Merinding, Air Mata Legenda Arsenal Kenang Kekejaman Ibu dan Ayah Tiri

Robbi Yanto
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pecinta sepakbola Inggris era 1990-2000 tentu tidak asing lagi dengan nama Ian Wright. Ia adalah salah satu penyerang terbaik di Premier League dan melegenda bersama Arsenal.

Wright merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub (185 gol) sebelum Thierry Henry memecahkan rekornya di tahun 2005 dengan torehan 228 gol.

Meski demikian, Wright masih dikenal sebagai loyalis Arsenal. Ia kerap mendukung The Gunners, meski tidak segan-segan mengeluarkan kritikan keras jika Arsenal tampil mengenaskan.

Wright bermain untuk Arsenal pada 1991-1998. Sebelumnya, ia enam musim memperkuat Crystal Palace 1985- 1991.

Pada tahun 1998, Wright memutuskan mengakhiri karirnya di Arsenal. Ia sempat ke West Ham, Nottingham Forest dan Celtc, sebelum pensiun di Burnley pada tahun 2000.

Wright telah menancapkan namanya sebagai pemain yang disegani di Tanah Inggris. Di level timnas, dia mencatatkan 33 penampilan dan mencetak sembilan gol.

Tapi, tahukan kamu jika Wright pada masa kecil dulu pernah mengalami neraka dunia?. Wright terisak-isak saat dia mengingat pelecehan dan penyiksaan masa kecil yang kejam.

Wright baru-baru ini, kembali ke rumah masa kecil di London Selatan untuk pertama kalinya sejak 50 tahun lalu.

Lama ia tak pernah kembali karena ingin menyembuhkan bekas luka abadi yang membuatnya menderita akibat keluarga yang tidak harmonis.

Luka itu datang lagi, teringat kembali bagaimana ayah tirinya sangat kejam menyiksa ibunya.

"Dia mencekik leher ibuku yang sangat kecil. Itu hanya membuatku merasa tidak berdaya,” kata Rwight dalam film dokumenter BBC One,.

“Ibuku mencoba untuk meminta maaf saat dia memegangi tenggorokannya. Ketika saya hendak tidur, saya tidak bisa mengingat betapa tak berdayanya ibu," sambungnya.

Lima puluh tahun berlalu dan Wright masih sering memiliki kilas balik yang jelas tentang kekerasan yang membuatnya cemas dan takut setiap hari di masa kanak-kanaknya.

Tapi bukan kebrutalan ayah tirinya yang paling menyakitkan. Namun, siksasaan sang ibu kandung yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.

Ibu menyiksanya secara terus-terusan, memukul, menampar dan dengan kejam mengatakan kepadanya bahwa dia membencinya dan berharap Wright gugur sebelum dilahirkan.

"Dia secara teratur memukuli saya, tetapi hal yang dia katakan adalah yang sangat menyakitkan,” kenangnya.

“Dia berkata: 'Seandainya aku menggurkanmu.' Dia mengatakannya beberapa kali kepada saya. Saya tahu apa artinya," ucapnya.

Meski demikian, Wright mengaku bahwa dia masih mencintai ibunya dan berjuang dengan konflik internal yang berkecamuk di dalam dirinya. Dia mencoba memaafkan sang ibu, demi anak-anaknya

“Saya sangat mengagumi dan mencintainya. Dan ada kalanya aku benar-benar membencinya. Ini sangat rumit. Aku perlahan memaafkannya. Akhirnya, seorang psikolog membantu Ian membuat terobosan," jelasnya.