Meski Ekonomi Cedera, Mendag Sebut Indonesia Harus Lari sampai Finis

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menganalogikan kondisi perekonomian Indonesia saat ini seperti seorang pelari yang cedera ketika sedang maraton. Meski tengah sangat kesulitan, Indonesia disebutnya harus terus berlari hingga sampai di ujung garis finis.

"Sekarang kita lagi lari maraton tapi tanjakan, tergopoh-gopoh dan terjadi injury di dalam badan kita. Ini memang tidak patah kaki, tapi ankle-nya ini terkilir. Kita musti bereskan yang injury, ankle kita. Kita enggak punya banyak waktu karena musti finis maraton," imbuhnya, Selasa (26/1/2021).

Menurut Mendag, hal pertama yang harus diperbaiki yakni struktur produksi dan konsumsi di dalam negeri. "Konsumsi kita di GDP lebih dr 50 persen. Kalau konsumsi dan produksi terganggu, growth ekonomi di 2021 akan terkena secara langsung," tegasnya.

Lutfi pun membeberkan cara, bagaimana agar struktur produksi dan konsumsi pulih. Dia akan memastikan bahwa seluruh arus barang yang masuk ke Indonesia pada 2021 ini akan kembali normal atau lebih baik dari tahun sebelumnya.

"Saya akan perbaiki tata kelola di perdagangan. Saya memastikan 70,3 persen dari barang impor siap melayani industri," ujar dia.

"Kalau industri siap, kita perlu menyiapkan supaya konsumsi berjalan. saya akan bicara enggak cuma dengan perdagangan, tapi Kementerian Perindustrian dan Keuangan. Karena kita membutuhkan insentif-insentif, bukan hanya berupa finansial tapi insentif kepercayaan kepada pasar untuk orang membeli," sebutnya.

Kementerian Perdagangan pun disebutnya akan meningkatka konsumsi pada barang-barang otomotif yang turun hampir sekitar 20 persen.

"Jadi kita perlu memberi insentif supaya market, orang mau beli atau berinvestasi kepada barang-barang seperti otomotif. Karena begitu sektor otomotif jalan, bisa menjalankan gerbong kereta sektor produksi," tukas Mendag.

Pemulihan Ekonomi RI Dinilai Lebih Cepat Dibanding Malaysia dan Singapura

Suasana arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Suasana arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Pemulihan ekonomi Indonesia akibat pandemi Covid-19 dinilai akan lebih cepat dibandingkan beberapa negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Penilaian tersebut berdasarkan hasil survei McKinsey.

"McKinsey pun melakukan survei yang memperlihatkan Indonesia akan mengalami pemulihan ekonomi yang jauh lebih cepat dibandingkan pemulihan ekonomi di negara tetangga khususnya Thailand, Malaysia dan Singapura," ujar Direktur Corporate Banking BNI Silvano Rumantir, Jakarta, Selasa (26/1/2021).

Meski Indonesia selangkah di depan, negara yang akan lebih dahulu pulih nantinya adalah Vietnam. Sebab, negara tersebut memiliki jumlah kasus positif Covid-19 yang jauh lebih rendah. "Vietnam diekspektasikan bisa lebih cepat recoverynya dibanding Indonesia, karena jumlah kasus positif Covid lebih rendah. Sehingga dampak kontraksi ekonomi lebih rendah dibanding Indonesia," papar Silvano.

Sementara itu, pemulihan ekonomi di Singapura dan Malaysia lebih lambat akibat ketergantungan negara tersebut terhadap perdagangan luar negeri. Indonesia sendiri, sebagian besar menggantungkan ekonominya terhadap konsumsi dalam negeri.

"Berbeda dengan Singapura, Malaysia yang bergantung pada perdagangan luar negeri, perekonomian kita dominan bertumbuh pada domestik, konsumsi sehingga diyakini Indonesia lebih cepat untuk recovery," katanya.

Prediksi Ekonomi RI

Beberapa lembaga dunia seperti IMF dan World Bank memprediksi pergerakan ekonomi Indonesia 2021 akan positif. Adapun perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menurut lembaga tersebut adalah 5 persen.

"Kita lihat beberapa lembaga seperti IMF dan World Bank optimis pergerakan ekonomi Indonesia di 2021 akan positif setelah di tahun yang lalu mengalami kontraksi. Tetapi memang belum bisa mencapai level pertumbuhan pre Covid-19 Perkiraan pertumbuhan 2021 kisaran sampai 5 persen. Menurut saya ini level yang cukup baik untuk menjadi awal dari recovery," tandas Silvano.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: