Minat Investasi Pasar Modal Tumbuh 100 Persen Selama Pandemi Covid-19

Merdeka.com - Merdeka.com - Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat bahwa jumlah investor di pasar modal yang mengacu pada Single Investor Identification (SID) telah menembus angka 10.000.628 orang per 3 November 2022.

Dalam hasil tersebut, komposisi investor lokal mendominasi dengan jumlah sebesar 99,78 persen. Hal ini merupakan suatu berita baik di mana jumlah investor pasar modal didominasi oleh investor lokal.

Pandemi Covid-19 mendorong masyarakat Indonesia untuk berinvestasi di pasar modal, sehingga menimbulkan peningkatan yang cukup signifikan di tahun 2020-2021 dengan pertumbuhan lebih dari 100 persen.

"Selain menandakan bahwa investor lokal semakin percaya dan sadar akan pentingnya investasi di pasar modal, hal tersebut juga diharapkan mampu memberi ketahanan terhadap pasar modal Indonesia, terlebih ketika terjadi isu global," kata Direktur Utama PT First State Futures, Frans Oentoro, Kamis (29/12)

Gencarnya edukasi dan kemudahan akses untuk berinvestasi secara online dengan ditunjang perkembangan teknologi termutakhir juga mempengaruhi kenaikan jumlah investor di pasar modal.

Sejauh ini, peningkatan jumlah investor pasar modal di tahun 2022 yang mencapai jumlah paling tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya merupakan suatu kabar baik yang patut untuk diapresiasi.

Adanya apresiasi kepada para investor pasar modal nantinya akan memberikan kesan positif dan menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri.

Apresiasi Investor

PT First State Futures yang merupakan anggota dari bursa berjangka dengan izin usaha BAPPEBTI, memberikan sebuah apresiasi atau reward kepada para nasabah loyalnya melalui event Mega Trading Challenge 2023 yang dilaksanakan mulai 19 September 2022 hingga 31 Maret 2023 dengan mengusung berbagai hadiah fantastis.

Peserta yang dapat mengikuti event ini merupakan nasabah aktif yang terdaftar resmi di PT First State Futures, memiliki Akun Live Bilateral (SPA), dan melakukan transaksi kontrak perdagangan Bilateral (SPA) selama periode program.Sementara produk yang diperdagangkan adalah produk bilateral (SPA) di antaranya seperti mata uang, metal, energi, dan indeks saham.

Kemudian spesifikasi produk yang diperdagangkan diatur sesuai dengan peraturan kontrak perdagangan Bilateral (SPA) dan produk Saham Tunggal Amerika tidak termasuk dalam hitungan point.

"Dengan dukungan dan ijin resmi dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI), harapan kami dapat menstimulasi perkembangan transaksi komoditas di Bursa ICDX (Indonesia Commodity & Derivatives Exchange)," tutup dia.

Sumber: Liputan6.com [idr]