Mercedes Belum Sepenuhnya Optimalkan DAS

Tri Cahyo Nugroho
·Bacaan 3 menit

Namun demikian, Direktur Teknis Tim Mercedes, James Allison, menegaskan pihaknya tidak bisa mengeksploitasi potensi dari DAS tersebut. Mercedes menggebrak hari kedua tes pramusim F1 2020 di Barcelona, Spanyol, akhir Februari lalu.

Lewis Hamilton tampak menggerakkan setir Mercedes F1 W11 maju mundur di lintasan lurus dan tikungan Sirkuit Catalunya untuk mengubah sudut ban depan.

Saat Hamilton menarik setir mobilnya, ujung roda depan Mercedes W11 sedikit masuk ke dalam. Keuntungan sistem ini adalah kecepatan saat di lintasan lurus, respons ketika menikung, dan mengatur level keausan ban (tire management).

Allison mengaku, baik Hamilton maupun Valtteri Bottas sebelumnya diharapkan mampu menggunakan DAS tidak hanya untuk tire management. “Kami tadinya ingin DAS ini berfungsi lebih banyak lagi, khususnya saat pemakaian ban lama dan baru,” kata Allison.

Teknisi asal Inggris itu menjelaskan, Mercedes ingin para pembalapnya mampu lebih cepat di tikungan berkat DAS. Namun, hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

“Mungkin jika kondisi normal (tidak ada pandemi Covid-19) dan bisa melakukan tes dan pengembangan lebih baik, hasilnya akan berbeda. DAS yang kami gunakan itu sebenarnya baru versi awal dan relatif masih banyak kekurangan,” Allison menambahkan.

Kendati begitu, menurut James Allison, DAS terbukti efektif untuk mendapatkan suhu (panas) ideal ban depan saat kualifikasi dan setelah periode safety car.

“Jadi, kami memang diuntungkan dalam beberapa aspek tetapi belum semua potensi DAS bisa kami manfaatkan,” tutur teknisi 52 tahun tersebut.

Protes dari sejumlah tim yang menilai DAS termasuk peranti aerodinamika ilegal membuat Federasi Automobil Internasional (FIA) akhirnya melarang penggunaan DAS ini pada F1 musim depan.

Musim 2020 lalu, FIA mengizinkan Mercedes tetap menggunakan DAS karena sistem ini hanya memanfaatkan kolom setir dan cuma mengubah sudut kemudi dari roda depan.

“Kami tahu tidak semua tim bisa memaksimalkan sistem ini jika tetap diizinkan. Kami bisa mengambil beberapa keuntungan selama satu musim (2020) lalu. Jadi, usaha dan investasi yang kami gelontorkan saya rasa sepadan,” kata James Allison.

Baca Juga:

Verstappen Dukung Format Balap Dua Hari Vettel Ungkap Penyebab Performa Buruk Sepanjang 2020

Sejak F1 kali pertama digelar, tim-tim sudah berusaha agar mampu leih cepat sepersekian detik per lap dibanding para rivalnya. Mereka pun melakukan inovasi gila-gilaan dan berusaha agar tidak mungkin dilakukan atau disamai tim lain.

Brabham pernah menurunkan BT46 yang legendaris karena meletakkan semacam kipas angin di bagian belakang. Mobil ini hanya diturunkan sekali dan menang – untuk kemudian ditarik kembali – di GP Swedia 1978 lewat Niki Lauda.

Sebelumnya, Lotus muncul dengan sejumlah peranti aerodinamika yang rumit pada masa itu. Pada awal 1990-an, Williams melakukan inovasi suspensi aktif.

McLaren menciptakan F-Duct untuk sasis MP4-25 pada 2010. F-Duct ini adalah semacam air-scoop yang mampu mengalirkan udara dari kokpit ke bagian belakang mobil yang dioperasikan (buka-tutup) oleh pembalap secara manual.

Pada 2009, Tim Brawn GP merebut gelar juara dunia pembalap (Jenson Button) dan konstruktor dengan double-diffuser yang terkenal itu. Williams dan Toyota coba mengikuti namun gagal total.

McLaren juga pernah menemukan pedal brake-steer untuk mengatasi masalah understeer pada mobil mereka pada 1997.

Pada 2010, blown-diffuser RB6 mengantarkan Red Bull Racing merebut gelar juara dunia pembalap (Sebastian Vettel) dan konstruktor, titel ganda pertama dari empat beruntun saat itu.