Mimpi Dahlan Iskan: Ada 'Ferrari' di Jalan-jalan  

  • Istana Tolak Akuisisi BTN, Dahlan: Sayang Sekali

    Istana Tolak Akuisisi BTN, Dahlan: Sayang Sekali

    Tempo
    Istana Tolak Akuisisi BTN, Dahlan: Sayang Sekali

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menyayangkan penolakan Istana atas akuisisi Bank Tabungan Negara (BTN) oleh Bank Mandiri. "Sayang sekali sebenarnya. Momentum yang sangat baik tidak bisa kita manfaatkan," kata Dahlan kepada wartawan melalui pesan pendek pada Rabu, 23 April 2014. …

  • Dahlan Iskan melawan SBY dan Dipo Alam

    Dahlan Iskan melawan SBY dan Dipo Alam

    Merdeka.com
    Dahlan Iskan melawan SBY dan Dipo Alam

    MERDEKA.COM. Kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui Sekretaris Kabinet (Setkab) Dipo Alam meminta Menteri BUMN Dahlan Iskan menunda rencana privatisasi PT. Bank Tabungan Negara (BBTN). …

  • Dahlan beberkan kekecewaannya saat SBY tak restui BTN diakuisisi

    Dahlan beberkan kekecewaannya saat SBY tak restui BTN diakuisisi

    Merdeka.com
    Dahlan beberkan kekecewaannya saat SBY tak restui BTN diakuisisi

    MERDEKA.COM. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar rencana akuisisi lebih dari 60 persen saham pemerintah di Bank Tabungan Negara (BTN) oleh Bank Mandiri ditunda. Soalnya, wacana itu dinilai sudah meresahkan masyarakat. …

TEMPO.CO , Jakarta: Sambil mengenakan caping, Ahad lalu, Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menggeber mobil barunya di jalanan ibu kota hingga kecepatan 120 kilometer per jam. Bukan sembarang mobil, tunggangan Dahlan kali ini adalah mobil listrik sport warna merah mengkilap seharga Rp 1,5 miliar, yang dinamai Tuxuci.

"Ini bisa 200, tadi kena 120 (km/jam), tadi agak lancar. Masih harus sedikit disempurnakan power steering-nya," kata Dahlan kepada wartawan di Gelora Bung Karno, Jakarta.

Menurut Dahlan, dengan baterai terisi penuh, Tucuxi bisa digunakan sampai 400 km atau 4 jam. Adapun pengisian baterai butuh waktu 5-6 jam.

Mobil listrik sekelas Ferrari itu dirancang oleh Danet Suryatama, lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang pernah bekerja di Chrysler Amerika Serikat. Untuk urusan bodi mobil, Danet menggandeng rumah modifikasi Kupu-kupu Malam di Yogyakarta.

Namun, mimpi melihat Ferrari listrik berkeliaran di jalanan ibu kota tampaknya belum akan terwujud segera. Direktur Jenderal Industri Unggul Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian, Budi Darmadi, mengatakan infrastruktur mobil listrik di Indonesia belum siap, sehingga mobil listrik belum akan diproduksi massal. »Bisa saja mengembangkan, tapi pasar mobil listrik memang masih kecil. Di Jepang saja masih 0,5-1 persen,” ujarnya ketika dihubungi kemarin.

Menurut Budi, mobil listrik masih akan menjadi mobil kedua karena pengisian listriknya terbilang sulit. Di Jepang, ada beberapa daerah di mana mobil listrik menjadi mobil pertama. Namun mobil tersebut digunakan untuk jarak tempuh yang terbatas.

Pembangunan stasiun pengisian listrik pun bukan hal yang mudah. Bisa saja mobil di-charge di rumah, tapi kapasitas listrik di rumah tersebut harus mencapai 3.000 volt ampere. »Itu pun charge-nya harus 6 jam,” kata Budi.

Selain itu, berat baterai mobil listrik, yang mencapai 250-300 kilogram, memberatkan. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi jumlah orang dalam mobil atau memindahkan kursi belakang. Artinya, sementara ini cukup bermimpi dulu untuk bisa berlomba memacu mobil sport listrik seperti Dahlan Iskan.

ANANDA TERESIA | RAHMA TW

Berita Terkait:

Enam Perguruan Tinggi Garap Riset Mobil Listrik 

Tim Mobil Listrik Nasional Diberi Waktu 3 Bulan 

Dahlan Iskan Disarankan Buat Pabrik Mobil Listrik 

Lagi, Dahlan Dikritik DPR 

Dahlan Pakai Mobil Listrik, Pejabat BUMN Siap Ikut

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...