Merasa Difitnah, Mantan Komisaris Garuda Indonesia Peter Gontha Blak-Blakan soal Sewa Pesawat Boeing

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Polemik mahalnya sewa pesawat Boeing yang dilakukan oleh maskapai nasional PT Garuda Indonesia Tbk terus bergulir. Terbaru, mantan Anggota Dewan Komisaris Garuda Indonesia, Peter Gontha kembali angkat suara terkait kasus maskapai pelat merah tersebut.

Hal ini merespons pernyataan Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga yang menyebut Peter ikut terlibat dalam pengadaan pesawat Garuda Indonesia.

Peter mengunggah sebuah foto pesawat Garuda Indonesia sambil memberikan komentar cukup keras. Ia menyebut dirinya difitnah dan meminta berbagai pihak untuk melakukan investigasi.

Kepalang Tanggung difitnah. Ini cerita saya: silahkan investigasi! Asal jangan HOAX dan Fitnah! Buzzer dari yang merasa dirugikan dengan postingan-postingan saya mengenai Garuda jangan malu2-in!! Pengen tau Jubir komentar apa lagi!,” tulisnya di akun Instagram-nya, dikutip Selasa (2/11/2021).

Ia membeberkan ceritanya soal polemik yang terjadi di Garuda Indonesia. Mengacu pada gambar yang diunggahnya, pesawat Boeing 737 Max yang dikatakan Peter, itu ditandatangani direksi dan komisaris Garuda indonesia pada 2013/2014.

Saya diminta untuk menandatangani nya , tapi saya menolak. Kenapa? Karena kita hanya diberi 1x24 jam untuk evaluasi dan menandatanganinya. Total kontraknya melebihi US$3milyar untuk 50 pesawat. Gila kan hanya 24 jam,” katanya.

Pada saat itu, Peter merasa dipaksa dengan alasan harus menandatangani hal tersebut, jika tidak, itu akan disebut gagal proses pembeliannya. “Saya akhirnya tandatangani juga tapi dengan catatan : bahwa kita tidak diberi cukup waktu untuk evaluasi. Dan saya pun dikucilkan oleh “direksi waktu itu”.Saksi hidup masih banyak. Tanyakan saja! Juga Jejak digital nya saya ada!,” katanya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Hanya Satu Pesawat

Desain masker baru pesawat Garuda Indonesia pada armada B737-800 NG (dok: GIA)
Desain masker baru pesawat Garuda Indonesia pada armada B737-800 NG (dok: GIA)

Lebih lanjut, Peter menyebutkan hanya ada satu pesawat yang terkirim karena pesawat itu gagal desain dan jatuh seperti Lion Air dan Ethiopia Air. Lantas, pada 2020 lalu, Peter meminta Direksi Garuda Indonesia untuk membatalkan kontrak tersebut dan mengembalikan satu pesawat yang sudah dikirim.

Namun hal itu tak kunjung dikerjakan karena alasan kontrak itu tak bisa dibatalkan apapun alasannya. “Saya minta dituntut di pengadilan AMERIKA Serikat, dan minta uang perusahaan dikembalikan, tapi tidak dilaksanakan, padahal Boeing sudah terkendala korupsi,” kata dia.

“Sekarang bagaimana? Entahlah. Kalau media mau tulis, investigasi dulu cerita saya benar atau tidak, jangan asal HOAX,” tambahnya.

Ia juga turut menyinggung nama Menteri BUMN, Peter menyebut cerita yang disampaikan ini tak diketahui Menteri BUMN, Erick Thohir.

“Cerita ini MenBUMN mungkin tidak diinformasikan ini harus saya kasih tau, karena kalau tidak Pak Erick yang disalahkan!” tutupnya.

Kata Stafsus Menteri BUMN Arya Sinulingga

Pesawat Airbus A330 yang dipesan Garuda Indonesia tiba di Bandara Soekarno Hatta pada  23 Juli 2009. (AFP / Arif Ariadi)
Pesawat Airbus A330 yang dipesan Garuda Indonesia tiba di Bandara Soekarno Hatta pada 23 Juli 2009. (AFP / Arif Ariadi)

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga mengaku akan terus mendukung upaya tersebut, jika benar data soal penyewaan pesawat tersebut telah disalurkan ke KPK.“Kami sangat mendukung kalau benar pak Peter Gontha sudah memberikan data mengenai penyewaan pesawat ke KPK,” katanya kepada wartawan, Senin (1/11/2021).

Arya mengatakan bahwa upaya tersebut sebagai langkah untuk mengetahui duduk kondisi yang sebenarnya terkait penyewaan pesawat Garuda Indonesia.

“Jadi kita dorong memang supaya mantan-mantan komisaris atau mantan direksi saat itu bisa diperiksa saja, untuk mengecek bagaimana sampai penyewaan pesawat tersebut bisa terjadi,” katanya.

Ia menegaskan bahwa persoalan penyewaan pesawat ini yang jadi langkah ‘ugal-ugalannya’ Garuda Indonesia. Arya juga mengatakan, terkait penyewaan tersebut, ada peran Peter Gontha yang ikut dalam prosesnya.

“Dan sekadar informasi juga pak Peter Gontha ikut dalam penyewaan pesawat-pesawat tersebut, dan beliau pun ikut menandatangani,” katanya.

Meski Arya mengakui bahwa tak semua dokumen penyewaan pesawat ditandatangani oleh Peter Gontha, namun ia menekankan bahwa mantan dewan komisaris itu juga ikut terlibat dalam pemeriksaan.

“Jadi kalau bisa didorong saja supaya bisa diperiksa komisaris direksi yang pada saat itu memang bertugas disana, supaya terang bendaderang,” katanya.

Dengan ikutnya Peter, Arya mengatakan bahwa dalam kesempatan tersebut, Peter bisa sekaligus menjelaskan perkara Garuda Indonesia.

“Kita dukung bener, termasuk pak Peter Gontha-nya sekalian bisa menjelaskan,” tutup Arya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel