Merawat Ayah di Penghujung Usianya, Ada Sedih dan Sesal yang Kurasa

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

TERKAIT: Ayah, Sosok Paling Sabar yang Jadi Sumber Kekuatanku untuk Selalu Tegar

TERKAIT: Di Balik Sosok Ayah yang Tampak Kuat, Ada Rasa Lelah yang Disimpan Sendiri

TERKAIT: Bagi Anak Perempuan, Ayah adalah Sosok Pahlawan Hebat Pertama di Hidupnya

***

Oleh: Fi

Panggil saja aku "Fi", putri keempat dari enam bersaudara dan perempuan semua. Karena aku tidak memiliki saudara laki laki, sejak mulai remaja, aku terbiasa mengerjakan hal hal ringan seperti mengecat rumah, naik plafon, dan genteng rumah kalau ada yang bocor.

Rindu masa kecil waktu aku masih di Sekolah Dasar. Kalau ayah pulang kerja, aku selalu bikin kesukaan ayah Kopi hitam yang agak pahit dan gulanya sedikit. Ayah kapan kita pergi mancing ikan bahkan sampai ke laut.

Bermain catur itu hobi ayah selepas pulang kerja, di teras rumah Setiap malam selalu rame saat ayah main dan tanding catur dengan teman teman ayah sampai larut malam.

Berjalannya waktu kami semakin dewasa, satu pe rsatu kami menikah , dan masing masing ikut suaminya. Mendekati masa persiapan ayah pensiun, saat itu kabar duka, karena ibuku meninggal karena kecelakaan.

Tidak berselang lama, ayah memutuskan untuk menikahi seorang janda beranak empat atas rekomendasi temannya. Keadaan berubah total.

Ayah, kenapa begitu cepat ayah menggantikan posisi ibu untuk kami?

Ayah seperti memaksa kami harus terima dengan niat dan pilihan ayah.

Ayah, maafkan aku yang tidak mau menghadiri proses lamaran dan pernikahanmu. Aku menyibukkan diri dengan bekerja. Bahkan tidak ada komunikasi denganmu selama berbulan-bulan. Tapi aku tetap mendoakan semoga ayah berbahagia

Suatu hari, datanglah ayah beserta istrinya ke rumah kontrakanku, sambil memperkenalkan isterinya. Sebagai anak, aku tetap membukakan pintu rumahku untuk keduanya.

Di tahun pertama sering aku dengar kabar yang kurang enak dalam rumah tangga ayah. Bahkan suatu kejadian di mana saat ayah jatuh sakit, sang istri sering pergi meninggalkan ayah begitu saja.

Ayah, kami tahu hatimu sebenarnya tersiksa, kami tahu ayah dilema. Namun ayah bertahan dengan kondisi rumah tangganya yang kurang baik. Namun, bisa di pertahankan selama 10 tahun.

Dalam dua tahun ke belakang aku semakin jauh dari ayah, bahkan aku baru dapat kabar kalau pernikahan ayah sudah bubar.

Merawat Ayah Hingga Beliau Tutup Usia

Ayah./Copyright Fitri
Ayah./Copyright Fitri

Awal tahun 2020, ayah sakit dan harus ada tindakan operasi prostat. Aku ingin menebus kesalahanku, untuk merawat ayah, hingga akhirnya aku kembali ke rumah ayah. Kebetulan aku juga single mom, anakku yang bungsu sudah berusia 12 tahun.

Mulailah hari hariku merawat ayah, memandikan, mengganti pampers, memasak, hingga check up ke RS. Fisik ayah kuat dan masih bisa menjalankan aktivitas seperti biasa. Alhamdulillah aku bahagia sekali karena mendapat kesempatan untuk mengurusnya dari pagi sampai malam.

Baru hitungan bulan, tidak sampai satu tahun tiba tiba ayah sakit lagi dan harus kembali rawat inap di rumah sakit. Selama satu bulan di ruang perawatan dan dua bulan di ruang ICU, setiap waktu kami harus stand by ke PMI, atas pemintaan RS.

Singkat cerita setelah ayah berada di ICU selama 2 bulan, di akhir bulan Oktober ketika aku bergantian jaga, tidak menyangka di saat aku pamit mau pulang untuk istirahat di rumah, di saat itulah terakhir ayah berpesan, "Hati-hati pulangnya."

Entah kenapa ketika baru beberapa jam sampai di rumah, perasaanku sangat tidak enak, dan tak berapa lama aku dapat kabar kalau ayah sudah tidak merespons apa pun. Aku bergegas kembali rumah sakit dan langsung menuju ke ruang ICU, lalu sambil memegang tangan beliau aku bilang, "Ayah, maaf kalau saya terlambat datang."

Kupegang denyut nadinya masih ada. Kupegang telinganya juga masih hangat, tapi kulihat mata beliau yang sudah terpejam, menitikkan air mata. Dan tidak lama kemudian, ventilator berbunyi panjang, inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Maafkan anakmu yang belum bisa berbakti dan membuatmu bahagia, ayah.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel