Metode Crowdsourcing Mudahkan Masyarakat Kenali Hoaks

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat ternyata memiliki tingkat kepekaan yang cukup tinggi terhadap penyebaran hoaks atau informasi palsu. Hal ini terungkap dari penelitian Massachusetts Institute of Technology (MIT) menggunakan metode crowdsourcing. Sekelompok pembaca beranggotakan 12 hingga 20 orang dinilai dapat menyaingi kinerja fact checker profesional.

Crowdsourcing merupakan metode yang dilakukan dengan menampung banyak orang yang ditujukan untuk mencapai suatu tujuan. Melalui metode ini, masyarakat awam sengaja dikumpulkannya ditujukan untuk diteliti sejauh mana mereka menyeleksi hoaks.

Peneliti mengumpulkan sebanyak 1.128 penduduk Amerika Serikat (AS) menggunakan bantuan medium Mechanical Turk Amazon yang kemudian dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok kecil beranggotakan 12 hingga 20 orang.

“Pembaca tersebut tidak terlatih dalam hal pengecekan fakta, dan mereka hanya membaca berita dan kalimat utama, meskipun begitu mereka mampu mencocokkan sesuai dengan kinerja fact checker,” ujar mahasiswa PhD MIT Sloan School of Management, Jennifer Allen.

“Kami rasa itu hal yang menggembirakan,” ujarnya menambahkan.

Para ilmuwan optimistis metode tersebut dapat diterapkan kedepannya oleh organisasi berita dan medsos bekerja sama dengan masyarakat mengenali hoaks dengan cara berdiskusi. Dari sisi pendanaan, crowdsourcing dapat menghemat pengeluaran negara, satu penelitian hanya membutuhkan $0,90 per cerita atau sekitar Rp 12.900 rupiah.

Ilmuwan MIT akan terus melakukan dukungan dengan mengembangkan berbagai pendekatan sosial yang ditujukan untuk mendukung negara melawan penyebaran hoaks di medsos.

“Kami sedang berupaya menambahkan pendekatan yang menjanjikan di dalam media sosial menggunakan alat anti misinformasi,” ujar Profesor MIT Sloan, David Rand.

Di sisi lain, Rand berharap agar perusahaan media dan medsos dapat mengembangkan metode ini dan menemukan celah agar masyarakat dapat aktif berkelompok untuk mengevaluasi informasi yang tersebar di medsos.

(MG/ Azarine Jovita Halim)

Source: https://news.mit.edu/2021/crowd-source-fact-checking-0901

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel