Minyak naik karena pelemahan dolar imbangi kekhawatiran Covid China

Harga minyak naik di sesi Asia pada Selasa sore, memangkas kerugian dari sesi sebelumnya karena dolar AS yang lebih lemah mengimbangi perluasan pembatasan COVID-19 di China yang telah memicu kekhawatiran perlambatan permintaan bahan bakar di konsumen minyak terbesar kedua di dunia itu.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari naik 73 sen atau 0,8 persen, menjadi diperdagangkan di 93,54 dolar AS per barel pada pukul 04.06 GMT. Kontrak Desember berakhir pada Senin (31/10/2022) di 94,83 dolar AS per barel, turun 1,0 persen.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS terangkat 58 sen atau 0,7 persen, menjadi diperdagangkan di 87,11 dolar AS per barel, setelah merosot 1,6 persen di sesi sebelumnya.

Kontrak acuan Brent dan WTI keduanya mengakhiri Oktober lebih tinggi, kenaikan bulanan pertama mereka sejak Mei, setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya termasuk Rusia mengatakan mereka akan memangkas produksi sebesar 2 juta barel per hari (bph).

"Harga minyak memangkas kerugian awal karena dolar AS melemah, dengan pasar ekuitas global utama naik di sesi Asia hari ini menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve AS pekan ini," kata analis CMC Markets Tina Teng.

Greenback mundur pada Selasa dari tertinggi satu minggu terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, karena para pedagang mempertimbangkan pesan apa yang akan disampaikan pejabat Fed pada pertemuan kebijakan Rabu (2/11/2022).

Dolar yang lebih lemah membuat minyak lebih murah bagi pemegang mata uang lain dan biasanya mencerminkan selera investor yang lebih besar terhadap risiko.

"Pemotongan produksi minyak OPEC+ mendatang dan rekor data ekspor minyak AS juga mendukung harga minyak secara fundamental," kata Teng.

OPEC menaikkan perkiraannya untuk permintaan minyak dunia dalam jangka menengah dan panjang pada Senin (31/10/2022), mengatakan bahwa investasi 12,1 triliun dolar AS diperlukan untuk memenuhi permintaan ini meskipun ada transisi ke sumber energi terbarukan.

Pembatasan COVID-19 di China memaksa penutupan sementara resor Disney Shanghai pada Senin (31/10/2022) dan telah memicu kekhawatiran permintaan bahan bakar yang lebih rendah di importir minyak mentah utama dunia karena tetap dengan kebijakan nol-COVID-nya.

Pembatasan pandemi yang ketat telah menyebabkan aktivitas pabrik China turun pada Oktober dan memotong impornya dari Jepang dan Korea Selatan.

Stephen Innes, Managing Partner di SPI Asset Management mengatakan bahwa "pasar telah mencerna rangkaian penguncian China terbaru".

"Semakin jauh kita melangkah ke November, semakin dekat kita dengan efek embargo minyak UE-Rusia, yang akan berdampak material pada pasokan Rusia dan perluasan pasokan global," kata Innes.

Menekan harga minyak, produksi minyak AS naik menjadi hampir 12 juta barel per hari (bph) pada Agustus, tertinggi sejak dimulainya pandemi COVID-19, bahkan ketika perusahaan minyak serpih mengatakan mereka tidak mengharapkan produksi meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Itu kemungkinan akan menyebabkan kenaikan stok minyak mentah AS dalam pekan hingga 28 Oktober sekitar 300.000 barel, sementara persediaan sulingan dan bensin diperkirakan turun, jajak pendapat awal Reuters menunjukkan.

Jajak pendapat itu dilakukan menjelang laporan dari American Petroleum Institute yang akan dirilis pada Selasa pukul 16.30 waktu setempat (20.30 GMT) dan Badan Informasi Energi AS dijadwalkan pada Rabu (2/11/2022) pukul 10.30 waktu setempat (14.30 GMT).

Baca juga: Wall Street akhiri bulan kuat dengan lebih rendah, fokus pertemuan Fed
Baca juga: Emas tergelincir 4,10 dolar AS tertekan "greenback" yang lebih kuat
Baca juga: Dolar mundur di tengah sentimen risiko lebih baik jelang pertemuan Fed