Merahasiakan Kehamilan dari Mertua dan Sosok Perempuan Hebat yang Menguatkanku

·Bacaan 5 menit

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

TERKAIT: Saling Menguatkan di Situasi Pandemi dengan Membuat Sabun dari Minyak Jelantah

TERKAIT: Menjadi Ibu yang Bekerja sebagai Tulang Punggung Keluarga, Hatiku Harus Lebih Tegar

TERKAIT: 5 Tips bagi Perempuan yang Ingin Melepaskan Cinta yang Tak Bisa Dimiliki

***

Oleh: Baiq Synthia Maulidia Rose Mitha

Aku baru menyadari kalau aku hamil lagi anak kedua, setelah melihat hasil test pack berupa dua garis, yang kupikirkan saat itu hanyalah bersyukur. Allah menitipkan amanah lagi, padahal anak pertamaku masih berusia 19 bulan. Ia saat itu masih baru selesai menyapih. Namun, impian banyak wanita bukan sekadar untuk dirinya sendiri, namun untuk buah hati dan pasangan tentunya.

Kujalani hari-hari penuh perjuangan. Tepat bulan Ramadhan aku mengalami perubahan hormon secara drastis, yang awalnya suka makan jadi mual dan enggak kuat dengan aroma mie instan yang dibuat oleh mertuaku. Kebetulan saat itu menginap di rumah, karena rumah yang lama sudah over kontrak. Aku takut, malu dan bercampur aduk untuk mengungkapkan, karena aku bekas operasi SC dan kalau harus hamil lagi, maka makin sulit lagi untuk melahirkan normal.

Merahasiakan kehamilan, awalnya aku bisa. Tetapi, desakan suami untuk bercerita saja. Karena perutnya juga akan kelihatan. Aku becerita pada tetanggaku, wanita sekitar 62 tahun. Ia juga seorang pekerja keras. Masih berjualan gethuk setiap pagi. Ia seakan memberikan dukungan untukku, kalau aku itu spesial. Menurutnya lebih baik cerita saja dengan mertuaku. Belum sempat bercerita, aku harus pulang ke kampung halaman. Ternyata beliau yang menyampaikan berita itu kepada mertuaku.

Kembali ke Kampung Halaman

Menjelang Idulfitri, aku ada di kampung halaman. Untuk menghabiskan waktu bahagia bersama Umi. Dia yang membesarkan dan merawatku sampai aku bisa mandiri. Usianya hampir 88 tahun, dia memang bukan wanita yang melahirkanku. Namun, kasih sayangnya sebagai seorang ibu selalu menghangatkan relung hatiku. Orangtuaku sendiri tinggal jauh di luar Jawa. Ayahku meninggal setahun silam, tinggal ibu, adik perempuan dan laki-laki.

Sebulan aku tinggal di kota kecil itu, karena juga merawat Umi. Beliau sudah tidak sekuat tahun lalu, tubuhnya makin kurus dan sayu matanya. Makan dan aktivitas lebih banyak dilakukan di kamar. Sejak saat itu aku merasa berat meninggalkan tanpa perempuan yang menjaga. Hanya tinggal berdua dengan paman. Tentu aku pulang ke tempat suami, aku memiliki orderan makanan frozen food yang harus diselesaikan.

Mengerjakan serba sendiri dan itu bukan masalah yang besar. Karena sejak kecil aku dibiasakan mandiri oleh Umi. Membantu Umi memasak sejak di bangku kelas 3, mencuci pakaian sendiri, mencuci piring dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Kata Umi, kelak aku akan berumah tangga, jadi harus dibiasakan untuk mandiri. Aku hanya nurut saja, dan benar sekali. Aku membuktikan saat ini, sudah bisa menyelesaikan pekerjaan rumah, mengurus anak dan jualan tanpa ART.

Baru dua minggu di tempat suami, aku dapat telepon dari paman kalau Umi jatuh dan kondisinya tidak baik-baik saja. Aku bingung bagaimana caranya mendapatkan izin suami sementara aku terlalu lama di sana. Namun, aku bercerita saja kepada suami.

Kalau bukan aku siapa yang akan merawat Umi? Ia mengizinkanku untuk pulang tapi kami menjalani LDR. Anakku juga aku bawa beserta perlengkapan untuk jualan frozen food. Awalnya aku pikir Umi akan segera sembuh, tetapi tulang lansia itu tidak seperti anak muda. Tulangnya mulai merapuh dan kondisi kesehatan lainnya ikut menurun. Umi tidak bisa berjalan lagi, untuk ke kamar mandi saja kesulitan. Aku menawari untuk menggunakan popok dewasa, namun tidak mau. Sehingga, aku harus selalu menjaga di rumah.

Kehamilan ini berusaha kusembunyikan darinya, tetapi lama kelamaan beliau menyadari ada perubahan pada sikapku. Ya aku katakan saat itu hamil dua setengah bulan. Pun masih bisa membereskan rumah, memasak, membuat orderan dan juga mengasuh toddler yang tingkahnya makin luar biasa. Karena aku tinggal di sana, mulai berdatangan saudara dan menantu Umi. Rata-rata anak Umi laki-laki, sehingga tidak bisa merawat ibunya.

Beban yang berat saat kupikul ini tiada berarti dengan perjuangannya, Umi membesarkanku seorang diri, di usianya yang sudah tidak muda lagi. Namun, aku tidak pernah mendengar keluh kesah darinya.

Semenjak kepergian mendiang Kakek, Umi semakin giat berjualan jamu bungkus seperti jamu kunyit, jamu sirih dan juga membuat dupa khusus pengantin. Walaupun Umi enggak bisa baca tulis aksara, ia tetap mengingatkan aku untuk belajar, menyiapkan kebutuhan untuk sekolah bahkan mengajari mandiri. Aku selalu mendapatkan perhatian darinya, selama Umi bisa dan mampu pasti diberi. Namun, jika tidak ada uang ia selalu membesarkan hatiku untuk giat menabung.

Bagiku ia bukan hanya seorang nenek, tetapi orang tua. Saat ia sakit keras pun yang dipikirkan ialah anak-cucunya. Ia pun tidak pernah perhitungan memberikan apa yang dimilikinya, juga selalu mendoakan terbaik untuk keluarga. Walaupun bakti anaknya tidak begitu maksimal, ia tidak pernah menggerutu.

Tiga Wasiat dari Umi

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Masa pandemi, aku harus mandiri merawat Umi. Enggak berani mau rujuk ke rumah sakit. Sering kudengarkan ia bercerita, kadang ia memelukku, Umi bilang, “Aku harus kuat menjadi seorang ibu. Namun, jangan semuanya dikerjakan sampai lupa dengan waktu. Kesehatan lebih penting.”

Ia juga berpesan, “Jangan bertengkar dengan pasangan, lebih baik mengalah saja. Karena kita sebagai wanita wajib tunduk dan patuh pada suami. Kita menitipkan diri ini untuk saling menjaga satu sama lain.”

“Menjaga anakku dengan semaksimal mungkin, jangan biarkan nangis terlalu lama. Anakku juga tipe yang super aktif, harus hati-hati menjaganya. Ia meminta aku untuk selalu menyayanginya.”

Kepergiannya menyisahkan sesak begitu dalam, namun dari pengalaman itu aku percaya dan yakin ada banyak hikmah yang tersembunyi. Ia pergi meninggalkan banyak pelajaran tentang kehidupan. Tentang ikhlas yang harus dijalani, tentang sabar dengan perjuangan impian banyak orang. Pun tentang saling menguatkan sesama perempuan.

Karena keseharianku dihabiskan dengan kesibukan merawat orang sakit, mengasuh anak juga menjaga kehamilan. Justru lebih kuat dan makin tangguh lagi. Pun tidak ada keluhan-keluhan selama kehamilan. Tetaplah bersyukur apa pun keadaan kita saat ini. Karena pasti akan ada jalan keluar dari setiap permasalahan.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel