Meriahnya Orang Kaya Madura Rayakan Mauludan dan Cerita Sukses Haji Holkin

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Bangkalan - Di Madura, tiap bulan Maulid Nabi tiba, salah satu yang selalu jadi perhatian adalah maulidnya orang kaya.

Jumat pagi, 5 November 2021, saya ke Nangoran. Ini sebuah dusun di Desa Dlembeh Dejeh, Tanah Merah, Bangkalan, Jawa Timur. Saya hendak ke rumah Haji Holkin, orang kaya di sana yang menggelar maulidan pagi itu.

Menurut Google maps, dari gapura utama desa, jarak ke rumah Haji Holkin dua kilometer lagi masuk ke dalam. Jalan berkelok mengikuti kontur bebukitan. Sebagian beraspal, sebagian lagi dicor semen.

Rumah Haji Holkin begitu jembar. Luas pekarangannya 1,2 hektare. Ada empat rumah di dalam, musala dan tempat parkir yang mampu menampung belasan mobil.

Begitu sampai, Mulai dari halaman, emper rumah hingga tempat parkir itu, penuh sesak oleh orang. Mulai dari anak-anak, emak-emak juga bapak-bapak. Semua warga Desa Dlembeh Dejeh diundang.

Hitung-hitungan kasar, "Ada tujuh ribuan yang datang," Haji Holkin, kini 63 tahun, memperkirakan jumlah tamu yang datang.

Holkin tampak antusias. Ia menyapa semua tetamu yang datang. Ia berulang-ulang memberi arahan ke anak-anaknya agar tak ada satu pun yang tak kebagian bingkisan. Mengenakan setelah peci, jas dan sarung, Holkin menjadi pusat perhatian para tamu.

Seingat Haji Holkin, tradisi maulid di rumahnya ini sejak 1970-an.Ia meneruskan dari ayahnya dan tak pernah sekalipun 'libur' sampai sekarang. Ia bersyukur, karena dari tahun ke tahun, jumlah undangan terus bertambah banyak dan bertambah meriah.

Selain bingkisan berisi beras, gula, minyak dan camilan, tetamu juga masih diberi uang yang disebut slabet.

Total jendral untuk satu acara ini, keluarga Haji Holkin menghabiskan anggaran sekitar Rp400 juta dan ia tak pernah khawatir tak punya uang untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad dengan meriah.

"Bulan Maulid itu penuh berkah," Katanya. "Meski bisnis sedang merosot karena pandemi, tapi ketika saya niat maulid, ada saja jalannya. Misalnya, barang-barang yang telah lama tidak laku, Tiba-tiba saja ada yang membeli.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Uang 3 Karung

Haji Holkin dan seorang keluarganya
Haji Holkin dan seorang keluarganya

Holkin kelahiran 1958. Selepas SD ia tak sekolah lagi karena sulit ekonomi sepeninggal ayahnya. "Dulu bisa makan saja sudah enak," kenang dia.

Pada 1973, untuk pertama kalinya dalam hidupnya Holkin merantau ke Surabaya membantu bibinya berjualan.

Tapi itu tak lama. Ia kemudian nekat ke Jakarta setahun kemudian. Tak punya seorang pun kenalan, ia menjadi kuli bangunan di ibukota.

Bergelut lama di dunia proyek, menjadi jalan pembuka bagi Holkin berkenalan dengan bisnis besi tua. Seorang juragan besi tua asal Sampang, memercayai Holkin untuk mengurus bisnisnya.Pada 1977, ia memulai usaha besi tuanya sendiri.

"Selain uang, modal utama dalam bisnis adalah kejujuran," Katanya memberi tips bisnis menurut pengalaman hidupnya.

Kejujuran pula yang membuat hidup Holkin berbalik 190 derajat pada 1986. Kala itu, ada kenalannya dari sebuah pabrik shampo mengeluh kesulitan menjual limbah sisa produksi. Dia meminta Holkin mencarikan orang yang mau membeli limbah itu.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, Holkin tak perlu mencari pembeli. Pembeli limbah justru yang mendatangi Holkin. Peristiwa inilah yang menjadi cikal bakal PT Tiga Sekawan Sejahtera, perusahaan pengelolaan limbah non-B3 milik Holkin saat ini.

"Dari jualan limbah pertama itu, saya ingat, saya bawa uang tiga karung dari bank," Kenangnya.

Saksikan Video Pilihan Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel