidak ada kebersamaan. Harus ada yang bisa mempererat itu," jelas Indra Sjafri menutup perbincangan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel