Minyak jatuh tertekan ekspektasi permintaan lemah dan penguatan dolar

Minyak berjangka turun lebih dari tiga persen ke level terendah satu minggu pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), di tengah kesepakatan sementara yang akan mencegah pemogokan kereta api AS, ekspektasi permintaan global yang lebih lemah dan penguatan dolar AS berkelanjutan menjelang potensi kenaikan suku bunga yang besar.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November merosot 3,26 dolar AS atau 3,5 persen, menjadi menetap di 90,84 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober berakhir 3,38 dolar AS atau 3,8 persen lebih rendah pada 85,10 dolar AS di New York Mercantile Exchange.

Kedua kontrak acuan ditutup pada level terendah sejak 8 September.

Perkeretaapian dan serikat pekerja utama AS mendapatkan kesepakatan tentatif setelah 20 jam pembicaraan intens yang ditengahi oleh pemerintahan Presiden Joe Biden untuk mencegah penutupan kereta api yang dapat berdampak pada pasokan makanan dan bahan bakar di seluruh negeri dan sekitarnya.

Prospek pemogokan memberi pasar beberapa dukungan pada Rabu (14/9/2022).

Kesepakatan kereta api itu juga membantu menekan harga minyak diesel dan bensin berjangka AS turun lebih dari 5,0 persen selama sesi.

"Kompleks minyak sedang menyusun kemunduran di tengah kekuatan dolar AS dan perjanjian tentatif yang akan mencegah pemogokan pekerja kereta api AS," kata analis di perusahaan konsultan energi Ritterbusch and Associates.

Risiko penurunan terus mendominasi prospek ekonomi global dan beberapa negara diperkirakan akan tergelincir ke dalam resesi pada 2023, tetapi terlalu dini untuk mengatakan apakah akan ada resesi global yang meluas, menurut Dana Moneter Internasional (IMF).

Kepala Ekonom Bank Dunia Indermit Gill mengatakan dia khawatir tentang "stagflasi umum," periode pertumbuhan rendah dan inflasi tinggi, dalam ekonomi global, mencatat bank telah memangkas kembali perkiraan untuk tiga perempat dari semua negara.

Indeks Wall Street berada di zona merah sementara dolar bertahan di dekat level tertinggi 20 tahun yang dicapai pada 6 September, karena banyak data ekonomi menunjukkan ketahanan dalam ekonomi AS dapat menjaga Federal Reserve di jalur untuk kenaikan suku bunga yang agresif.

Dolar yang kuat mengurangi permintaan minyak karena membuat bahan bakar lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

"Fundamental minyak sebagian besar masih bearish karena prospek permintaan China tetap menjadi tanda tanya besar dan karena inflasi yang melawan Fed tampaknya siap untuk melemahkan ekonomi AS," kata Edward Moya, analis pasar senior di perusahaan data dan analitik OANDA.

Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan minggu ini bahwa pertumbuhan permintaan minyak akan terhenti pada kuartal keempat.

Harga minyak mentah telah turun secara substansial setelah lonjakan mendekati level tertinggi sepanjang masa pada Maret setelah invasi Rusia ke Ukraina menambah kekhawatiran pasokan, tertekan oleh prospek resesi dan permintaan yang lebih lemah.

Faktor lain yang membebani harga minyak termasuk peningkatan persediaan minyak mentah AS dan pengurangan yang diharapkan dalam penggunaan energi oleh blockchain Ethereum.

Sementara itu, eksekutif Uni Eropa berencana untuk mengumpulkan lebih dari 140 miliar euro (140 miliar dolar AS) untuk melindungi konsumen dari melonjaknya harga energi dengan mengurangi pendapatan dari pembangkit listrik berbiaya rendah dan membuat perusahaan bahan bakar fosil berbagi keuntungan rejeki nomplok.

Baca juga: Minyak turun 2,5 persen setelah penyulingan AS meningkatkan produksi

Baca juga: Minyak naik, kekhawatiran pasokan di seluruh dunia menjadi perhatian