Mewaspadai penyakit cacar monyet

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan penyakit cacar monyet sebagai darurat global (public health emergency international) sejak 23 Juli 2022, meskipun tingkat kematian (fatality rate) penyakit ini hanya satu dari 10 kasus.

​​​​​Penting diketahui bahwa deklarasi kegawatdaruratan global bukan berarti deklarasi pandemi. Meskipun demikian, pernyataan ini berperan penting untuk memotivasi respons cepat dan terkoordinasi lintas-batas terhadap ancaman penyakit cacar monyet yang berpotensi meningkat.

Pemerintah bersama Kementerian Kesehatan telah meningkatkan upaya mitigasi dan langkah antisipasi di berbagai wilayah. Caranya dengan mengaktifkan sistem surveilans epidemiologi, memperketat pengawasan, memperluas sosialisasi, penetapan laboratorium untuk uji sampel, penyediaan vaksin dan 1.000 obat cacar monyet, penyiapan 1.500 reagen untuk tes yang akan dikirim ke semua Balai Besar Laboratorium Kesehatan di semua wilayah.

Kementerian Kesehatan secara khusus telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor: HK.02.02/C/2752/2022 tentang Kewaspadaan terhadap Penyakit Monkeypox di Negara Non-endemis sebagai upaya pengendalian dan pencegahan infeksi penyakit cacar monyet.


Transmisi


Penyakit cacar monyet ditularkan dari hewan ke manusia. Terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh (termasuk darah), lesi kulit atau mukosa (selaput lendir) dari hewan yang terinfeksi. Di negara-negara Afrika, virus cacar monyet dijumpai telah menginfeksi berbagai fauna, seperti tikus berkantung Gambia, dormice (hewan pengerat mirip tikus), serta berbagai spesies monyet dan tupai.

Hewan pengerat berpotensi besar menjadi reservoir alami cacar monyet. Faktor risiko terkena cacar monyet adalah memakan daging setengah matang, mengonsumsi produk hewan yang terinfeksi, terutama di sekitar kawasan hutan.

Penyakit cacar monyet juga dapat menular dari manusia ke manusia. Caranya, kontak fisik dengan seseorang yang terinfeksi, terpapar atau kontak langsung dengan sekret pernapasan, menyentuh luka (lesi) kulit orang dengan terinfeksi, atau menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi.

Penularan melalui droplet (partikel kecil saat bersin atau batuk) dimungkinkan terjadi bila kontak dalam waktu lama. Inilah mengapa tim medis atau anggota keluarga berisiko besar tertular infeksi penyakit cacar monyet.

Rantai transmisi penyakit cacar monyet juga terjadi melalui plasenta dari ibu ke janin, atau selama kontak dekat selama dan setelah proses persalinan. Jalur penularan seksual masih diteliti lebih lanjut.

Menurut UK Health Security Agency (2022), simtomatologi (tanda dan gejala) infeksi virus cacar monyet cukup diketahui dari satu atau dua lesi di alat kelamin, anus, dan area sekitarnya, atau lesi di mulut, terutama jika penderita memiliki pasangan seksual baru.

Secara umum, cacar monyet mirip dengan cacar air dan campak. Ketiganya ditandai dengan adanya demam, ruam kemerahan yang berkembang dan tersebar hampir di seluruh tubuh, dan ada gambaran khas. Mari kita tinjau satu per satu manifestasi klinis yang membedakan ketiganya.

Pertama, demam. Demam pada cacar monyet memiliki karakteristik lebih dari 38 derajat Celcius, diikuti munculnya ruam setelah 1-3 hari. Demam pada cacar air mencapai 39 derajat Celcius, diikuti ruam yang muncul antara 0-2 hari. Demam pada campak umumnya tinggi, mencapai 40,5 derajat Celcius, diikuti munculnya ruam setelah 2-4 hari.

Kedua, ruam. Tampilan ruam pada cacar monyet berupa makula, papula, vesikel, dan pustul, dengan jenis ruam sama di setiap fase, di semua area tubuh. Perkembangan ruam lambat, berlangsung sekitar 3-4 minggu. Penyebaran ruam bermula dari kepala, memadati wajah dan anggota badan, dapat muncul pula di telapak tangan dan telapak kaki.

Penampakan ruam pada cacar air berupa makula, papula, vesikel. Semuanya terdapat di berbagai fase. Perkembangan ruam cepat, selama beberapa hari telah muncul lenting kecil berisi air (crops). Penyebaran ruam dimulai dari kepala, memadati tubuh. Uniknya, tidak dijumpai ruam di telapak tangan dan telapak kaki.

Pada campak, ditemukan ruam non-vesikel di berbagai fase. Perkembangan ruam cepat, berlangsung selama 5 hari hingga seminggu. Penyebaran ruam dimulai dari kepala, dapat menyebar hingga tangan dan kaki.

Ketiga, tampilan khas. Pada cacar monyet dijumpai limfadenopati (kelainan atau gangguan kelenjar getah bening). Pada cacar air ditemukan ruam yang terasa gatal, sehingga penderita sangat ingin menggaruk. Pada campak, dijumpai koplik spot (bercak putih kecil di pipi bagian dalam, umumnya di sekitar geraham atas). Koplik spot ini dijumpai sekitar 3-5 hari setelah ada gejala awal, setelah itu, mulai muncul bercak kemerahan.


Teknologi


Teknologi terkini menggunakan “gunting genetika” (sistem CRISPR–Cas9) memberikan harapan untuk eradikasi penyakit cacar monyet. Siegrist CM dkk (2020) telah melakukan riset menggunakan teknologi ini.

Menggunakan virus vaccinia (VACV) sebagai model Orthopoxvirus, teknologi CRISPR–Cas9 digunakan untuk menargetkan tiga gen esensial yaitu: A17L, E3L, dan I2L. Tiga individu RNA panduan tunggal (sgRNA) dirancang per gen untuk memfasilitasi redundansi dalam membuat gen tidak aktif, sehingga mengurangi reproduksi virus. Kemanjuran target CRISPR diuji dengan mentransfeksi sel ginjal embrionik manusia (HEK293) dengan plasmid yang mengkode SaCas9 dan sgRNA individu.

Hal ini mengakibatkan penurunan titer VACV hingga 93,19 persen per target. Setelah verifikasi target CRISPR, pengiriman antivirus CRISPR VACV yang aman dan ditargetkan diuji menggunakan adeno-associated virus (AAV) sebagai vektor pengemasan untuk SaCas9 dan sgRNA. Demikian pula, pengiriman AAV dari antivirus CRISPR menghasilkan penurunan titer virus hingga 92,97% untuk target individu.


Fitoterapi


Riset tentang potensi pengembangan herbal dan jamu sebagai antivirus melawan penyakit cacar monyet tampaknya perlu diinisiasi. Yasmin AR dkk (2020) menjelaskan bahwa terdapat beberapa tanaman obat telah terbukti efektif sebagai ekstrak herbal yang bersifat sebagai antivirus untuk tambahan pangan ternak sebagai profilaksis dan terapi.

Misalnya: Echinacea purpurea, Sambucus nigra L., Eugenia jambolana Lam, Camellia sinensis dapat mengatasi Avian influenza pada unggas. Commiphora swynnertonii, Azadirachta indica, dan beberapa spesies Aloe dapat mengatasi penyakit Newcastle pada hewan ternak, terutama unggas.

Kombinasi ekstrak rhizoma Dryopteridis crassirhizomatis dan Fructus mume, Ocimum sanctum, Argemone mexicana, efektif mengatasi penyakit bursal infeksius pada hewan ternak (unggas). Potensi pengembangan fitoterapi ini perlu segera dilakukan sebagai langkah antisipasi dini menghadapi penyakit cacar monyet.


Pencegahan


WHO (2022) merekomendasikan bahwa pasien yang dicurigai atau dikonfirmasi positif cacar monyet ringan dan tidak berisiko tinggi berlanjut komplikasi dapat diisolasi di rumah. Penderita cacar monyet di rumah haruslah dapat melakukan perawatan diri secara mandiri.

Tindakan cuci tangan dengan air atau hand-sanitizer berbasis alkohol perlu sering dilakukan. Tindak lanjut klinis dapat dilakukan melalui telepon, pertemuan virtual, atau fasilitas telemedicine. Penderita cacar monyet perlu tinggal di ruangan dengan ventilasi (sirkulasi udara) yang baik, dengan jendela yang dapat dibuka.

Pakaian, handuk, linen dari penderita cacar monyet perlu dicuci terpisah dari yang lainnya. Pakaian dan linen dapat dipakai lagi setelah dicuci dengan sabun dan air panas (lebih dari 60 derajat Celcius) atau direndam di klorin bila tidak tersedia air panas.

Segala perabotan dan peralatan rumah tangga, seperti furnitur, kasur, toilet, lantai, atau lokasi apapun di rumah yang bersentuhan langsung dengan penderita perlu segera dibersihkan dengan air dan sabun dan diberi disinfektan secara teratur.

Bagi dokter atau tenaga kesehatan, keputusan untuk mengisolasi dan memantau pasien di rumah harus dibuat berdasarkan kasus per kasus dan didasarkan pada keparahan klinis mereka, adanya komplikasi, kebutuhan perawatan, faktor risiko penyakit parah dan akses ke rujukan untuk rawat inap bila kondisinya memburuk.

Pasien yang diisolasi di rumah harus dapat berobat rawat jalan, memiliki asupan makanan dan air yang baik, dapat makan, mandi, dan berpakaian sendiri, serta tidak memerlukan pelayan atau membutuhkan bantuan minimal.

Mereka yang berisiko lebih tinggi menderita penyakit parah, seperti anak-anak, wanita hamil atau pasien dengan sistem imun yang rendah perlu dipertimbangkan dirawat di fasilitas kesehatan, seperti puskesmas atau RS terdekat, untuk pemantauan sebagai antisipatif bila terjadi perburukan klinis.

Jika populasi rentan tinggal di lingkungan rumah dan persyaratan pengendalian dan pencegahan infeksi yang memadai tidak terpenuhi, maka dokter atau tenaga kesehatan dapat mempertimbangkan melakukan isolasi di fasilitas layanan kesehatan.

Orang-orang yang rentan perlu diidentifikasi di rumah karena terdapat peningkatan risiko bila terinfeksi penyakit cacar monyet, termasuk anak-anak, wanita hamil dan orang dengan kekebalan tubuh buruk (imunosupresi), seperti orang yang hidup dengan HIV yang tidak mengonsumsi terapi antiretroviral (ART).

Pasien dengan kondisi kulit kronis (misalnya dermatitis atopik) atau kondisi kulit akut (yaitu luka bakar) juga berisiko terjadi komplikasi. Mereka perlu perhatian khusus dari dokter dan tim medis.

*) dr Dito Anurogo, MSc adalah dosen tetap di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar, sedang menempuh S3 di International PhD Program for Cell Therapy and Regeneration Medicine, College of Medicine, Taipei Medical University, Taiwan, penulis dan trainer professional bersertifikasi BNSP, reviewer di berbagai jurnal nasional dan Internasional.