Michael Essien, Didier Zokora, dan Pemain Berstatus Marquee Player yang Melempem di Liga Indonesia

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Klub promosi, RANS Cilegon FC berhasil mencuri perhatian beberapa waktu lalu. Klub milik Raffi Ahmad itu memperkenalkan mantan pemain terbaik dunia asal Brasil, Ronaldinho.

Sayangnya, kontrak yang disepakati bukan untuk kompetisi musim depan. Pemain yang terkenal dengan senyumannya itu hanya akan hadir ke Indonesia untuk menjadi bintang tamu dalam sebuah laga eksebisi.

Tetapi, sebelum kegemparan tersebut, Indonesia sebetulnya menjadi destinasi bagi bintang sepak bola kelas dunia. Beberapa nama besar didaratkan dengan status marquee player pada 2017 lalu.

Walaupun memasuki senjakala karier, kemampuan mereka masih cukup oke untuk menghadapi kerasnya persaingan sepak bola nasional. Tetapi tak semua pemain sanggup mempertahankan konsistensi di level elit sepanjang musim.

Bola.com memilih lima pemain berstatus marquee player yang gagal mengangkat performa timnya. Siapa saja mereka? Berikut ini ulasan selengkapnya.

Michael Essien - Persib Bandung

<p>Kabarnya, manajemen Persib rela menggelontorkan dana sekitar Rp8,5 miliar-Rp10 miliar untuk menggaji Essien selama satu musim. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)</p>

Kabarnya, manajemen Persib rela menggelontorkan dana sekitar Rp8,5 miliar-Rp10 miliar untuk menggaji Essien selama satu musim. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Legenda Chelsea tersebut menjadi salah satu pemain ternama yang berhasil dihadirkan ke Indonesia. Essien diharapkan kembali menampilkan kualitas terbaiknya saat memperkuat Persib Bandung.

Walaupun tak buruk-buruk amat, secara keseluruhan performa klub tak terlalu terangkat. Ia tampak kehilangan kendali permainan seperti yang biasa ditampilkannya saat bermain di Inggris dan Eropa.

Catatan lima gol dan satu assist yang dibuatnya tak cukup menolong klub berjuluk Maung Bandung tersebut. Mereka menutup kompetisi di peringkat ke-13.

Didier Zokora - Semen Padang

<p>Didier Zokora - Semen Padang (Bola.com/Muhammad Iqbal Ichsan)</p>
<p> </p>

Didier Zokora - Semen Padang (Bola.com/Muhammad Iqbal Ichsan)

Berlabel eks pemain Tottenham Hotspur dan Sevilla, Didier Zokora diharapkan menularkan banyak pengalaman berharga bagi Semen Padang. Tetapi apa yang terjadi justru sebaliknya.'

Selain dianggap tak memiliki dampak berarti di lini tengah klub berjulukan Kabau Sirah tersebut, persoalan dana memaksa manajemen memutus kerjasama pada jeda paruh musim.

Pemain asal Pantai Gading itu mengoleksi 11 penampilan dan tiga kartu kuning selama berkarier di Indonesia. Selepas keluar dari Semen Padang, ia lantas memutuskan gantung sepatu.

Mohamed Sissoko - Mitra Kukar

<p>Mohamed Sissoko - Mitra Kukar (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)</p>

Mohamed Sissoko - Mitra Kukar (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Rekam jejak Mohamed Sissoko di pentas Eropa jelas bukan kaleng-kaleng. Sejumlah klub besar Eropa seperti Liverpool, Juventus dan Paris Saint-Germain pernah menikmati servisnya.

Tetapi kiprahnya yang paling diingat tentu saat ia tampil sebagai pemain ilegal pada laga kontra Bhayangkara FC. Perbedaan persepi terkait hukuman kartu kuning Sissoko membuat timnya dijatuhi hukuman kekalahan 0-3.

Akibat dari hukuman ini, situasi di papan atas klasemen berubah drastis. Bali United yang awalnya berada di puncak terpaksa memberikan gelar juara kepada Bhayangkara FC yang memiliki poin sama tetapi unggul secara head-to-head.

Junior Lopes - Persiba Balikpapan

Junior Lopes merupakan satu di antara marquee player lainnya yang tampil pas-pasan di Indonesia. Tak puas dengan kinerja Dirkir Kohn Glay, Persiba Balikpapan lantas melakukan pergantian marquee player pada pertengahan musim.

Sayangnya, keputusan tersebut tak berarti signifikan bagi klub berjulukan Beruang Madu itu. Kedalaman skuad yang kurang mumpuni plus hasil minor pada putaran pertama, terlampau sulit bagi mereka.

Persiba tak bisa melawan takdir dan dipastikan degradasi pada akhir musim. Sementara itu, sang pemain, memilih melanjutkan kariernya di luar Indonesia. Kini, ia bermain di divisi ketiga Liga Thailand bersama Uthai Thani FC.

Juan Pablo Pino - Arema FC

<p>Juan Pablo Pino</p>

Juan Pablo Pino

Awalnya, kehadiran Juan Pablo Pino disambut antusias oleh loyalis Arema. Dengan rekam jejak yang mentereng dengan bermain di Galatasaray dan AS Monaco, ekspektasi besar jelas dibebankan kepadanya.

Namun pada akhirnya, karakter permainannya yang stylish dianggap tak sesuai dengan gaya khas arek-arek Malang. Aji Santoso yang menukangi Arema, lebih sering memarkirnya agar tak mengorbankan strategi permainan yang diusung.

Setelah bermain untuk klub berjuluk Singo Edan tersebut, pria asal Kolombia itu diketahui hanya untuk bermain dua klub saja. Menariknya, ia lebih sering menganggur ketimbang menemukan klub yang mau menyesuaikan dengan gaya bermainnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel