Meski Penghasilan Tak Tentu, Ada Cara untuk Mengatur Uang dengan Tenang

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Setiap harinya kita berurusan dengan uang. Menghasilkan uang hingga mengatur uang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Bahkan masing-masing dari kita punya cara tersendiri dalam memaknai uang. Dalam tulisan kali ini, Sahabat Fimela berbagi sudut pandang tentang uang yang diikutsertakan dalam Aku dan Uang: Berbagi Kisah tentang Suka Duka Mengatur Keuangan. Selengkapnya, yuk langsung simak di sini.

TERKAIT: Meski Sudah Menikah, Tetaplah Jadi Perempuan Mandiri dan Berpenghasilan Sendiri

TERKAIT: Benarkah Uang Bisa Membeli Pernikahan, Kehidupan, dan Loyalitas?

TERKAIT: Pengalamanku Bisa Membangun Usaha Sendiri yang Penghasilannya Lebih Besar

***

Oleh: Kazena Krista

Tidak peduli apa pun pekerjaan seseorang ataupun bagaimana caranya memperoleh pendapatan, yang saya tahu pada akhirnya mengatur keuangan adalah bentuk suatu keahlian. Begitu pun dengan saya.

Sebagai seseorang yang tentu saja tidak bisa mengandalkan gaji bulanan seperti kebanyakan orang di luar sana, saya termasuk orang yang bersikap hati-hati dalam membelanjakan uang walaupun saya masih berstatus lajang. Bagaimana tidak, pendapatan saya ditentukan dari proyek yang saya kerjakan; menjadi freelancer boleh dikatakan memiliki tantangannya tersendiri.

Seperti kita tahu, pandemi benar-benar memukul telak ekonomi banyak orang, termasuk saya. Namun, tiap orang memiliki caranya masing-masing untuk bertahan bukan?

Contohnya saya, di saat saya tidak selalu memperoleh pendapatan dari job wedding photography (baca: yang biasanya selalu ada tiap bulan saat sebelum pandemi Covid19 melanda) rezeki masih bisa saya peroleh dari job menulis yang saya kerjakan—atau job desain grafis.

Biasanya, job menulis saya kerjakan ketika para online shop di kota saya membutuhkan jasa caption Instagram atau untuk pembuatan landing page mereka. Thank God, rezeki saya dari menulis juga kerap saya dapat dari memenangkan lomba.

Sedangkan, job desain grafis sendiri baru setahun ini saya rintis. Namun, tentu saja masih kalah saing dengan proyek wedding photography atau menulis saat saya mengerjakannya.

Oleh karena pendapatan tak dapat dipastikan tanggal datangnya—meskipun saya yakin rezeki saya selalu diberikan Tuhan—membuat saya lebih bijak dalam menghargai uang.

Membagi Pos-Pos Pengeluaran

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Tirachard
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Tirachard

Tak peduli, berapa jumlah uang yang saya peroleh saat saya berhasil menunaikan proyek freelance, saya langsung membaginya menjadi pos-pos penting: saving 30%, living 50%, dan playing 20%; saving menjadi yang terutama dari yang lainnya—tak peduli sebelum atau saat pandemi, saya sudah menerapkan ini.

Namun, kunci penting saya mengatur keuangan adalah mencatat segala pengeluaran setiap hari, dan itu saya lakukan tak harus menunggu malam datang melainkan seketika uang saya keluarkan. Saya biasanya mencatatnya di buku catatan kecil saya terlebih dahulu sebelum saya pindahkan pada malam harinya ke buku catatan pengeluaran saya.

Satu lagi, saya tak pernah membulatkan lebih dulu nominal uang yang sudah saya belanjakan; apa yang keluar itu yang saya catat. Pencatatan ini berlaku tentu saja untuk pos living dan playing, sementara pos saving tidak bisa dikatakan pengeluaran melainkan investasi, termasuk zakat.

Dengan rajin mencatat, maka tak ada alasan untuk saya melewatkan sekecil apa pun nominal uang yang sudah saya keluarkan. Meski dikatakan metode mencatat yang saya lakukan selama ini adalah cara yang manual namun itu sangat membantu saya.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel