Menyingkap digitalisasi pertambangan di Tembagapura

Digitalisasi kini diterapkan di berbagai sektor industri, termasuk pertambangan. Di kawasan Tembagapura, Mimika, Papua, misalnya, PT Freeport Indonesia mengendalikan sekitar 20-30 persen produksinya dari jarak jauh (remote).

SVP Underground Mine Operations PT Freeport Indonesia Hengky Rumbino menyatakan pemanfaatan teknologi ini salah satunya dalam pengoperasian loader atau alat untuk memindahkan atau memuat material ke dalam jenis mesin lain di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) dan Deep Mill Freeport (DMLZ). Pengoperasian alat memanfaatkan serat optik (fiber optic) dan wifi.

Sebanyak 40 pegawai yang bertugas mengoperasikannya. Dari jumlah ini, sebagian perempuan berasal dari tanah Papua. Salah seorang di antaranya Lusi Arwakon.

Lusi yang memiliki latar belakang pendidikan Kesehatan Masyarakat dari Universitas Cendrawasih itu sudah mengoperasikan remote control technology di bagian loader mine selama 5 tahun terakhir. Selama 8 jam per shift, dia duduk di kursi tanpa sekalipun boleh terganggu dengan ponsel maupun perangkat musik.

Menurut perempuan asal Biak itu, kesabaran dan produktivitas menjadi andalan utama para wanita agar dapat mumpuni bekerja di bagian loader. Di GBC, saat ini terdapat ada 11 loader yang menampung material.

Tak hanya untuk loader, perusahaan juga mengoperasikan mesin penghancur bebatuan besar dari material tambang atau rock braker dan shut atau katup di bawah corong dari jarak jauh. Sebanyak 20 pegawai bertugas mengoperasikan mesin penghancur batuan dan sekitar 5-10 orang untuk mengoperasikan katup.

Dari sisi produktivitas, Hengky tak melihat perbedaan kentara antara manual dan remote yang telah diterapkan sejak tahun 2006. Dia menyebutkan untuk loader, misalnya, kapasitas produksi per jam rata-rata 160 ton batuan dengan sistem remote. Sementara bila dioperasikan dengan manual, produktivitasnya berada di angka 170 ton per jam.

Dia melihat jam kerja efektif pegawai lebih besar pada pengoperasian alat secara jarak jauh karena relatif tak banyak waktu terbuang untuk kegiatan seperti makan atau istirahat.

"Dia (pegawai) bisa kontinyu bekerja dan kita lihat rata-rata 10 jam effective working hours per shift yang kita punya dibanding sistem manual itu sekitar 9 jam," kata Hengky.

Alasan diterapkan digitalisasi

Perusahaan menerapkan digitalisasi atau otomatisasi salah satunya demi menjaga keselamatan kerja karyawan. Mereka ingin memastikan beberapa pekerjaan di tambang bawah tanah yang berisiko tinggi untuk keselamatan dikonversi menggunakan teknologi digital.

Sejumlah kondisi di wilayah tambang yang berisiko ini seperti lumpur basah dan debu. Pada masa lalu, lumpur basah pernah menyebabkan beberapa karyawan cedera berat yang menyebabkan fatalitas. Akhirnya, loader yang semula dioperasikan manual dikonversi agar dapat dikendalikan dari jarak jauh.

Otomatisasi juga dilakukan berkaca pada kapasitas produksi di area tambang. Tambang bawah tanah GBC, misalnya, dengan kapasitas produksi yang sangat tinggi yakni di atas 100 ribu ton per hari, harus didukung adanya ventilasi udara yang cukup besar. Alat berat yang beroperasi di sana sangat banyak sehingga membutuhkan ventilasi besar.

Hal ini berdampak juga pada kebutuhan biaya yang besar. Oleh karena itu, perusahaan beralih dari semula menggunakan rubber tire atau track dengan emisi menjadi memanfaatkan kereta otomatis Dengan begini, kebutuhan untuk ventilasi udara tidak harus sebesar saat perusahaan menggunakan track dengan kebutuhan gas buang yang cukup besar.

5G Mining menjadi teknologi baru yang diterapkan di sektor pertambangan akhirnya diluncurkan PT Freeport Indonesia bekerja sama dengan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) pada Kamis (1/9).

Teknologi ini memungkinkan penambangan dilakukan secara aman dan nyaman melalui teknologi canggih yang dikendalikan dari jarak jauh menggunakan teknologi 5G.

Jaringan akan bekerja melalui multiple-input dan multiple-output sehingga memungkinkan lebih banyak ruang bagi perangkat pengguna untuk mendapatkan kecepatan data yang lebih tinggi.

Pemanfaatan teknologi 5G Mining ini sebelumnya melalui pembaharuan infrastruktur, penguatan jaringan, dan pengembangan platform untuk mobile edge computing.

Dengan demikian, teknologi ini dapat mengendalikan berbagai mesin dan kendaraan di tambang bawah tanah dari jarak jauh, termasuk dari atas permukaan tanah serta menggerakkan berbagai perangkat secara otomatis.

Selain itu, teknologi 5G juga memungkinkan PTFI memonitor dan mencegah risiko kecelakaan kerja melalui optimalisasi penggunaan kamera yang terhubung dengan kecerdasan buatan.

Walau begitu, 5G Mining sebatas trial concept untuk membuktikan pertambangan dapat memanfaatkannya. Nantinya, pemanfaatan teknologi 5G Mining akan disesuaikan kebutuhan, antara lain, keselamatan kerja dan area kerja, semisal yang berbahaya jika menempatkan orang di sana.

“Saya percaya 5G dalam tataran trial ini akan mengikuti sistem yang sama, yang sudah Freeport gunakan sebelumnya bahwa ini membutuhkan proses pembuktian,” kata Hengky.

Teknologi remote yang dioperasikan perusahaan sejak tahun 2006 saja membutuhkan pembuktian dan perbaikan terus-menerus yang disesuaikan tantangan. Tantangan ini antara lain stabilisasi sinyal wifi, cara membuat sistem ini bertahan dalam waktu yang lama hingga meminimalkan kerusakan alat.

“Pada awalnya tantangan kami memang besar, kerusakan sistem tinggi, produktivitas rendah, tetapi kita selalu belajar dari tantangan yang ada dan bagaimana kita memodifikasi,” tutur Hengky.

Lalu, apakah nantinya penerapan 5G tak semata di penambangan? Hengky mengaku belum tahu. Sejauh ini, perusahaannya hanya berfokus pada pemanfaatan teknologi untuk dapat menggerakkan alat secara remote di tambang bawah tanah.

Technicians for automation technology Danurdara Baswara mengatakan khusus untuk loader, teknologi 5G mempercepat mobilitas, dari semula 70 persen menjadi 90 persen.