Militer Azerbaijan dan Armenia Kembali Bentrok, 49 Tentara Tewas

Merdeka.com - Merdeka.com - Tentara Azerbaijan dan Armenia kembali bentrok, setelah bertikai puluhan tahun memperebutkan wilayah sengketa Nagorno-Karabakh. Sebanyak 49 tentara dilaporkan tewas dalam insiden terbaru ini.

Azerbaijan mengakui ada tentaranya yang tewas. Sedangkan Armenia tidak menyebut korban jiwa, tapi mengatakan bentrokan berlangsung sepanjang malam. Azerbaijan merebut kendali penuh atas wilayah Nagorno-Karabakh dalam konflik yang berlangsung enam pekan pada 2020 lalu.

Media Rusia Interfax melaporkan, pemerintah Armenia mengatakan pihaknya meminta perjanjian kerja sama dengan Rusia dan mengajukan permohinan ke blok keamanan yang dipimpin Rusia, Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif dan Dewan Keamanan PBB.

Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan menyerukan Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) membahas persoalan ini.

Blinken mendesak kedua belah pihak menghentikan pertikaian.

"Beberapa posisi, tempat perlindungan dan titik-titik yang ditempati angkatan bersenjata Azerbaijan digempur dengan senjata berbagai kaliber, termasuk mortir, oleh unit-unit tentara Armenia," jelas kementerian pertahanan Azerbaijan, dikutip dari Al Arabiya, Selasa (13/9).

"Akibatnya, ada personel yang jadi korban dan kerusakan infrastruktur militer."

Azerbaijan juga mengatakan pasukan Armenia terlibat dalam aktivitas intelijen di perbatasan mereka, memindahkan senjata ke area tersebut, dan pada Senin malam melakukan operasi penggalian.

"Tembakan intesif terus berlanjut, dipicu provokasi skala besar oleh pihak Azerbaijan. Angkatan bersenjata Armenia telah meluncurkan balasan yang proporsional," jelas Kementerian Pertahanan Armenia.

Konflik kedua negara pertama kali pecah pada akhir 1980-an ketika kedua belah pihak berada di bawah kekuasaan Soviet dan pasukan Armenia merebut wilayah di dekat Nagorno-Karabakh, yang sejak lama diakui dunia internasional sebagai wilayah Azerbaijan tapi penduduknya dominan orang Armenia.

Azerbaijan merebut kembali wilayah tersebut dalam pertempuran 2020, yang diakhiri dengan gencatan senjata yang difasilitasi Rusia dan ribuan penduduk kembali ke rumah mereka setelah melarikan diri.

Pemimpin kedua negara telah bertemu beberapa kali sejak konflik 2020 untuk menuntaskan perjanjian damai. [pan]