Meski ada Mandalika, Pengamat: Jangan lupakan kawasan wisata Senggigi

·Bacaan 2 menit

Pengamat pariwisata Taupan Rahmadi mengingatkan agar kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat, jangan sampai dilupakan, setelah pengembangan kawasan wisata lain di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Senggigi tidak boleh dilupakan, Senggigi harus terus dijaga, Senggigi harus terus dibenahi dan dipromosikan," katanya kepada Antara, di Mataram, Selasa, saat ditanyakan fokus instansi terkait saat ini terhadap pembangunan kawasan wisata Mandalika di Lombok Tengah, dibandingkan kawasan Senggigi yang telah lebih dahulu terkenal baik di mancanegara maupun domestik.

Pengamat pariwisata yang juga mantan juru bicara Sandiaga Uno bidang pariwisata pada 2020, menyatakan kawasan wisata Senggigi merupakan bagian dari kekuatan pemulihan pariwisata nasional. Ia pun mengatakan jangan ragu pariwisata akan bangkit kembali asalkan bersama-sama menghadapi pandemi COVID-19 ini.

Dari pantauan Antara, kawasan wisata Senggigi saat ini bisa dikatakan "hidup enggan, mati pun enggan". Terlihat dari lesunya kawasan tersebut yang pada 1990-an sangat populer di dalam negeri maupun internasional.

Saat memasuki kawasan tersebut, tidak terlihat lagi keriuhan para wisatawan yang hilir mudik atau sekadar nongkrong di restoran atau kedai kopi. Sejumlah restoran atau kedai kopi sudah lama menutup diri karena ketiadaan pengunjung.

Baca juga: Kementerian PUPR pakai dana tanggap darurat perbaiki jalan Senggigi

Matinya denyut industri pariwisata tersebut sudah terasa sejak pasca gempa pada 2018, sempat bangkit. Namun pada pertengahan 2020 kembali mati suri sejak pandemi COVID-19.

Sementara itu Pemerintah Desa Senggigi bertekad menghidupkan kembali melalui desa wisata berbasiskan masyarakat.

"Justru dengan pandemi COVID-19 ini, peluang menata desa wisata dengan sebaik mungkin. Hingga ketika new season benar-benar telah siap," kata Kepala Desa Senggigi Mastur SE.

Tahap pertama yang akan ditata adalah menggali potensi baik wisata, budaya, dan kuliner, setiap dusun di Desa Senggigi, seperti pasar jajanan tradisional dan Taman Trigona Mangsit.

Selanjutnya akan membuat soft tracking di pegunungan Mangsit yang berada di sisi timur Pantai Senggigi. Pasalnya, menurut Kades Mastur, selama ini hanya fokus pada wisata pantai, padahal di sisi pegunungan juga banyak potensi yang bisa digali.

Di hutan Senggigi akan dibuat pula areal berkemah, bahkan tempat berlatih panahan. Akan dibuat pula homestay.

Selain itu, kawasan Senggigi juga memiliki taman wisata alam yang di dalamnya terdapat jalur tracking sampai air terjun. Pengunjung bisa menikmati suara burung, bahkan bisa melakukan pengamanan berbagai jenis burung yang unik.

Baca juga: Hey Corona! Kembalikan pariwisata NTB

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel