Merti Tembakau, Cara Petani di Sleman Curhat dan Bersyukur

Merdeka.com - Merdeka.com - Ratusan petani tembakau di Kabupaten Sleman menggelar acara Merti Tembakau. Merti Tembakau ini dikemas sebagai acara doa serta makan bersama, dengan harapan agar petani tembakau di tahun 2023 bisa semakin baik nasibnya.

Merti Tembakau ini digelar di Omah Seni Kali Opak yang berada di Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, DIY, Sabtu (12/11). Selain dihadiri oleh petani, hadir pula para buruh pabrik yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (RTMM SPSI) Yogyakarta.

Dalam acara Merti Tembakau ini, sejumlah tumpeng, ingkung ayam dan berbagai makanan lainnya disertai dengan tembakau hasil olahan petani di Sleman yang dikemas dalam plastik-plastik, didoakan setelahnya kemudian dimakan bersama-sama.

Sekretaris Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Sleman Triyanto mengatakan, Merti Tembakau ini menjadi ajang bagi petani untuk berdoa agar panen ke depannya bisa lebih baik. Triyanto mengungkapkan petani tembakau di Sleman semakin tahun semakin banyak menghadapi tantangan.

Triyanto menjabarkan permasalahan petani tembakau di Sleman selain faktor cuaca yang belakangan ini tak menentu, juga ditambah dengan terus berkurangnya lahan pertanian. Di tahun 2016 lalu, lahan pertanian tembakau di Sleman masih mencapai 1.300 hektare sementara di tahun 2022 hanya tersisa 50 hektare.

Turunnya area lahan tembakau ini tak lepas dari alih fungsi lahan yang terjadi di Sleman. Sejumlah area pertanian berubah fungsi menjadi perumahan maupun pabrik.

Selain itu masalah cuaca juga menjadi kendala bagi petani. Musim hujan yang berkepanjangan membuat pertanian tembakau tidak bisa berkembang maksimal.

"Untuk potensi pertanian tembakau di Sleman itu sangat besar. Dalam setahun kami bisa menghasilkan 160 ton tembakau dalam satu kali musim panen. Namun memang ada beberapa problem yang dihadapi petani tembakau seperti cuaca dan berkurangnya area lahan pertanian," kata Triyanto.

Triyanto mengungkapkan kondisi petani tembakau ke depan akan semakin berat karena adanya kebijakan pemerintah menaikkan cukai rokok sebesar 10 persen di tahun 2023 mendatang. Kenaikan cukai ini berdampak kepada para petani tembakau.

"Kenaikan cukai ini endingnya akan mengpres (menekan) para petani tembakau. Bahan baku rokok yaitu tembakau pasti akan ditekan harganya supaya murah. Kalau harganya murah pasti banyak yang tidak mau menanam tembakau. Produksi tembakau akan turun dan ini berdampak ke buruh rokok. Tembakau yang diproduksi sedikit, otomatis produksi rokok berkurang dan buruh kehilangan pekerjaannya akhirnya di PHK," tegas Triyanto.

Sementara itu Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa yang hadir di Merti Tembakau ini mengatakan pertanian tembakau di Sleman saat ini tersebar lokasi dan tidak tersentral. Padahal tanaman tembakau dinilai Danang punya potensi yang besar di Kabupaten Sleman.

Danang menuturkan tembakau di Sleman memiliki ciri khas tersendiri. Karena ciri khasnya ini akhirnya tembakau dari Sleman bahkan digunakan untuk daerah-daerah lainnya.

Sejumlah masalah dihadapi oleh petani tembakau, Danang yang merupakan politikus PDI Perjuangan ini menilai faktor cuaca memang sangat berpengaruh kepada sektor pertanian tembakau.

"Melalui Merti Tembakau ini, kami harap bisa jadi jalan tengah, ruang bersama untuk mendiskusikan semua permasalahan terkait tembakau dan nasib petani," ungkap Danang.

Ketua PD Federasi Serikat Pekerja RTMM SPSI DIY Waljid Budi Lestarianto menyebut, acara Merti Tembakau di Sleman ini merupakan ungkapan terima kasih dari pekerja pabrik rokok karena petani masih bersedia menanam tembakau.

Momentum ini menjadi rasa terima kasih pekerja pada petani tembakau dan Pemkab Sleman karena dana bagi hasil cukai tembakau maksimal dimanfaatkan baik untuk petani maupun pekerja pabrik rokok.

"Bulan November ini BLT akan cair juga diberikan untuk pekerja dan petani, kami menyampaikan terima kasih. Tahun 2021 baru 50 persen dan tahun 2022 ini 90 persen buruh mendapat dana bagi hasil, lebih rata. Semoga tahun depan tetap cair agar teman-teman bisa memperbaiki kualitas hidup," ungkap Waljid.

Waljid menerangkan dalam Merti Tembakau ini para buruh berdoa untuk menepis kekhawatiran mereka atas kenaikan cukai rokok antara 5-13 persen pada 2023 nanti. Hal ini dikhawatirkan akan membawa dampak buruk pada para buruh, termasuk kemungkinan pengurangan pekerja.

"Kami khawatir karena cukai rokok akan naik tahun depan hampir 10 persen. Kami khawatir ini membawa dampak pengurangan buruh. Ya harapannya tidak berdampak di Kabupaten Sleman, tidak ada buruh yang dikurangi, karena ada 7000 buruh tembakau di Sleman," tutup Waljid. [cob]