Militer Myanmar Bantah Gempur Sekolah yang Tewaskan 13 Orang

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah Myanmar membantah laporan terkait serangan udara militer di sebuah sekolah yang menewaskan 13 orang, termasuk tujuh anak-anak. Pemerintah junta justru menuding media memutarbalikkan fakta.

Pada Jumat pekan lalu, helikopter militer Myanmar menyerang sekolah dan desa di utara negara tersebut. Serangan ini terjadi di desa Let Yet Kone, Tabayin atau dikenal juga sebagai Depayin, sekitar 110 kilometer di barat laut Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar.

Juru bicara junta, Mayor Jenderal Zaw Min Tun mengakui ada pertempuran pada Jumat lalu di Tabayin, daerah Sagaing. Namun dia menyalahkan pasukan perlawanan rakyat bersenjata atas jatuhnya korban jiwa.

Dia mengatakan insiden itu terjadi ketika tentara datang untuk mengecek informasi bahwa ada anggota pasukan perlawanan rakyat (PDF) dan sekutunya dari Tentara Kemerdekaan Kachin, kelompok pemberontak etnis, berada di Let Yet Kone. PDF dibentuk tahun lalu untuk menentang kekuasaan militer.

Zaw Min Tun mengatakan para anggota PDF membawa para penduduk desa masuk ke wihara Buddha di daerah itu sebelum pertempuran. Sekolah yang diserang tersebut berada di dalam kompleks wihara.

"Mereka memasak orang-orang tetap berada di dalam bangunan wihara. Lalu mereka mulai menembaki pasukan keamanan sementara memanfaatkan para warga desa sebagai perisai manusia. Tentara menembalik balik mereka," ujar Min Tun, dikutip dari Al Arabiya, Kamis (22/9).

Dia juga mengklaim tentara menyelamatkan warga yang bersembunyi di kompleks wihara tersebut setelah PDF melarikan diri, dan ketika tentara menemukan ada dua anak mengalami luka parah, mereka segera membawanya menggunakan helikopter ke rumah sakit militer. Warga desa lainnya yang terluka dibawa ke rumah sakit terdekat.

Klaim Zaw Min Tun ini dibantah pengelola sekolah.

Pengelola sekolah, Mar Mar mengatakan dia berusaha membawa para siswa bersembunyi di ruang kelas lantai bawah ketika dua dari empat helikopter Mi-35 yang berputar di utara desa itu mulai menyerang, menembak menggunakan senapan mesin dan senjata berat lainnya ke sekolah. Sekolah ini berlokasi di dalam area sebuah biara Buddha di desa itu.

Mar Mar bekerja di sekolah itu bersama 20 relawan yang mengajar 240 anak dari TK sampai Kelas Delapan. Dia bersembunyi di desa itu bersama tiga anaknya sejak melarikan diri dari kekerasan militer tahun lalu setelah ikut dalam gerakan pembangkangan publik untuk menentang kudeta militer. Dia menggunakan nama samaran Mar Mar untuk melindungi diri dan keluarganya.

"Karena para siswa tidak melakukan hal yang salah, saya tidak pernah terpikirkan mereka akan menembak dengan kejam menggunakan senapan mesin," jelasnya melalui telepon pada Senin, dikutip dari laman South China Morning Post, Selasa (20/9).

Saat dia dan para siswa serta guru berhasil berlindung di dalam kelas, satu guru dan seorang siswa berusia 7 tahun ditembak di leher dan kepala. Mar Mar harus menggunakan kain untuk menghentikan pendarahan.

"Mereka tetap menembak ke halaman dari udara selama satu jam," ujarnya.

"Mereka tidak berhenti semenit pun. Yang bisa kami lakukan saat itu hanya mengucapkan mantra-mantra Buddha."

Setelah serangan udara berhenti, sekitar 80 tentara memasuki halaman biara, menembak ke tempat ibadah tersebut.

Para tentara kemudian memerintahkan setiap orang di tempat tersebut keluar. Mar Mar melihat sekitar 30 siswa dengan luka di punggung, paha, wajah, dan bagian tubuh lainnya.

"Anak-anak itu mengatakan pada saya teman-teman mereka sekarat," ujarnya.

"Saya juga mendengar seorang siswa teriak, 'Sakit sekali. Saya tidak tahan. Tolong bunuh saja saya.' Suara itu masih bergema di telinga saya."

Dia mengatakan sedikitnya enam siswa tewas dan seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang bekerja di kolam ikan dekat desa itu juga tewas tertembak. Enam orang dewasa juga tewas dalam serangan tersebut. Jasad anak-anak tersebut dibawa tentara.

Lebih dari 20 orang, termasuk enam anak yang terluka dan tiga guru juga dibawa para tentara. Dua dari mereka yang ditangkap dituding menjadi anggota Pasukan Pertahanan Rakyat yang anti pemerintah, kelompok perlawanan terhadap militer.

Para tentara juga mmebakar sebuah rumah di desa itu, mendorong warga melarikan diri. [pan]