Minyak Makan Merah Hanya Diproduksi Koperasi Petani Sawit, di Luar Itu Ilegal

Merdeka.com - Merdeka.com - Deputi Bidang Perkoperasian Kementerian Koperasi dan UKM Ahmad Zabadi mengatakan, minyak makan merah hanya diproduksi oleh koperasi petani kelapa sawit. Sebab, pihaknya telah menerima Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) minyak makan merah oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) dengan Nomor SNI 9098 tahun 2022.

"Kalau nanti ada produk-produk yang dihasilkan non koperasi bisa kita pastikan ilegal, karena ini khusus SNI nya minyak makan merah koperasi," kata Ahmad Zabadi saat Konferensi Pers Minyak Makan Merah, di Kantor Kementerian Koperasi dan UKM, Selasa (8/11).

Kemenkop UKM bersama PT Perkebunan Nusantara III (Persero) saat ini tengah membangun piloting pabrik di 3 lokasi, yakni, di Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Asahan, dan Kabupaten Langkat. Ketiga lokasi ini berada di Sumatera Utara.

Pembangunan pabrik minyak makan merah setelah Kementerian Koperasi dan UKM telah menerima Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk minyak makan merah. Selain telah mengantongi SNI minyak makan merah, Kementerian Koperasi dan UKM juga telah menerima Detail Engineering Design (DED) dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).

Adapun pembangunan pabrik Minyak makan merah di 3 lokasi tersebut ditargetkan akan selesai dan beroperasi pada Januari 2023. Nantinya, setelah pabrik beroperasi dan minyak makan merah sudah didistribusikan, maka penjualan yang berasal dari non koperasi dikategorikan ilegal.

"Saya garis bawahi SNI minyak makan merah dari Koperasi. Ke depan setelah berjalan produksi kita maka tentu saja tidak boleh diluar kelapa sawit ini memiliki produk yang sama, ini khusus untuk koperasi petani sawit Indonesia," jelasnya.

Untuk harga jual minyak makan merah dibanderol Rp 9.000 – Rp 12.000 per liter. Penentuan harga ini berdasarkan jarak pabrik dengan hutan kelapa sawit sangat dekat, sehingga biaya logistik atau transportasi dapat ditekan.

"Artinya kalau didasarkan lebih jauh lebih murah kan minyak goreng masih ada subsidi, sehingga kita harapkan jadi pilihan bagi masyarakat nanti karena bisa dijangkau dengan harga yang relatif murah," pungkasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [azz]