Minyak "rebound" dari turun tajam karena kekhawatiran permintaan China

·Bacaan 1 menit

Harga minyak dibuka sedikit lebih tinggi di perdagangan Asia pada Selasa pagi, setelah jatuh tajam pada sesi sebelumnya di tengah kekhawatiran bahwa penguncian COVID-19 yang berlanjut di China dan karena dolar AS naik ke level tertinggi dua tahun.

Minyak mentah berjangka Brent terangkat 25 sen atau 0,2 persen, menjadi diperdagangkan di 102,57 dolar AS per barel pada pukul 00.02 GMT. Sementara itu, kontrak minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 16 sen atau 0,2 persen, menjadi diperdagangkan di 98,70 dolar AS per barel.

Kedua kontrak telah turun sekitar 4,0 persen pada Senin (25/4/2022), dengan Brent jatuh sebanyak tujuh dolar AS per barel di sesi tersebut dan WTI merosot sekitar enam dolar AS per barel.

Di China, penguncian untuk melawan COVID di Shanghai telah berlangsung hingga pekan keempat. Sementara itu pesanan untuk pengujian massal, termasuk di distrik perbelanjaan terbesar Beijing, telah memicu kekhawatiran penguncian gaya Shanghai lainnya.

"Pukulan dari penguncian China lebih dari satu juta barel per hari dan pengujian 12 distrik selama lima hari ke depan akan menentukan langkah besar berikutnya untuk harga minyak mentah," tulis Edward Moya, analis pasar senior untuk OANDA dalam sebuah catatan.

Dolar AS juga mencapai tertinggi dua tahun pada Senin (25/4/2022), membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

"Ketakutan pasokan bukanlah fokus utama bagi pedagang energi, dan sekarang Anda memiliki dolar yang melonjak yang menambah tekanan ekstra di semua komoditas," kata Edward Moya dari OANDA.

Baca juga: Harga minyak terus turun, lockdown Shanghai pukul prospek permintaan
Baca juga: Minyak catat kerugian mingguan 5 persen karena khawatirkan pertumbuhan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel