Minim Interaksi Sosial, Belajar Online Bikin Anak Stres

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyoroti adanya tekanan psikologis pada anak ketika digelar pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar online karena pandemi COVID-19. Tekanan ini bisa berupa stres lantaran minimnya interaksi dengan guru, teman, dan lingkungan.

Bagi siswa dan siswi yang cepat atau mudah beradaptasi, belajar online bukan sebuah masalah. Namun tidak demikian bagi anak yang sulit atau tidak cepat beradaptasi.

Baca: Demi Sinyal Internet, Siswa Harus Tidur di Pohon dan Mendaki Bukit

Alih-alih efektif, PJJ justru mendatangkan tekanan, terlebih saat menghadapi ujian sehingga membuat anak kurang termotivasi untuk belajar. Tak bisa dipungkiri, pandemi COVID-19 telah mengubah tata cara belajar mengajar dari sistem tatap muka langsung menjadi belajar online di Indonesia.

Menurut laporan yang dikeluarkan PwC dan UNICEF bertajuk GenU (Generation Unlimited) Tahun 2020 menyatakan satu dari tiga siswa di seluruh dunia atau sekitar 463 juta anak muda tidak dapat mengakses pembelajaran secara daring selama sekolah ditutup.

Menurut Psikolog Intan Erlita, tekanan psikologis pada anak tidak terlepas dari kedudukannya sebagai makhluk sosial. Di mana mereka butuh untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain. Dalam hal ini bukan saja orangtua, tetapi juga teman seusia, guru, dan lingkungannya.

"Mau itu TK, SD, SMP maupun SMA, mereka ini membutuhkan kontak atau sosialisasi yang cukup tinggi. Pandemi membuat mereka kehilangan masa-masa yang dikatakan sebagai 'hubungan manusia', hubungan bagaimana dia beradaptasi. Inilah menimbulkan stres tersendiri," kata dia, Selasa, 9 Maret 2021.

Kondisi ini diperburuk dengan tuntutan belajar yang tinggi, tugas-tugas yang banyak, namun waktu yang tersedia untuk mengerjakan sedikit serta tidak adanya waktu untuk mengaktualisasikan diri.

Intan menyebut bahwa banyak anak akhirnya merasa jenuh dan lelah pada level ini yang kemudian tidak hanya berdampak pada nilai yang turun tapi juga emosi yang tidak terkontrol.

“Jadi mereka gampang marah, gampang seolah-olah kayak ngelawan sama orangtuanya, enggak nyaman dengan kondisinya. Ini yang terjadi dengan anak-anak kita saat ini. Jadi kondisi memasuki ujian itu ada dua, ada siswa yang ‘Ok I'm ready’ dan ada juga yang konteksnya enggak siap yang akhirnya stres,” ungkap Intan.

Di sinilah peran orangtua sangat dibutuhkan. Bukan saja sebagai suporter, yang memberi dukungan pada anak dalam proses belajarnya, tetapi bisa diajak berdiskusi, menjadi pendengar yang baik, dan tentu saja memberikan motivasi.

Pada kesempatan yang sama, Head of Academic Kelas Pintar, Maryam Mursadi memaparkan, meski menyebut demotivasi pada anak, khususnya menjelang ujian kerap terjadi, namun bukan berarti tak bisa diatasi apalagi harus dihindari.

"Demotivasi muncul karena siswa belum siap menghadapi ujian atau dia tahu betul kalau dirinya belum siap untuk ujian, tapi tidak tahu bagaimana mencari jalan keluar. Di sinilah mempersiapkan diri sejak awal itu sangat penting," jelas Maryam.

Untuk itu, Kelas Pintar memiliki solusi. Misalnya saja ketika mengajarkan materi secara virtual, tidak semua siswa-siswi dapat memahami. Selain itu juga karena koneksi internet yang terputus. Banyak kendala teknis bisa terjadi.

"Ketika siswa-siswi terlewat atau belum paham materi pelajaran tertentu maka bisa pakai fitur Guru dan Tanya, sehingga mereka bisa mendapat penjelasan menyeluruh dan menjawab setiap soal latihan. Dengan demikian belajar online atau PJJ tidak akan menjadi beban," paparnya.