Meski Pandemi, Omzet Pegadaian Tembus Rp 165 Triliun di 2020

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT Pegadaian (Persero), Kuswiyoto mengatakan selama pandemi Covid-19 tahun 2020, kinerja perusahaan masih berjalan dengan baik. Semua target kinerja tercapai kecuali laba perusahaan.

"Kinerja pegadaian masih lebih bagus, semua QPA tercapai kecuali yang laba perusahaan tidak tercapai," kata Kuswiyoto dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi VI DPR-RI, Jakarta, Senin (8/4/2021).

Omzet perusahaan di tahun 2020 mencapai Rp 165 triliun. Artinya, kata Kuswiyoto setiap bulannya Pegadaian memberikan kredit kepada masyarakat sekitar Rp 13 triliun - Rp 14 triliun. Sementara outstanding loan tercatat Rp 57,4 triliun.

"Omzet kami Rp 165 triliun ini dengan outstanding loan hari ini Rp 57,47 triliun," kata dia.

Selain itu, sampai akhir 2020, aset perusahaan tercatat Rp 71,4 triliun, tumbuh 8,4 persen dibandingkan tahun 2019. Pendapatan perusahaan juga naik 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

"Aset kita sampai akhir 2020 Rp 71,4 triliun, tumbuh 8,4 persen," kata dia.

Biaya pencadangan juga naik 42 persen karena banyak nasabah UMKM yang terkena dampak pandemi. Sehingga perusahaan melakukan pencadangan untuk menutupi nasabah yang tidak bisa memenuhi kewajibannya.

"Kami tingkatkan pencadangan piutang yang cukup besar, makanya peningkatan biaya tinggi," kata dia.

Dengan pencadangan biaya tersebut, kata Kuswiyoto, Pegadaian tahun 2021 ini tidak perlu melakukan pencadangan tambahan. Sehingga bisa fokus untuk pada kegiatan operasional.

Dari sisi jumlah nasabah, pada tahun 2020 juga mengalami peningkatan sebesar 22,2 persen. NPL berada di level 1,01 persen karena telah dilakukan restrukturisasi kredit bagi nasabah yang mengalami dampak pandemi Covid-19.

"NPL 1,01 persen, ini bagus karena sebagian kredit kita restrukturisasi dan belum masuk NPL," kata dia.

Anisyah Al Faqir

Merdeka.com

Pegadaian Pesan 15 GeNose untuk Deteksi Covid-19 ke Karyawan

GeNose C19. (Dok Kementerian Perhubungan)
GeNose C19. (Dok Kementerian Perhubungan)

PT Pegadaian (Persero) memesan 15 alat deteksi Covid-19 GeNose C-19 hasil pengembangan peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk digunakan di lingkungan perusahaan.

Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Rektor UGM Panut Mulyono kepada Direktur Utama Pegadaian Kuswiyoto secara virtual, Jumat (5/2/2021).

BACA JUGA

Kawal Produksi Padi di Awal Tahun, Kementan Lakukan Pengendalian Hama Wereng Dalam kesempatan tersebut, Kuswiyoto mengungkapkan optimismenya bahwa GeNose dapat membantu Pegadaian untuk meminimalisir penyebaran virus Covid-19 di lingkungan perusahaan.

"Nantinya alat ini akan digunakan tidak hanya untuk karyawan, tapi juga masyarakat yang membutuhkan," ujar Kuswiyoto.

"Saat ini kami konsisten melakukan tes secara berkala untuk seluruh karyawan, dimana tes tersebut membutuhkan biaya yang relative cukup besar. Saya yakin, keberadaan GeNose bisa membantu Pegadaian melakukan efisiensi biaya terkait percepatan deteksi dini bagi karyawan yang terinfeksi," jelas dia.

Sementara Rektor UGM Panut Mulyono berharap, GeNose bisa bekerja maksimal dan akurat serta bermanfaat bagi banyak orang.

"Kami berharap GeNose bisa membantu screening dan memisahkan antara orang-orang yang sehat, dengan orang yang terinfeksi Covid-19. Hal ini tentu baik dilakukan demi menciptakan rasa aman, nyaman dan meningkatkan produktivitas yang akan turut meningkatkan kinerja karyawan pada perusahaan," ucap Panut.

GeNose C-19 bekerja mendeteksi Volatile Organic Compound (VOC) yang terbentuk karena adanya infeksi Covid-19 yang keluar melalui hembusan nafas ke dalam kantong khusus.

Selanjutnya diidentifikasi melalui sensor yang kemudian datanya akan diolah dengan bantuan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence).

Selain cepat dalam mendeteksi virus dan memiliki akurasi tinggi, penggunaan alat ini jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan tes Covid-19 lainnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: