Militer Irak Serbu Markas Milisi Kaki Tangan Iran di Baghdad

Rifki Arsilan

VIVA – Pasukan militer Irak telah menyerbu markas kelompok milisi Kataib Hizbullah pada hari Kamis malam, 25 Juni 2020 di Baghdad selatan. 

Milisi Kataib Hizbullah adalah salah satu kelompok militan Irak yang didukung oleh Iran dalam menjalankan berbagai aksinya di Irak selama ini. Kelompok militan Kataib Hizbullah ini disebut-sebut sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas penyerangan Pangkalan Militer Amerika Serikat (AS) dan kantor Kedutaan Amerika Serikat di Baghdad beberapa waktu lalu.

"Pasukan keamanan Irak telah menyerang sebuah pangkalan milik kelompok bersenjata kuat yang didukung Iran di Baghdad selatan dan menahan setidaknya 14 anggota milisi," kata salah satu pejabat militer Irak dikutip VIVA Militer dari Al-Jazeera, Jum'at, 26 Juni 2020.

Selain menangkap 14 anggota kelompok militan yang didukung oleh Iran itu, tentara Irak juga berhasil mengamankan 10 roket yang diduga akan digunakan untuk menyerang Zona Hijau dan Bandara Internasional Baghdad yang dikenal sebagai basis pertahanan militer Irak dan Amerika Serikat.

Untuk diketahui, kelompok militan Kataib Hizbullah ini sebelumnya adalah Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) yang dulunya mendapatkan dana dari pemerintah Irak. Dalam perjalanannya kelompok paramiliter Syiah yang didukung penuh oleh Iran ini berperang melawan pasukan pendudukan koalisi yang dikomandoi oleh Amerika Serikat di Baghdad. 

Kelompok ini dipimpin oleh Abu Mahdi al-Muhandis yang tewas terbunuh oleh serangan udara AS di Baghdad pada 3 Januari 2020 lalu. Saat ini kelompok militan Kataib Hizbullah ini dikomandoi oleh Abdul Aziz al-Muhammadawi atau Abu Fadak. 

Namun, hingga saat ini belum diketahui apakah Abu Fadak menjadi salah satu orang yang ditangkap oleh pasukan Irak yang didukung oleh AS itu atau tidak. Yang pasti, Amerika telah memposisikan kelompok militan ini sebagai organisasi teroris yang wajib diperangi di Timur Tengah.  

Perlu dicatat, Operasi militer ke markas Kataib Hizbullah yang dilakukan oleh Perdana Menteri baru Irak, Mustafa al-Kadhimi ini merupakan operasi militer terbesar pertama kali pasca-Washington menyetujui penunjukan Al-Kadhimi sebagai Perdana Menteri Irak pada bulan Mei 2020. Al-Khadimi sebelumnya pernah berjanji akan mendukung keberadaan AS di Irak untuk membersihkan Irak dari kelompok bersenjata di Irak, termasuk kelompok bersenjata yang memiliki afiliasi dengan Iran ini.