Mertua Baru Memberi Restu di Tahun Ketiga Pernikahan, Ada Cerita Haru yang Terjadi

·Bacaan 7 menit

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: NW

Jodoh datang tanpa kita duga-duga, tidak memandang perbedaan usia, latar belakang bahkan status sosial. Ketika jodoh sudah dipertemukan, maka tidak ada yang bisa menghalanginya selain Allah SWT. Kisahku berjodoh dengan suami berlatar perbedaan status sosial, mungkin bak dalam sinetron yang penuh drama yang menguji kesabaran dan keteguhan.

Pertemuan saya dengan suami berawal di tahun 1996 semasa berkuliah di Bandung. Kala itu, kami berdua menekuni kegiatan yang sama di kerohisan Karisma Masjid Salman ITB sebagai mentor untuk adik-adik SMP dan SMA, tetapi belum saling mengenal satu sama lain.

Sewaktu grand opening Karisma, saya meminta bantuan kepada seorang mentor laki-laki untuk menemani murid bawaan saya yakni adik-adik tuna rungu. Karena di saat yang bersamaan, saya juga bertugas sebagai panitia acara. Sayangnya, saya tidak sempat melihat dengan jelas wajah dan menanyakan nama mentor laki-laki tersebut. Saya hanya memanggilnya “akang”, panggilan umum bagi laki-laki Sunda.

Entah berapa lama si akang menemani adik-adik tuna rungu, sebab setelah acara selesai, saya sudah tidak bertemu dengannya. Beberapa waktu kemudian, saya diserahkan memegang grup pentas seni adik-adik SMA yang sebelumnya dipegang oleh mentor lain. Pertemuan saya dengan mentor tersebut, terungkap bahwa ternyata beliau yang membantu menemani adik-adik tuna rungu saat grand opening.

Sekitar tahun 1998, akang mulai melakukan pendekatan kepada saya. Macam-macam saja yang dia lakukan, mulai dari berkirim surat, mentraktir makan, mengirimi bunga dan coklat, sampai telpon langsung ke tempat kos. Saat itu saya cukup merasa terganggu, apalagi saya tinggal di kosan dengan teman-teman rohis yang religius.

Seseorang yang Memperjuangkan Cinta

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Vershinin89
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Vershinin89

Beliau memang mengatakan terkesan sejak pertama kali melihat saya bersama dengan anak-anak tuna rungu. Sampai pada akhirnya akang menyatakan rasa sukanya kepada saya. Jujur saja, saya tidak berniat untuk pacaran, apalagi bapak melarang anak perempuannya berpacaran atau dekat dengan laki-laki selama masih studi. Jadi, saya sampaikan kepada akang supaya bicara langsung kepada orang tua kalau memang serius menyukai saya.

Ternyata perkataan saya ditanggapi serius oleh beliau. Menjelang akhir kuliah tahun 2003, tanpa sepengetahuan saya, akang memberanikan datang seorang diri ke Jakarta untuk bertemu langsung dengan orang tua.

Saya sangat kaget ketika mengetahui bapak menelepon dan memarahi sebab seorang pemuda tidak dikenal datang kerumah dan lantas bilang suka kepada anak perempuannya. Sementara orang tua tahunya anak perempuannya sedang kuliah di Bandung. Ya, begitulah caranya akang membuktikan kesungguhannya.

Semakin lama saya mulai ada kecenderungan hati pada akang. Beliau pun semakin terbuka menceritakan latar belakang keluarganya dan kondisi ia sebenarnya. Mengejutkan saat saya mendengar kalau akang sudah lama dijodohkan oleh orang tuanya dengan perempuan yang berprofesi sama sebagai dokter serta berasal dari status sosial yang setara.

Selama ini saya memang tidak pernah tahu kalau akang berasal dari keluarga yang berada. Kami berdua berbeda kampus, dan hanya bertemu dalam kegiatan rohis di Masjid Salman ITB.

Penampilan beliau cukup sederhana dan sopan, sama sekali tidak menonjolkan sebagai anak orang berada. Melihat halangan terlalu besar karena perbedaan status sosial di antara kami, saya meminta akang untuk mundur dari keseriusannya. Saya sudah dapat menduga orang tuanya tidak akan menyetujui hubungan kami.

Kabar kedekatan kami telah diketahui oleh orang tua akang, setelah akang memutuskan sepihak perjodohannya. Beliau memberanikan diri memberitahu orang tuanya perihal kedekatan kami. Dan benar dugaanku sebelumnya, orang tuanya menolak dengan tegas karena perbedaan status sosial.

Berbagai cara dilakukan orang tuanya agar akang tidak lagi berhubungan dengan saya. Tapi justru sebaliknya, semakin diuji, semakin bulat tekad untuk menikah dengan saya. Selepas lulus kuliah, saya kembali pulang ke Jakarta dan kami berhubungan jarak jauh.

Akang memberikan pager (alat komunikasi untuk mengirim dan menerima pesan pendek yang populer pada tahun 90-an) agar kami mudah saling berkomunikasi. Kesungguhan akang mengajak menikah dibuktikan dengan melamar seorang diri menemui langsung orang tua di Jakarta.

Saat itu, bapak sedang sakit yang menyulitkan untuk berbicara sehingga hanya ibu yang dapat mewakili. Tatkala ibu mendengar penjelasan akang, ibu menolak lamaran akang. Ya, saya bisa merasakan bagaimana perasaan seorang ibu apabila mendengar anak perempuannya direndahkan hanya karena perbedaan status sosial.

Saya bingung harus memihak pada ibu atau akang yang sudah berani “mati” memperjuangkan saya di hadapan orang tua kami masing-masing. Tak ingin patah arang, akang mencoba kembali menemui ibu.

Alhamdulillah, ibu kemudian berkenan menyetujui dan kami bertiga berangkat menemui salah seorang kerabat ibu yang dituakan untuk dimintakan pendapat dan nasihat. Bersyukur keluarga menyetujui pinangan akang, rencana pernikahan kami diadakan dua minggu sesudahnya.

Perbedaan Status Sosial

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Dmitry+Sheremeta
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Dmitry+Sheremeta

Saya mulai sibuk mengurus segala keperluan menikah tanpa dibantu orang lain. Kami hanya punya dana terbatas, akang memberikan uang satu juta untuk biaya pernikahan. Saya memaklumi keadaan akang yang rumit dan sulit semenjak orang tuanya mengetahui kedekatan kami.

Alhamdulillah, saat itu saya sudah mulai bekerja sehingga dapat membantu membiaya urusan pernikahan. Ibu hanya mengundang kerabat-kerabat terdekat saja. Tidak ada catering makanan, hanya saudara-saudara yang membantu ibu memasak dan menyiapkan makanan untuk para tamu.

Tata rias dari seorang teman yang memberikan harga murah, baju pengantin hanya kebaya putih sederhana yang dibuat oleh penjahit rumahan. Pengajian digelar sehari sebelum akad nikah dilangsungkan. Cincin pernikahan sudah dibelikan di Bandung sebelum kedatangan akang ke Depok. Sebagai mahar, saya cukup meminta buku Al-Quran dan Hadist.

Tepat di tahun 2003, kami melangsungkan pernikahan dengan sangat sederhana. Menunggu kedatangan akang, hati saya selalu was-was, bagaimana kalau akang tidak dapat datang terhalang oleh orang tuanya.

Alhamdulillah, akang datang bersama dua orang temannya, tiada orang tua maupun sanak keluarga yang menemani. Kondisi bapak saya yang sedang sakit, maka diwakilkan kepada penghulu dalam proses ijab kabul. Meski diliputi kesedihan, rasa bahagia dan syukur akad nikah berjalan dengan lancar.

Seminggu setelah menikah, suami kembali ke Bandung untuk melanjutkan studi. Setahun awal pernikahan, kami harus terpisah jarak. Suami mengunjungi setiap sebulan sekali, itupun dilakukan sembunyi-sembunyi dari orang tuanya.

Hingga suami memutuskan untuk memboyong saya ke Bandung. Kami memulai segalanya dari nol. Tinggal mengontrak di kosan sederhana di daerah Taman Sari. Menghuni sekamar kecil, kasur pun dipinjamkan dari ibu kos, dan kami mendaur ulang kardus sebagai tempat baju. Saya salut dengan suami yang tak malu hidup apa adanya dan kami berdua menikmati saja ujian ini.

Restua Mertua

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Vershinin89
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Vershinin89

Berita pernikahan kami akhirnya sampai juga ke orang tua suami. Terbayang betapa marahnya orang tua suami dan reaksi cukup keras yang dilakukan dengan berbagai tekanan-tekanan ditujukan tidak hanya kepada kami berdua, melainkan keluarga saya dan teman-teman yang turut membantu pernikahan kami.

Intinya orang tua suami ingin supaya kami berpisah. Selama dua tahun, kami bergulat menjalani ujian ini. Suami senantiasa menyakinkan saya untuk selalu percaya dengan perkataannya apa pun yang terjadi. Dan itulah yang menjadi pegangan teguh saya melalui segala ujian, percaya dan patuh kepada suami. Meski kami kerap mendapatkan perlakuan sulit, kami berusaha sebisa mungkin untuk tidak melawan dan tetap menghormati orang tua dengan baik.

Tahun ketiga pernikahan, tidak terduga orang tua suami meminta kehadiran kami untuk bertemu. Pertemuan ini seakan menjawab doa yang kami panjatkan agar orang tua berkenan menerima pernikahan kami.

Orang tua suami bermaksud ingin mengadakan hajatan pernikahan kami dan bersilahturahmi bertemu langsung dengan keluarga saya Perasaan saya campur aduk, setelah bertahun-tahun ujian yang dilewati, Allah mengabulkan doa kami.

Tahun 2006, pesta hajatan ngunduh mantu digelar dengan meriah. Orang tua suami yang mengurus segalanya sesuai dengan yang mereka inginkan. Kami berdua hanya mengikuti saja kemauan orang tua. Ya, akhirnya kami bisa merasakan pesta pernikahan yang sesungguhnya. Restu orang tua suami adalah hadiah dari Allah SWT yang paling membahagiakan, lengkap sudah mendapatkan “status sah” dari kedua orang tua.

Alhamdulillah, 18 tahun sudah perjalanan pernikahan kami dan selalu ada kejutan dari setiap kemudahan yang Allah berikan terutama hubungan kami dengan orang tua baik sebagai anak maupun menantu.

Jalan menjemput jodoh memang tidak selalu mulus sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terkadang kita menemukan kerikil dan ujian yang membutuhkan kesabaran dan keteguhan untuk melewatinya. Namun, yakinlah ketika Tuhan sudah berkehendak, maka sesungguhnya sesudah kesulitan, itu ada kemudahan yang selalu dekat.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel