Merindukan Ayah, Merindukan Kebersamaan yang Kini Tinggal Kenangan

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

TERKAIT: Bagi Anak Perempuan, Ayah adalah Sosok Pahlawan Hebat Pertama di Hidupnya

TERKAIT: Di Balik Sosok Ayah yang Tampak Kuat, Ada Rasa Lelah yang Disimpan Sendiri

TERKAIT: Ayah, Sosok Paling Sabar yang Jadi Sumber Kekuatanku untuk Selalu Tegar

***

Oleh: Fuatuttaqwiyah

Bapak, hampir 9 bulan bapak berpulang. Rasanya masih belum percaya bapak sudah ada di alam yang lain. Aku masih merasa bapak hanya pergi jauh dan akan kembali berbincang denganku lagi. Namun, aku segera sadar diri. Melihat gundukan tanah merah itu membuatku yakin aku hanya bisa bertemu denganmu lewat mimpi atau di akhirat nanti. Amin.

Terakhir Berbincang

Kenangan perbincangan terakhir itu begitu menyesakkan kalbu. Kita tertawa bebas tanpa beban di hari pernikahan adik. Sudah lama tawa itu tidak hadir di perbincangan kita. Aku hanya bisa mengobrol sebentar dengan bapak. Selebihnya hanya pertanyaan demi pertanyaan yang kujawab dengan singkat.

Aku merindukan bapak yang selalu mendoakanku. Doa bapaklah yang membuatku bisa seperti ini. Dalam diamnya bapak, ada doa dan kebanggaan yang terselip untukku. Sayangnya aku baru tahu setelah bapak tiada. Kupikir bapak tidak suka dengan keberhasilan yang kuraih saat ini.

Kendala Komunikasi

Aku sadar, dibandingkan saudaraku yang lain, durasi pertemuan dan komunikasiku dengan bapak terbilang minim. Terlebih setelah aku menikah dan jauh dari rumah bapak. Aku hanya mampu mendoakan bapak dari jauh.

Jujur, aku juga ingin seperti adik-adik. Bisa mengobrol bebas dengan bapak. Namun, aku merasa sungkan dan tidak enak hati. Maklum, sejak kerja dan merantau jauh, komunikasi memang menjadi kendala.

Saat aku ingin mendekat, bapak keburu mangkat. Hal yang sangat kusesali kini, bahkan saat bapak sakit pun aku tidak bisa datang karena pandemi. Penyesalan itu kutebus dengan doa yang terus kupanjatkan setiap habis salat. Begitu juga kiriman ayat-ayat suci yang kulantunkan untuk bapak dan ibu.

Titip Rindu Buat Ibu

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Samoliotova
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Samoliotova

Bapak pasti sudah bertemu dengan ibu. Sampaikan salamku pada beliau. Aku mencintai bapak dan ibu. Aku tidak pernah menyesal telah dilahirkan oleh ibu. Aku justru berterima kasih kepada bapak dan ibu. Karena bapak dan ibulah aku bisa seperti sekarang.

Bapak, sebentar lagi cucumu akan lahir. Kata dokter, laki-laki. Semoga kelak ia mewarisi kebaikan dan keberkahan dari bapak dan meneruskan perjuangan bapak.

Terima kasih bapak. Akhirnya aku tahu begitu banyak orang yang sayang bapak, menghormati bapak, dan menjadi murid-murid bapak. Maafkan anakmu yang baru mengetahui kehebatan dan kebesaran nama bapak.

Pak, semoga kelak kita bertemu di surga-Nya. Amin.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel