Met Office dan Microsoft Akan Buat Superkomputer

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan penyedia layanan prakiraan cuaca, Meteorological Office atau Met Office berencana untuk membangun superkomputer. Rencananya, perusahaan akan menggandeng Microsoft dalam pelaksanaannya.

Kedepannya, superkomputer yang dibuat di Inggris ini diharapkan mampu memberikan prakiraan cuaca yang lebih akurat dari sebelumnya.

Menanggapi hal ini, pemerintah Inggris menyebut pada Februari tahun lalu telah menginvestasikan Rp24,2 triliun dalam proyek tersebut.

"Kemitraan ini merupakan investasi publik yang mengesankan dalam ilmu dasar dan terapan cuaca dan iklim," kata Morgan O'Neill, asisten profesor di Universitas Stanford, seperti dikutip dari BBC, Sabtu (24/4/2021).

Met Office menyebut teknologi ini akan membuat mereka lebih bisa memahami cuaca. Dengan prakiraan cuaca yang lebih akurat, berarti aktivitas orang pada umumnya akan lebih baik.

Begitu pun sebaliknya, jika cuaca buruk, banyak orang akan lebih bisa mempersiapkannya. Tentunya, ini berguna bagi penelitian mengenai perubahan iklim.

Bakal Beroperasi pada 2022

Superkomputer ini rencananya sudah dapat beroperasi pada musim panas 2022 mendatang. Diharapkan akan masuk dalam barisan 25 superkomputer teratas di dunia.

Untuk menghadapi peningkatan komputasi, Microsoft merencanakan pembaruan (meng-update) sistem sekitar satu dekade pasca teknologi itu aktif.

"[Kerja sama] kami akan memberikan data cuaca dan iklim dengan kualitas terbaik dan prakiraan yang lebih akurat yang memungkinkan keputusan untuk memungkinkan orang tetap aman," kata CEO Met Office, Penny Endersby.

Kemampuan Superkomputer

Nantinya, superkomputer akan menyediakan model cuaca secara lebih rinci, menjalankan skenario cuaca yang lebih potensial, meningkatkan perkiraan yang dilokalkan, dan lebih akurat memprediksi cuaca buruk.

Dengan target keakuratan kemampuan tersebut superkomputer ini rencananya akan menggunakan Microsoft Azure dan mengintegrasikan dengan superkomputer Cray Hewlett Packard Enterprise (HPE).

Ketika aktif, ini akan menggunakan energi ramah lingkungan dan memiliki lebih dari 1,5 juta inti prosesor. Dilengkapi dengan lebih dari 60 petaflops atau 60 kuadriliun kalkulasi perdetik.

Dengan demikian, secara teori, hal itu akan memungkinkannya menangani lebih banyak data, lebih cepat, dan menjalankannya simulasi atmosfer dengan lebih akurat.