Merger Gojek dengan Tokopedia untuk Menggembosi Grab dan Shopee

Lazuardhi Utama
·Bacaan 4 menit

VIVA – Aksi korporasi antara Gojek dan Tokopedia melalui mekanisme merger sudah dibicarakan sejak 2018, namun sempat terhenti hingga mencuat kembali menjelang akhir tahun lalu.

Seperti diketahui, Gojek mendekati Tokopedia setelah proses yang sama dengan Grab dipastikan gagal. Gojek dan Tokopedia masing-masing memiliki valuasi US$10,5 miliar (Rp147 triliun) dan US$7,5 miliar (Rp105 triliun).

Gojek memiliki sekitar 2 juta mitra pengemudi serta 900 ribu pedagang UKM, sementara Tokopedia mengklaim memiliki 9,9 juta pedagang. Jika Gojek dan Tokopedia jadi bergabung, maka valuasinya disebut-sebut lebih dari US$18 miliar (Rp250 triliun), melampaui valuasi Grab yang sebesar US$14,3 miliar (Rp200,2 triliun).

Asal tahu saja, merger Gojek dengan Tokopedia ini tidak akan menciptakan monopolii, tetapi untuk melawan Grab dan Sea Group — startup teknologi asal Singapura yang mendominasi pengiriman makanan, e-commerce, serta pembayaran digital di kawasan Asia Tenggara.

Sebagai informasi, akhir tahun lalu, Otoritas Moneter Singapura (The Monetary Authority of Singapore/MAS) memberikan lisensi penuh bank digital kepada konsorsium Grab-Singtel dan raksasa teknologi yang merupakan perusahaan induk Shopee, Sea Group.

Baca: Ada Penantang Grab Selain Gojek

Meski begitu, baik Gojek maupun Tokopedia, sebenarnya telah terjebak dalam persaingan bisnis ketat dengan Grab dan Sea Group, induk usaha Shopee. Hal ini karena Shopee telah melampaui Tokopedia sebagai situs e-commerce yang paling banyak dikunjungi pada kuartal III 2020 di Indonesia, berdasarkan data dari peringkat iPrice.

Sementara platform e-wallet mereka, ShopeePay, telah mengungguli transaksi Gopay dan Ovo dari Juni hingga Agustus 2020 di Indonesia, menurut penelitian oleh Snapcart dan MarkPlus. Hal demikian membuat Sea Group untuk memanfaatkan sektor perbankan digital di Indonesia.

Adapun Grab telah berinvestasi di LinkAja, sebuah platform pembayaran digital milik BUMN, yang memberikan akses ke basis pengguna yang lebih bervariasi dibandingkan Gopay.

"Layanan pembayaran digital salah satu bisnis terpenting. Gojek akan mendapat masalah jika kehilangan bisnis ini. Indonesia merupakan pasar yang menarik karena volume, tetapi daya beli masyarakatnya masih rendah. Gojek dan Tokopedia perlu mengakuisisi saham besar-besaran di semua pasar tempat mereka beroperasi," ungkap Pendiri Jidobox, Masana Takahashi, seperti dikutip dari situs Kr-Asia, Senin, 8 Februari 2021.

Ia pun mengaku tidak punya alasan kuat untuk percaya Gojek akan memenangkan pasar internasional sementara kalah di dalam negeri, yang memiliki keunggulan sebagai pemain lokal. Bukan tanpa alasan Takahashi berkata demikian.

Secara internasional, Gojek kalah dari Grab. Mereka baru masuk Vietnam pada 2018 dengan nama merek lokal, GoViet. Tahun berikutnya, Thailand menjadi sasarannya dengan menerbitkan Get. Namun, pada Juli 2020, Gojek mengumumkan penyatuan merek, sebuah langkah yang sangat mahal karena hanya memperburuk keuangan perusahaan.

Adapun Tokopedia, startup lebih memilih untuk tetap berpegang pada pasar dalam negeri dan belum berkembang secara internasional. Tidak jelas bagaimana persatuan antara Gojek dan Tokopedia akan meningkatkan daya saing mereka di pasar regional, karena kedua platform kehilangan pijakan di dalam dan luar negeri.

Perusahaan yang lebih besar tidak selalu berarti perusahaan yang sukses secara global. Gojek dan Tokopedia akan memiliki basis yang jauh lebih besar untuk bekerja, tetapi itu tidak menjamin mereka sukses secara internasional.

"Ini seperti 'dua pemain nomor dua' bergabung untuk mencoba bersaing dengan pemain terkemuka," tegas sumber lai menambahkan, yang tidak ingin disebut identitasnya. Baik Gojek maupun Tokopedia menolak berkomentar mengenai spekulasi terkait potensi merger mereka.

Akan tetapi, laporan media baru-baru ini menunjukkan kedua perusahaan sedang menjajaki opsi seperti struktur perusahaan induk, di mana Gojek dan Tokopedia masih dapat beroperasi secara independen sambil mengakses ekosistem satu sama lain.

Apabila keduanya resmi menyatu, maka hasilnya akan menjadi ekosistem teknologi yang kuat yang menghubungkan jutaan pelanggan, pedagang, serta mitra pengemudi — yang berakar di Indonesia tetapi memiliki tapak regional.

"Merger Gojek dan Tokopedia dapat mendorong lebih banyak sinergi antara kedua perusahaan, daripada layanan yang tumpang tindih. Mereka akan memiliki kemampuan untuk berjalan mandiri tanpa mengganggu bisnisnya satu sama lain," kata Wakil Presiden Bidang Investasi MDI Ventures, Aldi Adrian Hartanto.

MDI Ventures diketahui merupakan cabang investasi milik Grup Telkom, yang juga salah satu investor Gojek. Lantas, apakah merger Gojek dan Tokopedia akan mulus? Aldi menyebut pihak ketiga yang mungkin akan mempersulit merger keduanya adalah Ovo.

Hal itu karena layanan pembayaran digital di Indonesia tersebut saat ini merupakan penyedia pembayaran elektronik eksklusif untuk Tokopedia dan Grab. Pesaing Gojek ini memegang 44,2 persen saham Ovo, sementara Tokopedia memiliki 42 persen, menurut data perusahaan riset M2 Insights.

Baca juga: Lagi Dipepet Gojek, Nasib Tokopedia Jangan Seperti Bukalapak

"Jadi, apabila merger sukses, kemungkinan besar Gojek mendorong platform fintech mereka, Gopay, mauk ke dalam ekosistem Tokopedia sehingga mengikis eksklusivitas Ovo," jelas dia.

Selain itu, Tokopedia juga diwajibkan untuk menjual sahamnya di Ovo, karena Bank Indonesia (BI) melarang satu perusahaan untuk memegang saham pengendali di lebih dari satu platform pembayaran digital. “Nah, entitas merger ini akan mendorong supaya Tokopedia memutus hubungan dengan Grab," ungkap Aldi.

Namun, seolah sudah mengantisipasi potensi merger ini, Ovo kabarnya telah mendiversifikasi hubungan dengan platform e-commerce lainnya untuk bermitra. Tercatat, Lazada, Zalora, dan Blibli sudah bekerja sama dengan Ovo sejak tahun lalu.

Gojek dan Tokopedia juga memiliki DNA investor yang sama. Keduanya didukung oleh Sequoia Capital India, Google, dan Temasek. Sementara SoftBank, pemegang saham terbesar Tokopedia, melalui Kepala Eksekutif Masayoshi Son, dilaporkan telah memberikan restu merger.