Minyak jatuh tertekan pembatasan COVID China dan data pabrik melemah

Harga minyak turun lebih dari satu dolar AS di perdagangan Asia pada Senin sore, menyusul data aktivitas pabrik dari China yang lebih lemah dari perkiraan dan di tengah kekhawatiran meluasnya pembatasan COVID-19 akan membatasi permintaan.

Minyak mentah berjangka Brent tergelincir 1,10 dolar AS atau 1,2 persen, menjadi diperdagangkan di 94,67 dolar AS per barel pada pukul 07.10 GMT, setelah tergelincir 1,2 persen pada Jumat (28/10/2022).

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 1,07 dolar AS atau 1,2 persen, menjadi diperdagangkan pada 86,83 dolar AS per barel, setelah kehilangan 1,3 persen akhir pekan lalu.

Namun demikian, kontrak berjangka Brent dan WTI berada di jalur untuk kenaikan bulanan pertama mereka sejak Mei, masing-masing melonjak 7,7 persen dan 9,3 persen sejauh ini.

"Data indeks manajer pembelian (PMI) menambah kesedihan pasca pesta kongres China untuk pasar minyak. Tidak sulit untuk menarik garis lurus dari PMI yang lebih lemah ke kebijakan nol COVID China," kata Stephen Innes, Managing Partner Manajemen Aset SPI.

"Selama COVID nol tetap mengakar, itu akan terus menggagalkan kenaikan minyak."

Aktivitas pabrik di China, importir minyak mentah terbesar di dunia, turun secara tak terduga pada Oktober, sebuah survei resmi menunjukkan pada Senin, terbebani oleh melemahnya permintaan global dan pembatasan ketat COVID-19 yang memukul produksi.

Kota-kota di China menggandakan kebijakan nol COVID Beijing ketika wabah meluas, mengurangi harapan sebelumnya untuk rebound dalam permintaan.

Pembatasan ketat COVID-19 di China telah mengurangi aktivitas ekonomi dan bisnis, membatasi permintaan minyak. Impor minyak mentah China untuk tiga kuartal pertama tahun ini turun 4,3 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya - penurunan tahunan pertama untuk periode ini setidaknya sejak 2014 - karena pembatasan drastis COVID-19 Beijing memukul konsumsi bahan bakar dengan keras.

Risiko lebih lanjut terhadap permintaan minyak datang dari Eropa, kata analis CMC Markets Leon Li, karena benua itu "kemungkinan akan memasuki resesi musim dingin ini," katanya.

Zona euro kemungkinan memasuki resesi dengan aktivitas bisnis Oktober mengalami kontraksi tercepat dalam hampir dua tahun, menurut survei S&P Global, karena kenaikan biaya hidup membuat konsumen berhati-hati dan melemahkan permintaan.

Pembuat kebijakan Bank Sentral Eropa juga mendukung rencana untuk terus menaikkan suku bunga, sekalipun langkah itu mendorong blok tersebut ke dalam resesi dan memicu kebencian politik.

Sementara itu, beberapa produsen minyak terbesar AS pada Jumat (28/10/2022) mengisyaratkan bahwa peningkatan produktivitas dan volume di Permian Basin - ladang minyak serpih utama negara itu - sedang melambat.

Peringatan itu datang tepat ketika ekspor minyak AS naik ke sebuah rekor minggu lalu, sebagian mendorong harga WTI naik 3,4 persen. Brent naik 2,4 persen minggu lalu, mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut.

Dalam prospek yang akan dirilis pada Senin, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) diperkirakan akan tetap berpegang pada pandangan permintaan minyak yang meningkat untuk satu dekade lagi, meskipun meningkatnya penggunaan energi terbarukan dan mobil listrik, kata dua sumber OPEC.


Baca juga: Harga minyak awal pekan turun di tengah pembatasan COVID China
Baca juga: Harga minyak turun di Asia, dipicu perluasan pembatasan COVID di China
Baca juga: Minyak naik didorong permintaan kuat dan meredanya kekhawatiran resesi