Minimalisir Risiko Banjir, Masyarakat Diminta Ikuti Langkah-langkah Preventif

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta - DKI Jakarta dilalui 13 sungai, dengan curah hujan yang kerap tinggi. Sejak zaman penjajahan Belanda, banjir telah melanda kota yang dulu bernama Batavia.

Terlebih hutan di hulu Ciliwung menjadi perkebunan, permukiman, dan tempat peristirahatan di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Ditambah dengan penurunan muka tanah di pesisir Jakarta yang sering tergenang banjir.

Menghadapi musim hujan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memimpin Apel Kesiapan Tanggap Bencana Banjir 2020/2021 di halaman Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (30/9).

Apel tersebut dihadiri oleh Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana, Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman, serta berbagai elemen Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi DKI Jakarta, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Disgulkarmat) Provinsi DKI Jakarta, Satpol PP DKI Jakarta, hingga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Ini adalah wujud kemitraan dan sikap tanggap yang solid antarinstitusi yang ada di wilayah Pemprov DKI Jakarta, untuk bersama-sama mewujudkan keamanan dan ketenteraman bagi seluruh warga Jakarta, khususnya saat musim hujan akan datang," kata Anies dalam sambutannya.

Anies mengatakan, tantangan banjir di Jakarta akan lebih kompleks, karena menyesuaikan dengan pencegahan penularan pandemi COVID-19.

Anies pun menekankan pentingnya penanganan bencana banjir dengan mengedepankan protokol kesehatan agar banjir tertangani, namun korban atau pengungsi tidak berisiko terpapar Covid-19.

Minimalisir Risiko Banjir
Minimalisir Risiko Banjir

"Antisipasi korban banjir dalam kondisi COVID-19. Sehingga jika kita terbiasa bangun tenda pengungsian dan evakuasi, maka kali ini dibuat lebih banyak tendanya, supaya jumlah mereka yang berada di satu tenda itu mengikuti protokol kesehatan. Ini butuh penanganan khusus dan persiapan khusus," pesannya.

Sementara itu Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Sabdo Kurnianto menyatakan, pihaknya masih terus melakukan persiapan untuk antisipasi banjir di Ibu Kota. Salah satu yang dipersiapkan yakni terkait tempat pengungsian berdasarkan protokol kesehatan Covid-19.

"Kita sudah minta kepada para Wali Kota untuk menyiapkan lokasi pengungsian yang lebih banyak. Kalau bisa hotel bintang satu dan dua, juga lokasi seperti wisma itu disiapkan," kata Sabdo dalam video YouTube Pemprov DKI Jakarta, Jumat (06/11/20).

Dia menjelaskan, hal itu berdasarkan instruksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, agar para pengungsi mendapatkan lokasi yang nyaman saat pandemi Covid-19.

Sabdo mengungkapkan, tidak akan membuat pengungsian dengan cara penyekatan guna meminimalisasi penyebaran Covid-19. Hanya saja, lanjut dia, para pengungsi akan dipisahkan setiap keluarga.

"Bagaimanapun kita berupaya memanusiakan mereka. Kalau bisa memang mereka masing-masing satu keluarga menempati satu kamar, baik di GOR, wisma, ataupun hotel, itu lebih baik," jelasnya.

Masyarakat pun diimbau ikut bersiaga menghadapi banjir, agar kerugian bisa diminamilisasi dengan tindakan preventif. Masyarakat yang tinggal di daerah sekitar jalur sungai yang rawan banjir harus menyiapkan langkah mitigasi atau serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.Berikut beberapa langkah kesiapsiagaan di berbagai situasi dalam menghadapi banjir.

1. Saat Tidak Terjadi Banjir- Tidak boleh dilakukan saat tidak terjadi banjir:

• Jangan membuang sampah, kantong plastik, dan botol plastik ke dalam saluran air/got/sungai.

• Jangan mendirikan bangunan di bantaran sungai.

• Jangan menyimpan dokumen dan surat berharga di area yang rawan terkena air banjir.• Jangan mengabaikan informasi peringatan dini tentang banjir.

• Jangan mengabaikan saluran air yang tersumbat.

• Jangan menutup selokan untuk menambah lebar jalan.• Jangan memasang stop kontak di sudut rumah yang rawan terkena banjir.

- Harus dilakukan saat tidak terjadi banjir:

• Ketahui zona rawan banjir.

• Mendokumentasikan dokumen dan surat berharga dalam bentuk softcopy.

• Mengetahui kebutuhan khusus anggota keluarga.

• Mulai mempertimbangkan asuransi perlindungan aset.

• Berbagi peran dalam keluarga jika terjadi banjir dan memastikan seluruh anggota keluarga memahami cara mematikan listrik dan kompor.

• Mencatat nomor darurat dan menginformasikan kepada seluruh anggota keluarga.• Mengecek potensi listrik yang berbahaya jika terkena air banjir.

• Mengetahui jalur evakuasi dan lokasi pengungsian.

• Memahami peringatan dini banjir yang ada di wilayahnya.

• Merencanakan dengan keluarga tempat pertemuan apabila keluarga terpencar ketika terjadi banjir.

• Melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan dengan rutin.

• Persiapkan dan isi tas siaga bencana.

Persiapkan tas yang berisi peralatan yang dibutuhkan saat banjir melanda, seperti:

• Obat-obatan pribadi dan perlengkapan P3K.

• Dokumen dan surat berharga (dibungkus plastik).

• Makanan ringan tahan lama.

• Pakaian untuk 3 hari dan perlengkapan ibadah.

• Sarung atau selimut.

• Uang tunai.

• Air mineral atau air minum.

• Senter.

• Kantung plastik.

• Peluit.

• Powerbank dan baterai cadangan.

• Foto keluarga.

• Masker dan hand sanitizer .

2. Jika Sudah Ada Potensi Banjir.Bila dirasa daerah akan berpotensi tinggi untuk banjir, tingkatkan kewaspadaan dan lakukan hal berikut ini:

• Perhatikan informasi peringatan dini ( SMS Blast , pengeras suara, dan media sosial).

• Amankan barang ke tempat yang aman dan tinggi.

• Matikan listrik dan persiapkan tas siaga bencana.

• Ikuti arahan petugas

3. Pada saat Terjadi Banjir.Tidak boleh dilakukan:

• Jangan berjalan di arus air yang deras dan gunakan tongkat atau sejenisnya untuk mengecek tempat berpijak.

• Jangan mengemudikan mobil di dan ke arah wilayah banjir.Harus dilakukan:

• Cari informasi dari sumber yang terpercaya.

• Waspada terhadap arus air, saluran air, kubangan, dan tempat-tempat lain yang tergenang air.

• Evakuasi ke tempat yang aman atau lokasi yang telah ditentukan melalui jalur evakuasi. Prioritaskan kelompok rentan (orang sakit, penyandang disabilitas, anak-anak, ibu hamil, dan lansia).

Harus dilakukan jika berada di lokasi pengungsian:

1. Tetap perhatikan protokol kesehatan (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak).

2. Bersihkan area yang digunakan untuk tidur.

3. Menjaga keamanan dan ketertiban.

4. Setelah Banjir:

• Cari informasi kondisi saat ini dan tempat mendapatkan bantuan dari sumber terpercaya.

• Kembali ke rumah setelah keadaan aman.

• Gunakan alas kaki untuk menghindari terkena benda tajam seperti paku.

• Bersihkan lumpur akibat banjir.

• Sterilisasi rumah sebelum ditempati kembali.

• Waspada dengan instalasi listrik.

• Waspada pada binatang berbisa.

• Waspada para area yang berpotensi longsor/amblas.

• Segera ke fasilitas kesehatan jika membutuhkan pelayanan kesehatan.

• Perbaiki saluran pembuangan air limbah.

Untuk mendapatkan info ter- update masyarakat bisa mengakses website Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) DKI Jakarta atau memantau media sosial BPBD DKI Jakarta di Facebook, @BPDBJakarta di Twitter, dan @bpdbdkijakarta di Instagram. Untuk bantuan darurat silakan hubungi Call Center 112.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: