Meski Membaik, Pertumbuhan Ekonomi Kepri Kuartal IV 2020 Diprediksi Masih Minus

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kepulauan Riau mengalami minus di semester II 2020. Hal tersebut dinyatakan oleh Kantor Perwakilan Wilayah (KPw) Bank Indonesia Provinsi kepulauan Riau.

Kepala Kantor Perwakilan Wilyah (KPw) Bank Indonesia Kepri Musni Hardi Kasuma Atmaja mengatakan pertumbuhan ekonomi melambat dimasa Pandemi Covid 19 saat ini dikarenakan sektor industri Pariwisata belum optimal.

"Sebenarnya ini sedang membaik jadi kita sudah melewati batas bawah, Batam atau Kepri sudah menuju ke pemulihan karena kemarin minus 6,6 persen sekarang minus 5,8 persen" kata Musni di Panggung Engkau putri saat Batam Center, Senin (9/11/2020). Lebih lanjut, Musni menyatakan polanya sudah membaik dimana di Provinsi Kepri hampir 73 persen ekonomi di topang oleh 3 sektor yakni industri pengolahan, Industri kontruksi dan Industri pariwisata. "Kita tau sendiri Pariwisata belum bisa di buka secara luas masih terbatas padahal bisnis potensial, nah ini tentunya butuh meyakinkan harapnya nanti dibukanya secara bertahap sehingga terus memulih," kata Kepla Kepala KPw BI Kepri. Musni berharap dengan dengan dibukanya industri Pariwisata makin meluas akan berdampak dikwartal 4 ekonomi Kepri akan lebih membaik dan minusnya semakin kecil bawah. Musni menjelaskan sektor-sektor yang berpengaruh lajunya [pertumbuhan ekonomi meliputi pariwisata di provinsi Kepri sekitar 2,8 juta itu wisatanya setahun itu mayoritas Malaysia dan Singapura, sisanya ada China ada negara lain karena akses belum dibuka secara luas maka sektor perkembangan pariwisata belum pulih begitu signifikan.

Kemudian, sektor industri pengolahan agak lumayan membaik dibandingkan pariwisata.

"Memang demand-nya (permintaan) maih berjalan dari negara luar, diharapkan di kuartal IV lebih tinggil lagi pertumbuhannya," kata Dia.

Dimana kunci untuk memulihkan ekonomi disaat situasi Covid khususnya di Kepri diharapkan protokol Covid lebih baik ,pengelolaan kesehatan lebih baik agar siklus ekonomi terus berjalan dan barang industri semakin meningkat.

Musni menyebutkan Pertumbuhan Ekonomi di Kepri hingga minus 5,8 persen juga dipengaruhi oleh resesi ekonomi nasional dengan faktor yang sama. melambannya sektor pengolahan, kontruksi dan pariwisata.

"Korelasi dengan resesi faktornya sama 3 persen, sejalan dengan itu, industri juga besar, pariwisata besar terhadap perekonomian jadi sektor-sektor utama terdampak oleh Covid Kepri maupun nasional." Ujar Musni.

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri mencatat pertumbuhan ekomomi triwulan-III 2020 minus 5,81 persen. Angka tersebut mengalami kontraksi atau pertumbuhan 0,81 persen dibandingkan triwulan-II 2020 pada angka minus 6,62 persen.

Pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan-III 2020 dicapai oleh sektor informasi dan komunikasi 19,56 persen; diikuti administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib 11,03 persen; dan jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 4,06 persen.(Ajang Nurdin).

Ekonom Minta Pemerintah Lebih Realistis Membuat Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi

Pekerja tengah mengerjakan proyek pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Sabtu (15/12). Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 mendatang tidak jauh berbeda dari tahun ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja tengah mengerjakan proyek pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Sabtu (15/12). Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 mendatang tidak jauh berbeda dari tahun ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 minus 3,49 persen. Angka ini tidak sesuai prediksi Presiden Joko Widodo (jokowi) atau Menteri Keuangan Sri Mulyani yang di angka minus 3.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad pun meminta kepada pemerintah untuk lebih cermat dalam membuat proyeksi atas pertumbuhan ekonomi nasional. Terlebih hingga saat ini Indonesia masih dihadapkan pada persoalan sulit dalam memutus penyebaran virus Covid-19.

"Semua tidak menyangka kalau pertumbuhan ekonomi di kuartal III kemarin minus 3,49 persen. Jauh lebih tinggi di bandingkan perkiraan pemerintah yang hanya minus 3 persen. Saya kira ini menjadi pertanyaan bahwa apa yang diperkirakan oleh pemerintah, kita perlu melihat sesuatu yang lebih realistis dari apa yang terjadi dan juga melihat angka-angka lebih teliti," tegasnya dalam Press Conference INDEF & Launching Indeks Konsumen Indonesia (IKON-Indonesia), Minggu (8/11/2020).

Padahal, sambung Tauhid, di masa kedaruratan kesehatan ini pemerintah seyogyanya lebih sigap dalam mengevaluasi program yang telah bergulir. Sehingga mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional.

"Kita selalu dalam beberapa waktu terakhir sejak BPS melaunching beberapa hari lalu, apakah memang tanda pemulihan ekonomi terjadi atau tidak?. Ataukah memang sebenarnya kita memasuki fase baru yabg berbeda dengan sebelumnya?," paparnya.

Oleh karena itu, pemerintah saat ini diminta untuk segera mengevaluasi berbagai program penanganan pandemi Covid-19 yang telah bergulir. Menyusul melesetnya target pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Kuartal III tahun ini.

"Itu menjadi catatan untuk pemerintah menyiapkan langkah langkah yang diperlukan. Kalau kita lihat sebenarnya belum ada perbaikan," imbuh dia

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: