Minyak naik tipis di Asia ditopang sinyal permintaan BBM AS yang kuat

Harga minyak naik tipis di awal perdagangan Asia pada Rabu, karena data industri menunjukkan stok bahan bakar AS turun lebih dari yang diharapkan, pulih sedikit dari penurunan 5,0 persen pada Selasa (30/8/2022) di tengah kekhawatiran permintaan bahan bakar akan melemah karena China meningkatkan pembatasan COVID-19 dan kenaikan suku bunga bank-ban sentral.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 64 sen menjadi diperdagangkan di 92,28 dolar AS per barel pada pukul 00.12 GMT, setelah merosot 5,37 dolar AS di sesi sebelumnya didorong oleh kekhawatiran resesi.

Minyak mentah berjangka Brent terangkat 48 sen atau 0,5 persen, menjadi diperdagangkan di 99,79 dolar AS per barel, memangkas kerugian Selasa (30/8/2022) sebesar 5,78 dolar AS. Kontrak Oktober berakhir pada Rabu. Kontrak November yang lebih aktif naik 61 sen atau 0,6 persen, menjadi 98,45 dolar AS per barel.

Data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan bensin turun sekitar 3,4 juta barel, sementara stok sulingan, yang meliputi solar dan bahan bakar jet, turun sekitar 1,7 juta barel untuk pekan yang berakhir 26 Agustus.

Penarikan persediaan bensin hampir tiga kali lipat dari penurunan 1,2 juta barel yang diperkirakan rata-rata oleh delapan analis yang disurvei oleh Reuters. Untuk persediaan sulingan mereka memperkirakan penurunan sekitar 1 juta barel.

Namun data API menunjukkan stok minyak mentah naik sekitar 593.000 barel, dibandingkan perkiraan analis untuk penurunan sekitar 1,5 juta barel.

Kenaikan harga dibatasi oleh kekhawatiran bahwa beberapa kota terbesar China - dari Shenzhen hingga Dalian - memberlakukan penguncian dan penutupan bisnis untuk mengekang COVID-19 pada saat ekonomi terbesar kedua di dunia itu sudah mengalami pertumbuhan yang lemah.

"Memburuknya wabah COVID-19 di China juga mempengaruhi sentimen," kata analis ANZ Research dalam sebuah catatan.

Di sisi penawaran, ekspor minyak dari Irak tidak terpengaruh oleh kekerasan terburuk yang terlihat di Baghdad selama bertahun-tahun, tiga sumber mengatakan kepada Reuters. Bentrokan mereda pada Selasa (30/8/2022) setelah ulama kuat Moqtada al-Sadr memerintahkan pengikutnya untuk mengakhiri protes mereka.


Baca juga: Minyak turun tajam terseret kekhawatiran permintaan dan ekspor Irak
Baca juga: Ekonom sarankan penetapan harga BBM harus mengacu harga minyak global
Baca juga: Minyak turun tipis, inflasi diperkirakan berdampak pada permintaan BBM