Minus 5,3 Persen, Ekonomi RI Diklaim Lebih Baik dari AS dan Jerman

Daurina Lestari, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 1 menit

VIVA – Menteri Badan Usaha Milik Negara, Erick Thohir, mengatakan meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2020 minus 5,3 persen, namun hal itu masih patut disyukuri karena dinilai masih lebih baik dibandingkan negara-negara lain.

Erick pun merinci sejumlah negara yang pertumbuhan ekonomnya di kuartal II-2020 lebih buruk dari Indonesia, seperti misalnya Amerika Serikat (-9,5 persen), Jerman (-11,7 persen), Singapura (-12,6 persen), atau bahkan Spanyol (-22,1 persen)

"Ini merupakan ridho Allah yang luar biasa. Karena kalau kita lihat, dibandingkan negara lain, kita itu masih Alhamdulilah lebih baik," kata Erick dalam telekonferensi, Rabu 12 Agustus 2020.

Meski demikian, Erick mengakui bahwa ada beberapa negara yang pertumbuhan ekonominya di kuartal II-2020 lebih baik dibandingkan dengan Indonesia.

"Misalnya seperti perekonomian China yang masih bisa tumbuh 3,2 persen, atau Korea Selatan yang hanya -2,9 persen," ujar Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional itu.

Baca juga: Syarat Pengusaha Kecil Bisa Dapat Bantuan Rp2,4 Juta dari Pemerintah

Karenanya, Erick pun mengaku optimistis bahwa perekonomian Indonesia juga masih bisa diperbaiki, di kuartal III atau IV-2020 mendatang.

Sebab, dia berkaca kepada perekonomian Korea Selatan, yang menurutnya tidak jauh berbeda dengan Indonesia, sehingga harus dijadikan tolak ukur perbaikan ekonomi ke depannya. "Jadi kalau Korea Selatan saja bisa, kenapa kita tidak," kata mantan Ketua Panitia Pelaksana Asian Games 2018 di Jakarta itu.

Erick mengatakan hal itulah yang membuat Presiden Joko Widodo beserta jajaran menteri di kabinetnya segera bergegas untuk menggagas sejumlah stimulus ekonomi guna memperbaiki perekonomian nasional ke depan.

Hal itu akan dipacu oleh pemerintah, beriringan dengan upaya-upaya untuk menangani pandemi COVID-19 seperti misalnya melalui uji coba vaksin yang menjadi calon vaksin COVID-19 nanti.

"Tentunya hal itu akan diutamakan, seiring langkah untuk menangani masalah kesehatan terkait pandemi COVID-19 ini," ujarnya. (ren)