Menyusuri Jejak Peninggalan Belanda-Jepang di Kota Tarakan

Merdeka.com - Merdeka.com - Memiliki luas lebih dari 250 kilometer persegi, Kota Tarakan di Kalimantan Utara memiliki jejak sejarah yang patut ditelusuri. Berkunjung ke kota ini, wisatawan bisa melihat langsung lokasi masuknya Jepang ke Indonesia melalui Pantai Amal di Kecamatan Tarakan Timur.

Ya, pertama kali Jepang mendarat di Indonesia melalui pantai tersebut, meski saat itu ada pihak Belanda. Tujuan mereka ialah mendapatkan ladang minyak di kota tersebut. Karenanya, tidak heran jika wisatawan menemukan banyak pompa pengeboran minyak saat berkunjung ke Bumi Paguntakan. Berikut deretan peninggalan sejarah di Kota Tarakan:

Rumah Bundar

001 muhamad agil aliansyah
001 muhamad agil aliansyah

001 muhamad agil aliansyah.jpg

©2015 Merdeka.com

Rumah Bundar menjadi lokasi yang disebut-sebut bekas barak prajurit perang ketika itu. Disebut rumah bundar ialah karena model bangunannya yang membentuk setengah lingkaran.

Di Jalan Danau Jempang, Kota Tarakan ada sejumlah rumah bundar. Satu di antaranya milik Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan yang kini menjadi museum dengan berbagai macam koleksi benda sejarah seperti peluru, baling-baling pesawat, hingga sepatu peninggalan tentara Jepang.

Pompa Angguk

di tarakan
di tarakan

di tarakan

©2015 Merdeka.com/haris kurniawan


Tak terlalu jauh dari Rumah Bundar, terdapat puluhan pompa angguk yang hingga kini masih bisa digunakan. Di mana pompa ini sudah beroperasi sejak zaman Belanda dan terus dilestarikan.

Pompa-pompa ini dapat ditemui tak jauh dari pusat Kota Tarakan. Mereka memiliki jarak yang tak saling berjauhan sehingga layaknya sebuah kompleks perminyakan. Masih di sekitar kawasan yang sama terdapat sebuah tangki warna hitam bertuliskan 'Wash Tank'. Tangki ini penyok hampir di seluruh bagian atasnya akibat di bom oleh tentara Jepang.

Bandar Udara Juwata

Selanjutnya, Bandar Udara (Bandara) Juwata yang letaknya hanya 10 menit dari pusat Kota Tarakan. Bandara ini sudah aktif sejak lama. Bahkan keberadaannya juga sejak masa pendudukan Belanda.

Ya, Belanda memang yang membangun bandara sekaligus sebagai pangkalan militer. Tiga tahun jelang kemerdekaan RI tentara Jepang mendarat di bandara ini untuk merebut pemerintahan Hindia-Belanda.

"Jadi, kami ada bungker, senjata, meriam dan lain-lain yang bisa ditemukan jika berkunjung ke Tarakan, belum lagi ada makam tentara sekutu, Jepang yang juga bisa. Saat ini kami juga tengah upayakan restorasi untuk jadi cagar budaya dan jadi destinasi wisata yang tidak seluruh Indonesia memiliki," kata Wali Kota Tarakan, Khairul, belum lama ini. [hhw]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel