Messenger RNA: Bagaimana ide lama menghasilkan vaksin Covid-19

·Bacaan 4 menit

Washington (AFP) - Obsesi ilmuwan Hungaria-Amerika Katalin Kariko dalam meneliti zat yang disebut mRNA guna melawan penyakit pernah membuatnya kehilangan posisi dalam fakultas di sebuah universitas bergengsi yang menepis ide itu sebagai jalan buntu.

Kini, karya rintisannya yang membuka jalan bagi vaksin Covid-19 buatan Pfizer dan Moderna bisa menjadi penyelamat dunia dari pandemi 100 tahun sekali.

"Ini sungguh luar biasa," kata dia kepada AFP dalam panggilan video dari rumahnya di Philadelphia. Dia mengaku tidak terbiasa mendapatkan perhatian luas setelah bekerja keras selama bertahun-tahun dalam ketidakjelasan.

Ini menunjukkan mengapa "penting sekali mendukung sains pada banyak tingkatan."

Katalin Kariko (65) menghabiskan sebagian besar tahun 1990-an menulis lamaran mendapatkan hibah untuk mendanai penyelidikannya mengenai 'messenger ribonucleic acid', yakni molekul genetik yang menentukan protein apa yang harus dihasilkan sel yang sangat penting dalam menjaga tubuh kita tetap hidup dan sehat.

Dia yakin mRNA menjadi kunci mengobati penyakit di mana jenis memiliki protein yang tepat bisa lebih banyak membantu, seperti memperbaiki otak setelah mengalami stroke.

Tetapi Universitas Pennsylvania di mana Kariko berada di jalur tepat menuju keprofesorannya, memutuskan mencabutnya setelah menumpuknya penolakan aplikasi hibah.

"Saya baru mau dipromosikan, dan kemudian mereka menurunkan pangkat saya dan berharap saya mau keluar," kata dia.

Saat itu, Kariko bukan warga negara AS dan membutuhkan pekerjaan guna memperpanjang visanya. Dia juga tahu dia tidak akan bisa mengkuliahkan putrinya tanpa potongan harga besar untuk staf.

Dia memutuskan bertahan sebagai peneliti tingkat rendah dengan gaji yang sedikit.

Itu adalah titik terendah dalam hidup dan kariernya, tetapi "Saya cuma beranggapan... Anda tahu, bangku (lab) ada di sini, saya cuma mesti melakukan eksperimen yang lebih baik," kata dia.

Pengalaman tersebut membentuk filosofinya dalam menghadapi kesulitan pada setiap aspek kehidupan.

"Pikirkan baik-baik dan kemudian pada akhirnya, Anda harus bilang 'Apa yang bisa saya lakukan?'

"Karena dengan begitu Anda tidak menyia-nyiakan hidup Anda."

Ketetapan hati itu menurun ke keluarga, putrinya Susan Francia berhasil kuliah di Universitas Pennsylvania di mana dia memperoleh gelar master, dan memenangkan medali emas bersama tim dayung Olimpiade AS pada 2008 dan 2012.

Di dalam tubuh, mRNA mengirimi sel instruksi-instruksi yang disimpan dalam DNA yang merupakan molekul yang membawa semua kode genetik kita.

Pada akhir 1980-an, banyak komunitas ilmiah fokus kepada penggunaan DNA untuk menghasilkan terapi gen, tetapi Kariko percaya mRNA juga menjanjikan karena kebanyakan penyakit tidak diturunkan dan tidak memerlukan solusi yang secara permanen mengubah genetika kita.

Namun pertama-tama, dia harus mengatasi sebuah masalah besar: pada hewan percobaan, mRNA sintetis menyebabkan respons inflamasi besar-besaran karena sistem kekebalan merasakan adanya penyerang dan bergegas melawannya.

Kariko, bersama dengan kolaborator utamanya, Drew Weissman, menemukan bahwa salah satu dari empat blok bangunan mRNA sintetis itu salah - dan mereka bisa mengatasi masalah tersebut dengan menukar dengan versi yang sudah dimodifikasi.

Mereka menerbitkan makalah tentang terobosan ini pada 2005. Kemudian, pada 2015, mereka menemukan cara baru dalam mengirimkan mRNA ke tikus dengan menggunakan lapisan lemak yang disebut "nanopartikel lipid" yang mencegah mRNA mengalami degradasi dan membantu menempatkannya dalam bagian kanan sel.

Kedua inovasi ini adalah kunci bagi vaksin Covid-19 yang dibuat oleh Pfizer dan mitranya dari Jerman, BioNTech, di mana Kariko kini menjadi wakil presiden senior, selain mendapatkan suntikan vaksin produksi Moderna.

Keduanya bekerja dengan memberikan instruksi kepada sel manusia agar membuat protein permukaan untuk virus corona yang menstimulasi infeksi dan melatih sistem kekebalan ketika bertemu dengan virus yang sebenarnya.

mRNA segera terdegradasi dan instruksi yang diberikan pada tubuh tidaklah permanen sehingga menjadikan teknologi ini platform ideal untuk berbagai aplikasi, kata Kariko.

Ini bisa berkisar dari vaksin baru untuk influenza yang lebih cepat berkembang dan lebih efektif ketika generasinya saat ini, sampai pengobatan penyakit baru.

Misalnya, AstraZeneca saat ini tengah mengerjakan pengobatan mRNA untuk pasien gagal jantung, yang mengirimkan protein pemberi isyarat yang merangsang produksi pembuluh darah baru.

Meskipun dia tidak ingin membuat terlalu banyak, sebagai perempuan kelahiran asing yang bekerja di bidang yang didominasi laki-laki, dia kadang-kadang merasa diremehkan di mana orang akan mendekat setelah kuliah guna bertanya "Siapa supervisor Anda?"

"Mereka selalu beranggapan, 'Wanita itu dengan aksen seperti itu, pasti ada orang lebih pintar atau semacamnya di belakang dia,'" kata dia.

Sekarang, seandainya segalanya berjalan baik berkaitan dengan vaksin Pfizer dan Moderna, tidaklah sulit untuk membayangkan panitia Hadiah Nobel memberi penghargaan kepada Kariko dan sesama peneliti mRNA.

Itu bakal menjadi kabar manis bagi Kariko yang almarhum ibunya akan meneleponnya setiap tahun setelah pengumuman itu guna menanyakan mengapa dia tak terpilih.

"Saya bilang pada beliau, 'Dalam hidup saya, tak pernah saya mendapatkan hibah (dari pemerintah pusat), saya bukan siapa-siapa, bahkan fakultas'" kata dia, tertawa. Dan ibunya akan menjawab: "Tetapi kamu bekerja sangat keras!"

ia/ec