Minyak Goreng hingga Uang Sekolah Sumbang Inflasi 0,03 Persen di Agustus 2021

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,03 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,57 pada Agustus 2021. Hal ini disebabkan beberapa komoditas yang mengalami kenaikan, khususnya karena Agustus 2021 merupakan tahun ajaran baru.

Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Agustus) 2021 sebesar 0,84 persen, dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Agustus 2021 terhadap Agustus 2020) sebesar 1,59 persen.

"Tingkat inflasi pada Agustus ini terlihat masih sangat terkendali yaitu sebesar 0,03 persen secara month to month. Kemudian jika kita bandingkan dengan inflasi tahun sebelumnya yaitu 2020, inflasi kita sebesar 1,59 persen. Ini meningkat sedikit dibandingkan bulan Juli lalu yang sebesar 1,52 persen," ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto, dalam konferensi pers pada Rabu (1/9/2021).

Dijelaskannya, inflasi 0,03 persen pada Agustus 2021 tidak lain karena beberapa komoditas yang mengalami peningkatan diantaranya adalah minyak goreng, kemudian juga tahun ajaran baru pada Agustus 2021, sehingga uang sekolah SD, SMP maupun uang kuliah di perguruan tinggi juga alami peningkatan dengan masing-masing andil sebesar 0,02 persen.

Beberapa komoditas lain yaitu tomat, ikan segar, pepaya, rokok kretek, sewa rumah dan uang sekolah SMA juga mengalami peningkatan. Masing-masing memberikan andil 0,01 persen.

Selain itu, beberapa komoditas juga memberikan andil deflasi diantaranya cabai rawit dengan andil deflasi cukup besar yaitu minus 0,05 persen.

Kemudian ada beberapa komoditas lain seperti daging ayam ras, cabai merah, bayam, dan buncis, kacang panjang, kangkung, sawi hijau dan tarif angkutan udara, yang memberikan andil deflasi kepada inflasi pada periode Agustus 2021.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

IHK

Pedagang menata dagangannya di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (5/5/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada April 2020 sebesar 0,08% yang disebabkan permintaan barang dan jasa turun drastis akibat pandemi COVID-19. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pedagang menata dagangannya di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (5/5/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada April 2020 sebesar 0,08% yang disebabkan permintaan barang dan jasa turun drastis akibat pandemi COVID-19. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Setianto mengungkapkan dari 90 kota IHK yang dimonitor pergerakan harganya, terdapat 34 kota mengalami inflasi dan 56 kota deflasi.

Kota Kendari mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,62 persen. Hal yang menyebabkan inflasi tinggi di Kendari terkait dengan komoditas ikan seperti ikan layang, ikan kembung, ikan selar, maupun ikan teri.

Sementara itu, kota dengan deflasi tertinggi yaitu Sorong minus 1,04 persen.

"Kalau kita amati, komoditas yang menyebabkan deflasi tinggi di Sorong adalah ikan kembung, angkutan udara, cabai rawit, kangkung dan sawi hijau," kata Setianto.

Inflasi terendah di kota Tanjung sebesar 0,01 persen. Sedangkan deflasi terendah di Meulaboh, Sukabumi, dan Timika minus 0,03 persen.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel