Mereka yang Mendamba 'Rumah Surga' di Ibu Kota Jerman

Mohammad Arief Hidayat, DW Indonesia
·Bacaan 5 menit

Di sebuah sudut di distrik Wedding-Moabit di ibu kota Jerman, Berlin, terdapat sebuah masjid yang dikelola komunitas Indonesia Iindonesischer Weisheits- & Kulturzentrum IWKZ e.V.). Namanya Masjid Al-Falah. Dirintis sejak tahun 1986, masjid ini menjadi salah satu pusat kegiatan umat muslim Indonesia di Berlin. Ketua komunitasnya, Muhammad Ihsan Karimi bercerita meskipun menjadi komunitas minoritas, komunitas ini punya peran penting dalam membangun toleransi di Jerman.

“Di masjid Indonesia ini ada layanan bidang pendidikan, kebudayaan, sosial, layanan masyarakat yang dalam kegiatan itu kita mengejawantahkan kehidupan bertoleransi. Terus aktif di dialog antaragama contohnya kegiatan yang mengundang narasumber dari komunitas Muslim, Kristen dan Yahudi dan pesertanya juga datang dari berbagai kalangan keagamaan.” ujar Karimi.

Salah satu contohnya adalah berdiskusi tentang peran Sarah, yang merupakan istri Nabi Ibrahim. Masing-masing narasumber menceritakan bagaimana sosoknya ini dari perspektif agama masing-masing, tutur Karimi. “Jadi, misalnya saya sebagai seorang Muslim, saya jadi tahu bagaimana sih sosok Sarah dari agama Kristen dan Yahudi.”

Karimi bercerita, bukan hanya pengembangan bidang religius, yang juga dikembangkan komunitas masjid ini adalah bagaimana penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya membantu sesama dari berbagai agama lainnya dalam mencarikan tempat tinggal, mengingat relatif sulit dalam memperoleh rumah atau kamar di Kota Berlin yang dari hari ke hari makin padat ini. Selain itu juga bersama komunitas-komunitas agama lainnya sudah bertahun-tahun mereka bahu-membahu membantu para tunawisma di ibu kota Jerman.

“Kolaborasi ini berada di dalam platform yang isinya organisasi-organisasi lintas agama, lintas ras. Namanya Bagerplattformen. Jadi Bagerplattformen ini simpelnya adalah pelaksanaan kerja sama antarwarga masyarakat jadi kita saling mengenal, memperjuangkan nilai yang sama. Misalnya, membantu tunawisma-tunawisma supaya mereka bisa mendapatkan tempat tinggal ketika musim dingin, kasihan mereka suka tidur di jalan,” papar Karimi lebih lanjut.

Bersama komunitas agama lain, komunitas Muslim Indonesia di kawasan ini juga kerap mendampingi imigran dalam berurusan ke kantor imigrasi, tanpa memandang apa pun latar belakang agamanya. “Kami membantu para imigran-imigran supaya mereka dalam berurusan di kantor imigrasi bisa mendapatkan hak-haknya sebagaimana mestinya.”

Salah seorang jemaah masjid ini Nurry M. Raraswati menceritakan bersyukur ketika pertama kali datang ke Berlin sebagai calon mahasiswa di Studienkolleg hingga menyelesaikan pendidikan master terbantu oleh adanya komunitas ini. “Komunitas ini menjadi tempat pelayanan masyarakat serta menjadi jembatan dialog antara komunitas Indonesia dengan komunitas Jerman di kota Berlin ini. Kegiatan ada kajian mingguan seperti Majelis Ilmu ibu-ibu Pengajian Ummul Falah, Majelis Ilmu Bapak-bapak Pengajian Al-Hisab, ada juga Taman Al-Qur’an Anak-Anak, TPA Ceria Al-Falah. Kajian bulanan dan tahunan juga banyak, seperti pengajian bulanan yang dihadiri seluruh jemaah," tutur Nurry.

Nurry menambahkan ia dan komunitasnya juga bisa menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk membantu masyarakat di Indonesia melalui Masjid Al-Falah IWKZ e.V. bekerja sama dengan beberapa badan zakat atau organisasi-organisasi kemanusiaan yang berada di Indonesia. "Yang saya salut juga, Masjid Al-Falah IWKZ e.V. juga sangat aktif berperan bersama organisasi-organisasi lainnya di Berlin, seperti Bagerplattformen, IBMUS, dengan polisi setempat dan lain-lain," tambahnya.

Proyek Rumah Surga

Kini komunitas ini sibuk dalam proyek pembangunan masjid yang disebut Proyek Rumah Surga. Seiring berjalannya waktu, jumlah jemaah makin banyak.

Karimi menuturkan, Masjid al-Falah yang sudah ada sejak lebih dari 25 tahun. Sejak didirikannya terus berkembang dan tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual bagi masyarakat tapi juga telah menjadi pusat kegiatan sosial masyarakat yang makin beragamnya program-programnya.” Jadi masjid kita itu sekarang udah mulai terasa sempit untuk melaksanakan program-program itu, perlu ruangan yang lebih luas supaya program-program kita bisa terlaksana dengan baik,” papar Karimi. Sudah lebih seperempat abad masjid ini dirintis, hingga kini masih berstatus sewa. Dikhawatirkan masa sewanya bisa habis sewaktu-waktu. Supaya permanen, komunitas ini berniat untuk membeli dan membangun masjid sendiri, papar Karimi.

Dalam mewujudkan proyek besar itu, Karimi menceritakan komunitas agama-agama lain pun turut membantu. Di antaranya adalah komunitas gereja Santo Joseph. “Kami berkomunikasi dan berdialog. Kita curhat-curhat antarorganisasi. Mereka beri beberapa solusi dan saran sehingga muncul pendekatan baru. Kita disarankan bertemu sekretariat negara untuk urusan kultur Eropa, karena untuk urusan religius ada di bawah sekretariat itu. Ketemu lagi, rapat lagi, diskusi bagaimana sih supaya bisa dapat bangunan masjid yang gampang di Berlin ini karena semakin hectic-nya Berlin susah juga bisa mendapatkan ruangan dan bangunan.“

Nurry M. Raraswati yang kini aktif di Majelis ilmu Ummul Falah juga berharap proyek rumah surga ini cepat terwujud. "Dengan banyaknya aktivitas dan semakin banyaknya jemaah, masjid kami terasa sempit sekali. Semoga Masjid Al-Falah IWKZ e.V. bisa mempunyai gedung sendiri yang lebih memadai dan masih berada di pusat kota. Seperti yang sudah direncanakan dalam Proyek Rumah Surga Masjid Al-Falah IWKZ e.V. Proyek ini menjadi sangat penting untuk kami agar kami memiliki tempat ibadah yang permanen, yang manfaatnya tidak hanya dirasakan bisa oleh umat muslim saja, melainkan untuk seluruh umat manusia,“ kata Nurry.

Terus menggalang dana

Salah seorang pengurus masjid IWKZ, Senapati, bercerita dana yang dihimpun akan digunakan untuk pembelian unit bangunan, yang akan difungsikan sebagai masjid. "Kami mengumpulkan dana dari jalur transfer dan di Kitabisa.com. Sekarang sudah terkumpul sekitar 264 ribu euro dari target 600.000 euro. Nominal 600.000 euro tersebut merupakan untuk meminjam uang ke bank senilai sekitar 1-2 juta euro untuk membeli objek yang sekarang sedang ditargetkan. Di kemudian hari apabila bangunan sudah terbeli, kami mencicil dari sumbangan-sumbangan jemaah," ungkapnya.

Senapati menambahkan, jika sudah mempunyai bangunan sendiri, otomatis bisa lebih leluasa beribadah, karena bisa menampung lebih banyak umat terutama pada saat salat Jumat. "Lokasi masjid kami sekarang di lantai dasar gedung apartemen. Kalau kami mempunyai bangunan sendiri maka kami bisa menyelenggarakan acara acara dengan leluasa, misalnya di halaman objek bangunan," pungkas Senapati.