Millenial Smartfarming, Cara BNI Cetak Petani Masa Depan

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menggelar Program Millennial Smartfarming yang melibatkan generasi milenial dalam mengembangkan ekosistem digital pertanian. Saat ini, sektor pertanian yang tengah menghadapi tantangan produktivitas lahan pertanian yang makin terbatas serta regenerasi kaum petani.

Millennial Smartfarming bertujuan untuk menciptakan petani-petani muda yang memiliki kapabilitas dalam mengelola aktivitas proses bisnis pertanian dengan memanfaatkan teknologi sehingga digitalisasi pertanian dapat benar-benar dirasakan manfaatnya di sektor pertanian.

Program smartfarming sendiri sudah dilakukan sejak 2019, namun kali ini BNI melibatkan para milenial untuk menjajaki langsung teknologi ini.

Sebagai tahap awal, program Millennial Smartfarming dilaksanakan pada Rabu, 10 Maret 2021 di Desa Narawita, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Hadir pada kesempatan tersebut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Direktur Hubungan Kelembagaan BNI Sis Apik Wijayanto, Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jabar Benny Bachtiar, Direktur Digital Bisnis PT Telkom Muhammad Fajrin Rasyid, Direktur Transformasi Bisnis PIHC Panji Winanteya Ruky, dan CEO PT Mitra Sejahtera Membangun Bangsa Anto Yulianto Budi Santosa.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo kolaborasi di waktu pandemi sekarang ini begitu krusial, pihaknya mengapresiasi peran BNI dalam mengawal dan berkontribusi pada sektor pertanian Tanah Air.

“Terima kasih kepada BNI, kita memang harus mengoptimalkan seluruhnya untuk masyarakat. Saya mau BNI lebih semangat lagi untuk membantu. Karena siapa lagi yang mau bantu bangsa dan negaranya kalau bukan kita semua, kebersamaan sangatlah penting di masa sekarang,” tutur Yasin Limpo.

Direktur Hubungan Kelembagaan BNI Sis Apik Wijayanto menjelaskan, BNI mengajak para milenial yang siap dan memiliki semangat yang tinggi untuk menjadi usahawan pertanian. Mereka akan berperan sebagai key player dari aktivitas bisnis pertanian dimulai dari pendataan dan akuisisi petani menggunakan aplikasi teknologi, penerapan teknologi digital selama budidaya, penggunaan sistem informasi digital pada manajemen usaha pertanian, hingga pembukaan akses pasar.

“Millenial Smartfarming mengedepankan peranan milenial didorong dalam pemanfaatan teknologi digital IoT (Internet of Thing) dan AI (Artificial Intelegent) di sektor pertanian dengan metode pendampingan dari BNI dan mitra pihak ketiga. Sehingga hasil budidaya pertanian semakin meningkat dengan biaya yang semakin efisien,” ujar Sis Apik.

Dia mengatakan, BNI juga bekerjasama dengan berbagai instansi terkait seperti Telkom dan kerja sama aplikasi pertanian dengan Pupuk Indonesia. Kerja sama juga dengan beberapa tempat di Jember.

"Jadi bagaimana kita menggerakan petani-petani muda milenial agar dengan teknologi terbaru, disruption bukan hanya di teknologi saja namun juga cara-cara pertanian yang bisa kita kembangkan seperti membaca cuaca, kebutuhan pupuknya bagaimana, itu bisa dideteksi, kita akan kembangkan terus dalam rangka mendukung ekonomi pertanian Indonesia,” tambah Sis Apik.

Stimulasi

Petani memisahkan bulir padi dari tangkainya saat panen di sawah yang terletak di belakang PLTU Labuan, Pandeglang, Banten. (merdeka.com/Arie Basuki)
Petani memisahkan bulir padi dari tangkainya saat panen di sawah yang terletak di belakang PLTU Labuan, Pandeglang, Banten. (merdeka.com/Arie Basuki)

Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jabar Benny Bachtiar menyambut baik program Milenial Smartfarming dan berharap petani milenial agar semakin maju lagi ke depan.

Alhamdulilah Jabar menyambut baik, Jabar juga sedang menginisiasi pengembangan pertanian milenial. Kami berharap banyak dari Kementerian Pertanian mendukung petani milenial untuk petani jabar ini,” ungkap Bapak Benny.

Salah satu petani milenial yakni Andi mengaku sangat terbantu lewat program Milenial Smartfarming ini untuk proses pertaniannya.

“Membantu kami sekali selaku petani jagung dan lainnya, berdasarkan pengalaman kami yang pakai teknologi ini, ini bisa memantau lahan di mana pun dan kapan pun, karena dengan alat sensor kami bisa mengendalikan lahan jagung, penyiapan lahan, pemupukan lewat aplikasi yang kami instal di ponsel kami,” pungkas Andi.

Secara terpisah, General Manager Divisi Bisnis Usaha Kecil 2 BNI, Bambang Setyatmojo menambahkan, program millenial smartfarming diharapkan dapat memberikan stimulasi positif kepada para pelaku usaha pertanian.

"Tidak hanya terbatas pada aspek budidaya pertanian juga mampu mengintegrasikan secara modern potensi lain dalam perikanan/peternakan, sehingga di ujungnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian diharapkan juga dapat meningkatkan penyaluran KUR BNI”, ungkapnya.

BNI terus mendukung kesejahteraan petani melalui realisasi penyaluran KUR di sektor pertanian yang telah disalurkan selama tahun 2020 sebesar Rp5,7 triliun serta menyentuh 167.840 petani di seluruh Indonesia.