Minyak oles Bokashi dari Bali didaftarkan di empat negara

Minyak oles Bokashi sebagai salah satu minyak herbal asli Bali yang diracik di Desa Bengkel, Kabupaten Buleleng, sejak 25 tahun silam itu sudah berhasil didaftarkan di empat negara.

"Merek Bokashi sudah berhasil didaftarkan di empat negara, yakni Indonesia, Thailand, Singapura dan Malaysia," kata Direktur Utama PT Karya Pak Oles Tokcer Dr Ir Gede Ngurah Wididana MAgr di Denpasar, Kamis.

Selanjutnya, ujar pria yang biasa disapa Pak Oles itu, juga menyusul akan didaftarkan ke sejumlah negara lainnya seperti di China, Jepang, Eropa, Amerika Serikat dan Australia.

"Sebuah produk yang bagus, berkualitas terbaik, dimanapun proses produksinya dibuat akan cepat dikenal dan dimanfaatkan masyarakat luas, seperti minyak oles Bokashi yang telah menembus milenial dan mendunia," ucap Pak Oles.

Demikian pula merek sebagai karya kreatif untuk kekayaan intelektual tak benda berfungsi untuk menggaransikan produk, memberikan jaminan kualitas, legalitas dan kebanggaan konsumen.

Minyak oles Bokashi yang telah diracik sejak tahun 1997, diproses dengan teknologi Effective Microorganisme (EM) dari Jepang mempunyai keunggulan anti virus, anti jamur dan anti bakteri dengan multi khaisat sebagai obat keluarga.

Alumnus Program Pascasarjana Faculty Agriculture University of The Ryukyus Okinawa, Jepang ini mendapat inspirasi untuk menciptakan produk minyak Bokashi dari Lengis Arak Nyuh yang ditermukan oleh Dadong Bandung (Nenek Pak Oles) semasa hidupnya selama 100 tahun antara tahun 1880-1980.

Minyak Bokashi dapat membantu meringankan pegal linu, meredakan bisul, gatal dan bengkak akibat gigitan serangga serta sebagai campuran mandi rempah untuk mengurangi bau tidak sedap, yang sudah dimanfaatkan dan dikenal secara meluas di pasaran lokal Bali, nasional dan mancanegara.

"Minyak oles Bokashi juga cocok sebagai minyak pijat bagi yang sering mengalami kaku otot dan pegal linu karena aktivitas berat dalam bekerja. Minyak Bokashi kaya manfaat berkat di dalamnya terkandung beragam ekstrak tanaman berkhasiat obat warisan nusantara," ujarnya.

Hidup ibarat perubahan

Pak Oles yang mempunyai wawasan dan pandangan jauh ke depan itu mengibaratkan hidup adalah perubahan, karena semua yang ada di dunia ini pasti berubah. Bagi mereka yang tidak bisa mengikuti perubahan akan ditinggalkan atau punah.

Perubahan bisa terjadi secara cepat atau lambat. Perubahan yang cepat menyebabkan kita terkejut, perubahan yang lambat menyebabkan kita terlena.

Lengis Arak Nyuh yang ditemukan oleh Dadong Bandung , sebagai ramuan minyak fermentasi tanaman obat yang difermentasi secara alami di atas tungku dapur, mengalami perubahan yang sangat lambat sampai dengan tahun 1997 (hampir mendekati 100 tahun) untuk berubah (bertransformasi) menjadi Minyak Oles Bokashi.

"Seandainya tidak ada usaha untuk mengikuti perubahan zaman, maka ada kemungkinan Lengis Arak Nyuh dilupakan atau ditinggalkan oleh masyarakat," ujarnya.

Perhatian tentang tanaman obat berdasarkan usada Bali baru dimulai oleh Pak Oles sejak 1990, setelah menyelesaikan studi di Jepang, saat berkunjung ke Gedong Kertya di Singaraja.

Selanjutnya membaca banyak lontar usada yang sudah dialih-aksarakan menjadi bahasa huruf latin, sehingga mudah dimengerti. Dari informasi berbagai jenis tanaman obat itulah Pak Oles mulai mengoleksi jenis-jenis tanaman obat yang ada di masyarakat Bali.

Akhirnya baru meneliti tentang Lengis Arak Nyuh yang ditemukan oleh Dadong Bandung dan mentransformasikannya dengan menambah teknologi fermentasi Effective Microorganisms (EM) menjadi produk baru yang disebut Minyak Bokashi.

Minyak ini diluncurkan di Desa Bengkel pada 1997 sampai sekarang mencapai 25 tahun menjadi semakin dikenal dan diminati, ditambah lagi dengan kecepatan informasi melalui teknologi komputer dan internet, Minyak Bokashi semakin dikenal di lintas negara, melalui dunia maya. https://linktr.ee/pakolescom.

Baca juga: BPOM: Produksi obat berbahan alam potensi besar untuk dikembangkan
Baca juga: Guru Besar UI: Tanaman herbal berpotensi jadi obat terapi COVID-19
Baca juga: BRIN dorong intensifikasi riset pengembangan fitofarmaka