Microsoft Menang Tender Headset AR untuk Militer Senilai Rp 174 Triliun

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Microsoft memenangkan kontrak hampir U$ 22 miliar atau sekitar Rp 174 triliun dalam memasok headset augmented reality (headset AR) untuk pasukan tempur/militer Angkatan Darat Amerika Serikat (U.S. Army).

Mengutip New York Post, Sabtu (3/4/2021), teknologi ini didasarkan pada headset HoloLens buatan Microsoft yang awalnya ditujukan untuk industri video gim dan hiburan.

Pejabat Pentagon menggambarkan teknologi futuristik--Angkatan Darat menyebutnya sebagai Sistem Augmentasi Visual Terpadu (Visual Augmentation System)--sebagai cara untuk meningkatkan kesadaran tentara tentang lingkungan mereka serta kemampuan mereka untuk melihat target dan bahaya.

Layar yang terpasang di head mounted HoloLens memungkinkan orang melihat citra virtual di depan mata mereka, mulai dari hologram di dunia gim virtual hingga petunjuk perbaikan yang mengambang di atas gadget yang rusak.

Dalam situs web resminya, U.S. Army menyebut tentara telah menguji gadget itu pada tahun lalu di Fort Pickett, Virginia.

Teknologi besutan Microsoft tersebut diklaim dapat membantu pasukan mendapatkan keuntungan di medan perang yang semakin hectic, gelap, dan tidak dapat diprediksi.

Produksi Massal

Microsoft HoloLens (Liputan6.com/Dewi Widya Ningrum)
Microsoft HoloLens (Liputan6.com/Dewi Widya Ningrum)

Angkatan Darat pertama kali mulai menguji sistem Microsoft dengan kontrak US$ 480 juta pada 2018 dan mengatakan headset dapat digunakan untuk pelatihan dan pertempuran.

Kontrak baru ini memungkinkan Microsoft untuk memproduksi unit secara massal untuk lebih dari 120.000 tentara di Army Close Combat Force.

Microsoft mengatakan kontrak tersebut akan berjumlah hingga US$ 21,88 miliar selama dekade berikutnya, dengan perjanjian dasar lima tahun yang dapat diperpanjang untuk lima tahun lagi.

Teknologi Ini Menjanjikan, Tapi...

Kemampuannya digadang-gadang sebagai persilangan antara kemampuan Google Glass dan headset virtual reality Oculus Rift.
Kemampuannya digadang-gadang sebagai persilangan antara kemampuan Google Glass dan headset virtual reality Oculus Rift.

Belum jelas, apakah hal itu sesuai dengan anggaran kebijakan pertahanan senilai US$ 740 miliar yang disahkan Kongres pada Januari, setelah mengesampingkan veto oleh Presiden Donald Trump.

RUU tersebut menegaskan kenaikan gaji sebesar tiga persen untuk pasukan AS, tetapi sudah termasuk pemotongan inisiatif headset.

Senator Jack Reed yang memimpin Komite Angkatan Bersenjata Senat, mengatakan bahwa teknologi ini menjanjikan, tetapi hasilnya harus dipantau dengan cermat.

"Itu tugas kami untuk mempermasalahkan hal tersebut jika teknologinya tidak memenuhi kebutuhan kami, baik untuk pasukan saat ini dan di masa depan," katanya.

Sementara Presiden Microsoft Brad Smith mengatakan kepada komite Reed bahwa teknologi tersebut dapat mengintegrasikan penglihatan malam thermal dan pengenalan wajah untuk memberi tentara "analitik real-time" di medan perang jarak jauh.