Merger 3 Bank Syariah BUMN Bakal Bantu UMKM Dapat Pembiayaan Murah

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Merger tiga bank syariah milik Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dinilai dapat meningkatkan daya saing keuangan syariah di era digital. Bank hasil merger ini akan lebih kompetitif dan lincah karena mengadopsi nilai-nilai dari tiga bank.

Pengajar Studi Ekonomi Islam, Universitas Indonesia (UI) Banjaran Surya Indrastomo menilai, bank syariah hasil merger memiliki potensi bagus. Sebab masing-masing bank akan saling mewarisi hal-hal baik dari tiga entitas yang terlibat.

Ini membuat bank syariah hasil merger memiliki kekuatan komplit untuk memperbesar pangsa pasar keuangan syariah."Bank hasil merger akan mewarisi nilai-nilai baik dari ketiga entitas yang terlibat," kata Banjaran, Rabu (4/11/2020).

Dia menjelaskan Bank Syariah Mandiri akan menyumbang sistem kerja dan profesionalitas. Inovasi program akan disumbangkan BNI Syariah. Sedangkan BRI Syariah memiliki pemahaman kondisi lokal dan regional. Bila ketiganya digabungkan, akan membentuk bank syariah yang kuat.

"Integrasi ini membuat bank hasil merger memiliki fondasi kuat untuk beroperasi,” kata dia.

Dampaknya terhadap perkembangan ekonomi syariah juga diyakini positif. Entitas baru yang lahir dari aksi korporasi ini akan memiliki modal besar untuk bergerak menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Dia menyebut, potensi pertumbuhan dan dampak positif muncul karena bank syariah hasil merger akan memiliki nilai aset dan sumber daya yang melimpah. Keunggulan entitas hasil merger bisa membuat market share industri keuangan syariah di Indonesia lebih besar dari yang ada.

Berdasarkan kalkulasi atas kinerja per Semester I 2020, total aset bank syariah hasil merger mencapai Rp 214,6 triliun dan modal intinya lebih dari Rp 20,4 triliun.

Dari nilai aset dan modal inti tersebut, bank syariah hasil merger akan masuk jajaran 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset, dan 10 besar dunia dari segi kapitalisasi pasar.

Bank syariah hasil merger akan berstatus sebagai perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia. Pemegang saham bank syariah hasil merger adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. sebesar 51,2 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. 25 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. 17,4 persen, DPLK BRI - Saham Syariah 2 persen, dan publik 4,4 persen.

Perkiraan

Petugas melayani nasabah di Bank Mandiri Syariah di Jakarta, Kamis (14/7). Sejumlah bank syariah mengaku siap menjadi bank persepsi, Jakarta, Kamis (14/7). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Petugas melayani nasabah di Bank Mandiri Syariah di Jakarta, Kamis (14/7). Sejumlah bank syariah mengaku siap menjadi bank persepsi, Jakarta, Kamis (14/7). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Berdasarkan perkiraan konservatif, merger bank syariah ini miliki aset mencapai Rp 390 triliun. Potensi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 355 triliun. Sedangkan pembiayaan yang bisa disalurkan sebanyak Rp 272 triliun. Sehingga pertumbuhan yang ditawarkan bank syariah ini dinilai sangat menjanjikan.

“Pertumbuhan yang ditawarkan entitas ini sangat menjanjikan untuk mendorong ekonomi syariah Indonesia, investasi, serta digitalisasi ekonomi,” kata dia.

Banjaran mengatakan merger ketiga bank ini menjadi suntikan efektif bagi upaya konsolidasi sektor keuangan syariah. Efisiensi akan tercipta dari merger.

Tentunya hal ini membuat entitas baru nanti bisa semakin lincah serta kompetitif dalam menjalani usaha. Dalam jangka panjang, nilai yang diciptakan atas merger ini akan jauh lebih tinggi dari saat ini.

"Kondisi tersebut jelas menguntungkan baik bagi masyarakat, investor, serta pengusaha dan pelaku UMKM yang pasti akan semakin terbantu mendapat akses pembiayaan murah dari bank hasil merger,” kata dia.

Saksikan video pilihan berikut ini: